BEDA ANTARA SKRIPSI, TESIS DAN DESERTASI

Pengantar:

Bapak ibu pengunjung blog menulis bersama aswir!

Saya agak heran ketika menemukan cover karya tulis mahasiswa S1 disana tertulis Thesis. Keheranan saya karena menurut kelaziman tugas akhir mahasiswa S1 adalah skripsi. Ketika saya tanyakan pada salah seorang dosen dari mahasiswa tersebut dia menjawab, “Sekarang ini untuk S1 tidak harus skripsi, thesis dan desertasi pun boleh, tergantung kedalamannya”. Saya meragukan keabsahan jawaban ini. Karena keraguan inilah maka semuat artikel ini yang saya ambil lansung dari Agung Wahyudi Biantoro, Metode Penelitian Ekonomi Islam, 2009, dimuat oleh wsetiabudi.wordpress.com. Pada pak Agung saya mohon izin memuat ini agar teman-teman yang berkecimpung dalam karya ilmiah dapat penjelasan yang benar

Secara akademik SKRIPSI, TESIS DAN DISERTASI memiliki persamaan yaitu merupakan dokumen tertulis yang merupakan tugas akhir para mahasiswa, mengikuti kaidah penulisan yang baku dan sistematis, dan menggunakan metode ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan di depan dosen pembimbing dan penguji. Skripsi adalah Tugas akhir jenjang sarjana (S1), Tesis adalah Tugas akhir jenjang Magister (S2) sedangkan Disertasi (S3) merupakan Tugas akhir jenjang Doktor (S3, jenjang tertinggi akademik). Skripsi adalah tugas akhir calon sarjana dengan level sebagai peneliti pemula atau pembelajaran menjadi peneliti, dimana bobot penelitian dan ketajaman analisis paling rendah dibandingkan dengan Tesis atau Disertasi.

Namun demikian banyak pula mahasiswa yang belum mengerti perbedaan di antara ketiganya. Pada Skripsi, kajian deskriptif atau paparan lebih dominan dibandingkan dengan kajian analitis. Disamping itu pada skripsi jumlah rumusan masalah biasanya sekitar 1 atau 2 rumusan masalah, sedangkan tesis biasanya minimal 3 rumusan masalah. Kemudian untuk doktor Lebih dari 3 rumusan masalah dengan bobot ilmiah yang paling tinggi dibandingkan yang lain (Lihat Tabel 1).

Kemudian pada jenjang pasca sarjana (S2, S3) kerap pula terjadi kebingungan ketika mahasiswa akan melakukan riset atau menulis karya ilmiah untuk tugas akhir mereka. Kebingungan biasanya muncul ketika dosen pembimbing atau supervisor atau promotor mereka mulai menanyakan, dimana posisi penelitian mereka dalam kerangka state of the art dari studi atau disiplin yang mereka geluti.

Kebingungan juga terjadi pada sebagian mahasiswa doktoral, ketika supervisor atau promotornya menanyakan hal yang sama. Mungkin kita heran, bagaimana bisa seorang kandidat doktor tidak bisa membedakan tesis dan disertasi ? Tapi ternyata memang demikian adanya, masih banyak kandidat doktor yang belum memahami apa tujuan atau filosofi penyelenggaraan pendidikan tinggi, apa filosofi sarjana, pendidikan diploma/vocational, S-2 (master/magister) dan apa filosofi pendidikan doktoral.

Maka tak heran, apabila banyak orang melanjutkan pendidikan formalnya baik ke jenjang magister maupun doktor, sementara mereka tidak tahu untuk apa sesungguhnya mereka melakukan itu. Katakanlah, seorang pejabat di daerah, misalnya saja seorang bupati atau walikota, atau anggota DPD, Camat atau Lurah, kemudian mereka menempuh pendidikan S-3. Maka ketika seseorang ingin menentukan topik disertasi, maka ia harus benar-benar paham state of the art dari disiplin ilmu yang ia geluti, agar dengan disertasinya nanti ia dapat memberi kontribusi bagi pengembangan ilmunya tersebut, karena memang demikianlah seyogianya tugas seorang kandidat doktor. Sebagai konsekuensinya tentu ia harus membaca secara lengkap, text book dasar dan advance tentang disiplin ilmunya, serta membaca ratusan jurnal terbaru tentang disiplin ilmunya, sehingga ia memiliki peta yang jelas dan benar tentang perkembangan disiplin ilmunya.

Bagi mereka, karena pemahamannya yang belum benar tentang filosofi penyelenggaraan pendidikan pascasarjana, membuat disertasi tidak ubahnya membuat skripsi sebagaimana yang pernah mereka lakukan dahulu (mungkin sudah puluhan atau belasan tahun yang lalu). Maka tak heran apabila sangat sedikit karya ilmiah ilmuwan Indonesia yang dijadikan rujukan oleh komunitas ilmuwan dunia.

Tulisan ini akan memberikan sedikit pemahaman tentang apa sebenarnya tesis dan disertasi itu ? sehingga apabila seseorang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana, tidak bersikap asal-asalan atau “tanggung”. Dengan memahami apa itu tesis dan disertasi, serta apa perbedaannya dengan skripsi maka diharapkan akan lahir tesis-tesis atau disertasi-disertasi dari para pelajar Indonesia yang lebih mencerahkan lagi.

Perbedaan Tesis & Disertasi

Berikut adalah pendapat mengenai perbedaan tesis dan disertasi. Menurut salah satu pendapat Master’s Thesis adalah : You do a thorough research on a particular topic and present your discourse depending on what type of information you have collected on the subject with your views on it. Sementara PhD Thesis Dissertation: It requires your original research and adds something new to the existing literature. It usually takes many years to complete it.

Pendapat lain adalah bahwa kedua istilah itu dapat digunakan atau menggantikan satu dengan yang lainnya ( interchangeable.) Both are written discourses on a given subject. Thesis implies that original research is involved. Dissertation implies that you have looked into something and are setting down what you have found and are perhaps including your thoughts on it. Thus a Thesis is what you will write to obtain a higher degree, but a dissertation is more likely to be a small part of a first degree.

Yang lainnya: Dissertation and thesis are both used interchangeably. But they are not the same. For dissertations, one just has to collect matter from different reference materials and include ones opinions and arguments on it. But a thesis is much more than that. A thesis needs to be original research that one undertakes, though one is free to refer materials for that too. This differentiation is used by universities around the world. In the US, a dissertation is the submission for the entire course while the thesis is for applying to masters program. In the UK, a thesis is for applying to M.Phil or Ph.D/doctoral degree while the dissertation is for some undergraduate project reports. Both types of academia based submissions require the students to extract data from all the reference material they have gathered and organize them into a neatly typed report. The typing work may take up a lot of time, if the student chooses to do it by himself. But to save time and utilize the time saved for more of research, it is advisable for students to go for Dissertation Transcription.

Terakhir: If you want to know more about dissertations and theses, you chose the right site. This article tells you about the main difference between a dissertation and thesis, which you should take into consideration.

Dissertations and theses are two types of academic writings, which should be performed by students in order to get a degree, and here is one main difference between a dissertation and thesis. A dissertation is a work, which should be performed in order to get a doctoral degree, and a thesis is a kind of work, which should be written by a student in order to get a master’s degree.

Different types of degrees require different academic writings: dissertations and theses are just for this. You should clearly understand the difference before you start writing a dissertation or thesis.

Dissertations and theses also differ in their manner of preparation. When you write your thesis project, it is possible to use someone’s research – you may study it and prove with some theoretical data, and as for a dissertation, it is necessary to make your own research. Only your research, based on your background knowledge, can be appropriate. So, try to be careful and attentive.

As you can see, it is impossible to say that a dissertation and thesis are synonyms from all sides. We can even say that one of these two notions stands a bit higher, it is a dissertation, and a thesis takes the lower rang.

The structure of dissertations and theses is the same: introductory, literary review, main body, conclusion, bibliography, and appendix. Well, may be it is necessary to put more efforts into writing a good dissertation, and a thesis can be an additional variant, which will take not much efforts, but still give you a chance to get a degree.

It is up to you what you choose: dissertation or thesis writing, now you know the differences and you are ready to make a choice.

Jadi dari kutipan diatas terlihat bahwa tesis adalah penelitian mendalam, yang sungguh-sungguh dilakukan dengan proses yang berasal dari berbagai informasi dan data yang dikumpulkan. Tesis berangkat dari suatu masalah dan bagaimana kita menyelesaikan suatu masalah tersebut dengan menggunakan pandangan dan analisis mendalam kita berdasarkan ilmu, teori, puluhan jurnal yang kita pahami dan berbagai data yang kita miliki. Sedangkan Disertasi lebih dari sekedar penelitian mendalam. Disertasi membutuhkan originalitas ide dan melakukan penelitian sesuatu yang baru, berdasarkan puluhan bahkan ratusan makalah dan jurnal yang telah dibaca dan dipahami. Disertasi bukan belajar penelitian, bukan hanya mendalami penelitian, tetapi lebih dari itu, menciptakan suatu ide yang baru, menciptakan atau mengembangkan teori yang baru dalam rangka melakukan sesuatu yang bermanfaat guna mensejahterakan umat manusia dan ini butuh waktu bertahun-tahun. Disertasi sebaiknya dilakukan berasal dari pengembangan tesis yang telah ia lakukan sebelumnya.

Berikut adalah table yang menunjukkan perbedaan antara Skripsi, Tesis dan Disertasi, sehingga lebih memudahkan pembaca untuk membaca “peta kekuatan” ketiga jenis tugas akhir ini.

Tabel 1. Perbedaan Umum antara Skripsi, Tesis dan Disertasi

No

Aspek

Skripsi

Tesis

Disertasi

1

Jenjang

S1

S2

S3 (tertinggi)

2

Permasalahan

Dapat diangkat dari pengalaman empirik, tidak mendalam

Diangkat dari pengalaman empirik, dan teoritik, bersifat mendalam

Diangkat dari kajian teoritik yang didukung fakta empirik, bersifat sangat mendalam

3

Kemandirian penulis

60% peran penulis, 40% pembimbing

80% peran penulis, 20% pembimbing

90% peran penulis, 10% pembimbing

4

Bobot Ilmiah

Rendah – sedang

Sedang – tinggi. Pendalaman / pengembangan terhadap teori dan penelitian yang ada

Tinggi, Tertinggi dibidang akademik. Diwajibkan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan

5

Pemaparan

Dominan deskriptif

Deskriptif dan Analitis

Dominan analitis

6

Model Analisis

Rendah – sedang

Sedang – tinggi

Tinggi

7

Jumlah rumusan masalah

Sekitar 1-2

Minimal 3

Lebih dari 3

8

Metode / Uji statistik

Biasanya memakai uji Kualitatif / Uji deskriptif, Uji statistik parametrik (uji 1 pihak, 2 pihak), atau Statistik non parametrik (test binomial, Chi kuadrat, run test), uji hipotesis komparatif, uji hipotesis asosiatif, Korelasi, Regresi, Uji beda, Uji Chi Square, dll

Biasanya memakai uji Kualitatif lanjut / regresi ganda, atau korelasi ganda, mulitivariate, multivariate lanjutan (regresi dummy, data panel, persamaan simultan, regresi logistic, Log linier analisis, ekonometrika static & dinamik, time series ekonometrik) Path analysis, SEM

Sama dengan tesis dengan metode lebih kompleks, berbobot yang bertujuan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan

9

Jenjang Pembimbing / Penguji

Minimal Magister

Minimal Doktor dan Magister yang berpengalaman

Minimal Profesor dan Doktor yang berpengalaman

10

Orisinalitas penelitian

Bisa replika penelitian orang lain, tempat kasus berbeda

Mengutamakan orisinalitas

Harus orisinil

11

Penemuan hal-hal yang baru

Tidak harus

Diutamakan

Diharuskan

12

Publikasi hasil penelitian

Kampus Internal dan disarankan nasional

Minimal Nasional

Nasional dan Internasional

13

Jumlah rujukan / daftar pustaka

Minimal 20

Minimal 40

Minimal 60

14

Metode / Program statistik yang biasa digunakan

Kualitatif / Manual, Excel, SPSS dll

Kualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dll

Kualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dll

Sumber : Agung Wahyudi Biantoro, Metode Penelitian Ekonomi Islam, 2009, diolah

Demikian perbedaan skripsi, tesis dan Disertasi dari MediaPlus Consulting. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amieen.

(Admin, Sumber : wsetiabudi.wordpress.com, diolah)

Read More »»
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cara Menulis Berita

Oleh: AnneAhira.com

Sekarang bukan zaman kabar burung lagi. Rumor dan desas-desus bukan lagi sumber yang dipercaya. Sekarang zamannya internet, teknologi IT dengan akses super cepat yang paling di andalkan. Berita berbasis teknologi IT merupakan harapan masa depan. Peristiwa besar yang terjadi lima menit lalu bisa langsung dibaca oleh seluruh dunia dalam waktu cepat.

Berita atau news merupakan kebutuhan utama di masyarakat modern. Melihat fakta ini, setiap orang pun dimungkinkan bisa menjadi kontributor penulis berita.

Cara menulis berita bukanlah ilmu yang sulit dipelajari orang awam. Anda pun dapat mempelajari teknik penulisan berita kapan pun Anda mau.

Cara Menulis Berita Sederhana

Cara menulis berita yang baik dan benar harus mengikuti rumus 5W+1H (What, When, Who, Where, Way, How ). Berikut ini adalah penjelasan mudah tentang cara menulis berita.

  • What atau Apa

Artinya, Anda harus menulis menyangkut objek berita dan jenis berita itu. Misalnya, apakah kategori berita kriminal, bisnis, politik, ataukah berita olah raga.

  • When atau Kapan

Cantumkan juga keterangan waktu yang jelas peristiwa itu terjadi. Misalnya, Minggu ( 9/10 ) pukul 22.30, terjadi kebakaran di pasar yang menghanguskan sebagian komplek pasar.

Nah, keterangan hari tanggal dan jam peristiwa terjadi harus dicantumkan pada draft berita yang Anda susun.

  • Who atau Siapa

Setiap ada peristiwa, pasti ada subjek atau pelaku yang menggerakkan peristiwa itu terjadi. Jangan sampai Anda menulis berita tanpa mencantumkan pelakunya atau siapa-siapa yang berperan dan hadir pada sebuah kejadian. Bisa-bisa Anda membuat kabar bohong.

Cara menyusun berita yang baik adalah mencantumkan pelaku di draft berita Anda. Contohnya, Wakil Presiden Boediono memimpin rapat kabinet terbatas di Istana yang dihadiri menteri yang membawahi Departemen.

  • Where atau Di mana

Untuk menghindari rumor dan desas-desus, sebaiknya Anda mencantumkan tempat peristiwa itu terjadi atau berlangsung. Keterangan tempat menambah akurasi berita yang Anda buat. Misalnya, telah terjadi pembunuhan berantai di kebon tebu yang berada di desa Masai, Kecamatan Beranda, Kabupaten Senarai. Diperkirakan pelakunya adalah aparat desa setempat.

  • Why atau Kenapa

Sesuai peribahasa, tak ada asap kalau tak ada api. Tak ada peristiwa kalau tak ada penyebabnya. Di sinilah seni membuat berita. Anda harus berimbang dalam menyajikan berita. Carilah narasumber berita lebih dari satu agar kualitas berita Anda berimbang.

  • How atau Bagaimana

Maksudnya, Anda harus tahu pasti bagaimana berita yang diliput bisa terjadi. Bagaimana dampaknya bagi subjek setelah peristiwa itu terjadi. Misalnya, illegal loging yang merajalela menyebabkan banjir bandang di Wasior hingga menelan korban jiwa sebanyak 180 orang tewas dan 10 orang hilang.

Selain mematuhi unsur 5W+1H, Anda harus bisa menggunakan bahasa yang enak dibaca dan dipahami pembaca. Pilihlah kosa kata yang tepat pada jenis berita yang Anda susun.

Dalam menulis berita, posisikan diri Anda sebagai pembaca awam. Setelah berita Anda buat, periksa kembali susunan kata, hindari kesalahan ketik, pemakaian tanda baca, dan sebagainya.

Selalu menambah wawasan dan menambah koneksi agar Anda bisa memasuki atau menyentuh narasumber untuk wawancara. Selamat mencoba!

Read More »»
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kerangka Karangan Permudah Menulis Karangan!

Oleh: AnneAhira.com

Karangan merupakan tulisan yang ditulis oleh pengarang yang mempunyai beberapa bentuk. Ada karangan yang berbentuk narasi dan ada juga yang berbentuk argumentasi.

Karangan narasi merupakan karangan yang menceritakan objek pengamatan, yang tujuannya adalah menghimpun fakta. Karangan argumentasi bertujuan memberikan argumen bahwa apa yang ditulis oleh penulis dapat menyakinkan pembaca dan membujuk pembaca agar mengikuti apa yang ditulis oleh penulisnya melalui data dan fakta. Selain berbentuk narasi dan argumentasi, karangan ada pula yang berbntuk paparan dan deskripsi.

Menulis Karangan harus runtut dan teratur. Jika diibaratkan sebuah abjad Arab, maka menulis karangan harus dimulai dari A dan diakhiri dengan Z. Keruntutan dalam menulis karangan ini merupakan kesepakatan bersama dalam International Standardization Organization (ISO). Bila karangan tidak mengikuti kaidah ini, terutama tulisan ilmiah, maka akan dianggap tidak valid.

Bagian dari karangan sesuai dengan standar ISO terdiri dari pendahuluan, isi karangan, dan bagian penutup karangan.


1. Pendahuluan

Bagian pendahuluan memuat latar belakang karangan yang ingin disampaikan, alasan pemilihan tema, dan sistematika penulisan.

2. Isi Karangan

Pada bagian isi, penulis menyusun gagasan-gagasan karangan menjadi beberaapa bagian atau bab dengan memperhatikan ketersambungan antar paragraf dan gaya bahasa yang enak dibaca oleh pembaca.

3. Penutup Karangan

Pada bagian akhir karangan penulis memberikan kesimpulan. Penulis juga diperkenankan untuk memberikan arahan kepada pembaca untuk meneruskan karangan yang belum terselesaikan maupun memberikan pengarahan untuk meneruskan menulis karangan ke tema lain yang relevan dengan karangan penulis.


Manfaat Kerangka Karangan

Proses menulis karangan biasanya menghadapi masalah seperti penulis kebingungan apa yang akan ditulis, tulisan sudah sampai mana, dan apa saja yang belum ditulis. Agar lebih memudahkan menulis karangan sebelum menulis karangan, seorang penulis sebaiknya membuat kerangka karangan. Adapun manfaat pembuatan kerangka karangan ini adalah:

  • Karangan akan dapat tersusun secara teratur. Penulis akan dapat membuat karangan dengan alur yang runtut. Gagasan utama karangan akan diletakkan di awal karangan, sementara pengembangan gagasan karangan akan diletakkan dibawahnya.
  • Tidak akan terjadi replikasi atau duplikasi gagasan. Dengan adanya kerangka karangan, proses menulis karangan akan menjadi lebih mudah. Seorang penulis akan tahu apa yang sudah dituliskan dalam karangan dan apa saja yang belum.
  • Bila sudah menjadi karangan, pembaca akan mudah menentukan apa yang ingin disampiakan oleh penulis sehingga memudahkan pembaca untuk menilai karangan tersebut.

Jadi, mudah bukan ? Bila Anda ingin menulis karangan. Cukup mengikuti prosedur yang tertuang dalam ISO, membuat kerangka karangan, dan langkah selanjutnya selamat berlatih. Semoga sukses (*)

Read More »»
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS