RSS

PENGEMBANGAN KARAKTER KERJA BERBASIS INDUSTRI PADA SISWA SMK MELALUI PENDEKATAN DEMAND DRIVEN

Siti Mariah

Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak

Pengembangan karakter kerja siswa SMK merupakan hal yang urgen dilakukan guna mempersiapkan lulusannya menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Tujuan penelitian ini adalah: mengidentifikasi karakter kerja yang dibutuhkan industri melalui pendekatan demand driven, dan menemukan model pengembangan karakter kerja siswa SMK sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengikuti langkah: pra-pengembangan; pengembangan model; dan penerapan model. Validasi instrumen menggunakan analisis faktor konfirmatori (CFA) dan reliabilitas digunakan Cronbach Alpha. Kecocokan model diuji dengan analisis Structural Equation Modelling (SEM) menggunakan software LISREL 8.71.

Hasil penelitian diperoleh sebagai berikut: teridentifikasi karakter kerja yang dibutuhkan industri, ditemukan model pengembangan karakter kerja yang diintegrasikan dalam pembelajaran praktik di SMK, melalui 5 tahap, yaitu: komitmen kerja, etos kerja, apresiasi kerja, pembiasaan kerja, dan refleksi. Model tepat (fit) digunakan untuk membangun karakter kerja siswa SMK yang ditunjukkan dengan nilai p-value 0.161 > 0.05 dan hasil goodness of fit index; RMSEA = 0.034 < 0.08, CFI = 0.990 > 0.90, and AGFI = 0.847 < 0.95 yang berarti model mendapat dukungan secara empiris. Dari hasil penelitian di atas, direkomendasikan sebagai berikut: Pertama, karakter kerja siswa SMK perlu dikembangkan berdasarkan demand tenaga kerja sesuai bidang keahliannya; Kedua, pengembangan karakter kerja yang efektif dan efisien diintegrasikan dalam pembelajaran praktik.

Character Building of Work-Based Industries on Vocational High School (VHS) Students with Demand-Driven Approach

Abstract

Vocational high school (VHS) students character building is one of the urgent need in preparing graduates to face the real world of work. The purpose of this study are to: identify the character of work required of the industry through demand-driven approach, and find out model of character development of vocational students to work in accordance with the needs of world of work.

This research is the development of the following steps: (1) pre-development, (2) model development, and (3) application of the model. Validation of the instrument using confirmatory factor analysis (CFA) and Cronbach Alpha reliability is used. Suitability model was tested with analysis of Structural Equation Modelling (SEM) using LISREL 8.71 software.

The study has generated the following result: the identified character of work required by the industry as graduateof vocational high school. This also has found the character buiding model that integrated in practical learning, through the 5 stages, ie. work commitment, work ethic, appreciation, work culture, and reflection. Model (fit) is used to build a work character at vocational students who indicated to the value p-value 0.161 > 0.05, and the result of goodness of fit index; RMSEA = 0.034 < 0.08, CFI = 0.990 > 0.90, and AGFI = 0.847 < 0.95 showing that the strategy has empirical support and fits to use in VHS. It is recommended as follows: First, the character of vocational students needs to be developed in accordance with the needs and characteristics of the job in the world of work; Second, the character building of effective and efficient integrated in practical learning.


Key words: character, work, industry

1. Pendahuluan

Esensi dari tujuan pendidikan kejuruan tingkat menengah (SMK) adalah mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu (Depdikbud, 2004: 1). SMK memegang peranan penting dalam penyediaan tenaga kerja, karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga kerja terdidik dan terlatih. Namun tenaga kerja yang dihasilkan sampai saat ini masih belum mampu menjawab permasalahan kebutuhan tenaga kerja yang memenuhi kualifikasi yang disyaratkan dunia kerja. Peluang kerja yang ditawarkan pasar kerja masih banyak yang belum terisi, karena lulusan pendidikan yang ada tidak terserap pasar kerja (Dedi S, 2002: 612).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka pengangguran pada Agustus 2008 berdasarkan pendidikan didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yakni 17,26 persen, disusul tamatan SMA (Sekolah Menengah Atas) 14,31 persen, dan lulusan Perguruan Tinggi (PT) 12,59 persen. Namun di sisi lain banyak perusahaan yang mengalami permasalahan kesulitan mendapatkan tenaga kerja, padahal masalah pengangguran di Indonesia menjadi wacana nasional. Hal ini menggambarkan adanya kesenjangan antara demand pasar kerja dengan supply dan ketersediaan tenaga kerja dari institusi pendidikan kejuruan.

Berdasarkan penelusuran recruitment on-line garment manufacturing di Indonesia yang berorientasi eksport, syarat yang paling sering dimunculkan bagi calon tenaga kerja pada line produksi adalah mampu bekerja dengan tekanan kerja yang tinggi, sanggup bekerja lembur, sanggup ditempatkan di area produksi dan mampu bekerja mencapai target waktu yang ditetapkan, sehat jasmani dan rohani, ... (http://acecnews.blogspot.com/2008/03/ungaran-sarigarment.html). Syarat tersebut diajukan pihak industri karena sistem kerja yang digunakan sangat memerlukan karakter kerja yang tangguh untuk menjalankan sistem produksinya yang bersifat lean manufacture.

Bekerja di industri garment harus dapat mengikuti irama kerja yang memiliki produktivitas tinggi dan cepat (output piece per minute), produksi bersifat masal dengan sistem produksi ban berjalan, dan kualitas produk yang sangat dijaga ketat. Kesiapan mental dan ketahanan fisik yang baik untuk mendukung kelancaran bekerja harus dimiliki para pekerjanya. Di samping itu pekerjaan menjahit dan membuat busana adalah pekerjaan keterampilan yang menunjukkan pada pekerjaan mental, menggunakan gerakan-gerakan tangan melalui pengintegrasian sensoris yang terkoordinasi dengan baik (terampil, cekatan, cakap, cermat). Kemampuan teknis (hard skills) yang handal dan mahir apabila tidak didukung oleh karakter kerja yang baik maka menjadi tidak bermakna untuk bekerja di industri.

Pengembangan karakter kerja bagi siswa SMK merupakan aspek penting dalam menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dan berhasil dalam pekerjaannya. Oleh karena itu diperlukan kajian model pengembangan karakter kerja untuk kesiapan kerja yang terintegrasi dalam proses pembelajaran dengan berbagai strateginya. Siswa SMK harus dipersiapkan untuk menghadapi real job yang ada di dunia usaha dan industri. Bekerja di industri berada dalam lingkungan yang berbeda dengan lingkungan sekolah. Pengembangan karakter kerja untuk jangka panjang meliputi pembinaan ketahanan mental, disiplin kerja, ketahanan fisik, dan perilaku positif siswa. Sedangkan jangka pendek meliputi; pengembangan wawasan kerja di industri.

Tujuan utama yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi karakter kerja yang diharapkan user (industri) terhadap lulusan SMK, dan (2) merumuskan model pengembangan karakter kerja siswa SMK agar lulusannya memiliki karakter kerja yang sesuai dengan tuntutan kerja di industri, serta mengkaji implikasi model tersebut terhadap relevansi lulusan SMK dengan demand industri. Komponen atau aspek yang dikaji untuk mendukung model pengembangan karakter kerja siswa SMK adalah sistem kerja yang digunakan di industri diterapkan pula dalam pembelajaran praktik di sekolah, yaitu sistem kerja “kaizen” yang meliputi: (1) sikap kerja 5R (ringkas, resik, rawat, rapi, dan rajin), quality control (QC), dan just in-time (JIT).

Produk yang akan dihasilkan adalah model pengembangan karakter kerja berbasis industri (Karjain) untuk siswa SMK berkaitan dengan program keahlian tata busana yang terintegrasi dalam pembelajaran praktik. Konsep dasar model-Karjain adalah belajar bekerja, melalui 5 tahap yaitu: (1) kontruksi komitmen kerja; (2) konstruksi etos kerja (3) apresiasi kerja; (4) pembiasaan bekerja (budaya kerja); dan refleksi diri.

2. Kajian Teori

a. Pengembangan Karakter Kerja Berbasis Industri

Karakter sering diberi padanan kata watak, tabiat, perangai atau akhlak. Dalam bahasa Inggris character diberi arti a distinctive differentiating mark, tanda yang membedakan secara tersendiri. Karakter merupakan nilai-nilai yang terpatri dalam diri seseorang yang dibentuk melalui proses; pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan dan pengaruh lingkungan, menjadi nilai intrinsik yang melandasi sikap dan perilaku seseorang (Koesoema, 2007). Menurut (Ferry,. et.al, 2002), karakter tidak turun-temurun, juga tidak berkembang secara otomatis, harus secara sadar dikembangkan. Dengan demikian karakter adalah suatu kualitas yang mantap dan khusus (pembeda) yang terbentuk dalam kehidupan individu yang menentukan sikap dalam mengadakan reaksi terhadap rangsangan dengan tanpa mempedulikan situasi dan kondisi. Namun untuk mengembangkan karakter, diperlukan ’character coach’ atau ’character mentoring’ yang mengarahkan dan memberitahukan kekeliruan dan kelemahan-kelemahan karakter seseorang (Koesoema, 2007).

Salah satu point penting dari tugas pendidikan adalah membangun karakter (character building) anak didik. Fasli Jalal (2010) mengutarakan bahwa pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi daripada pendidikan moral karena bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah akan tetapi menanamkan pula kebiasaan yang baik sehingga siswa menjadi paham, mampu merasakan, dan mau melakukan yang baik (http://komunikasi.um. ac.id/?p=1684).

Bentuk-bentuk karakter yang dikembangkan telah dirumuskan secara berbeda. Indonesia Heritage Foundation merumuskan beberapa bentuk karakter yang harus ada dalam setiap individu bangsa Indonesia di antaranya; cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya, tanggung jawab, disiplin dan mandiri, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, dan toleransi, cinta damai dan persatuan. Sementara itu, character counts di Amerika mengidentifikasikan 6 karakter yang harus dimiliki, yaitu; dapat dipercaya (trustworthiness), rasa hormat dan perhatian (respect), tanggung jawab (responsibility), jujur (fairness), peduli (caring), nasionalis (citizenship), ketulusan (honesty), berani (courage), tekun (diligence) dan integritas.

Pengembangan karakter kerja pada pendidikan kejuruan, menuntut pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja agar hasilnya efektif. Sebagaimana teori Proser & Allen (1988), bahwa pendidikan kejuruan yang berhasil diantaranya: (a) efisien jika lingkungan dimana siswa dilatih dengan cara, alat, dan mesin yang sama seperti yang diperlukan dalam pekerjaan itu; (b) efektif jika melatih kebiasaan berpikir dan bekerja seperti di DU-DI; (c) efektif jika membentuk kebiasaan kerja dan kebiasaan berfikir yang benar sehingga cocok dengan pekerjaan; dan (d) pendidikan kejuruan harus memperhatikan permintaan pasar.

b. Pendekatan Demand Driven

Strategi atau paradigma demand driven pada pendidikan kejuruan sudah lama dicanangkan oleh Wardiman Djoyonegoro (1988) walaupun belum secara optimal dilaksanakan dalam sistem pendidikan kejuruan. Dalam kontek pendidikan kejuruan yang tujuan utamanya adalah menyiapkan lulusannya untuk bekerja, maka pendekatan demand driven atau pendidikan yang berbasis permintaan ini secara empiris telah cukup bukti efektif dan efisien untuk dilaksanakan. Pada intinya pendekatan ini meyakini dapat meningkatkan relevansi pendidikan kejuruan dengan dunia kerja.

Pendekatan demand driven dalam penelitian ini digunakan untuk mengindentifikasi karakter kerja yang perlu dikembangkan. Melalui pengalaman empirik, kajian teori, dan observasi, maka strategi yang digunakan adalah dengan mengadopsi sistem kerja di industri dalam pembelajaran praktik di SMK. Demand driven sebagai pijakan dalam menentukan arah penelitian, maka landasan prosedur investigasi digambarkan sebagai berikut:

Text Box: Demand driven


Pasar Kerja

Oval: Lulusan SMK   Calon Tenaga kerja   Flowchart: Predefined Process: SMK Pembelajaran berbasis kompetensi  Pengembangan Karakter Kerja  Can: INDUSTRI GARMEN Lean manufacture JIT Kaizen Quality controlQC



Gambar 1. Paradigma deman driven untuk pengembangan karakter kerja siswa SMK

SMK sebagai salah satu supplier tenaga kerja untuk industri harus mengetahui kebutuhan akan kualifikasi dan kompetensi pekerja yang disyaratkan industri agar lulusan yang dihasilkan dapat mengikuti sistem kerja yang ada. Industri busana (garmen) menggunakan prinsip fundamental dari konsep lean manufacturing dalam proses produksinya. Kaizen juga sebagai pendekatan bertahap secara sistematis, berkelanjutan, dan sesuai dengan pencapaian sasaran. Salah satu alat yang paling efektif dalam perbaikan berkelanjutan terseut adalah konsep 5R yaitu metode yang efektif dalam menciptakan sebuah lingkungan kerja yang ideal dan mempunyai dampak yang sangat besar terhadap mutu dan produktivitas. Konsep 5R yang dikembangkan Imai M (1997), yaitu: (a) seiri-short-ringkas, (b) seiton-straighten-rapi; (c) seiso-sweep and clean-resik; (d) seiketsu-systemize-rawat; (e) shitsuke-standardize-rajin.

Pembinaan karakter kerja berbasis industri atau disingkat “Karjain” dapat dipergunakan pada pembelajaran praktik dan membantu guru dalam memperbaiki kultur pembelajaran ke arah yang mendekati budaya kerja di industri. Model Karjain diilustrasikan pada gambar berikut:

Text Box: Komitmen KerjaText Box: Etos KerjaText Box: Apresiasi KerjaText Box: Budaya kerjaText Box: Refleksi


Gambar 2. Struktur dan Komponen Model-Karjain

Karjain merupakan model pengembangan karakter kerja berbasis industri yang menerapkan kaizen, QC, dan JIT dalam proses pembelajaran praktik, dan dapat digunakan untuk membangun rasa percaya diri, siswa bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan sampai tuntas; berdisiplin dengan waktu, memiliki daya juang yang tinggi; dan memiliki ketahanan mental kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Hal ini didasarkan pada premis bahwa setiap siswa memiliki peluang untuk bekerja di industri. Model- karjain dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Integrasi pengembangan karakter kerja dalam pembelajaran praktik melalui 5 tahap kegiatan, yaitu:

a. Tahap komitmen kerja ditunjukkan oleh indikator; kesediaan menerima aturan kerja, kesepakatan target waktu, kesadaran melaksanakan tugas sesuai aturan (SOP), kesediaan bekerjasama, dan kesediaan melakukan sikap kerja sesuai dengan yang diharapkan.

b. Tahap membangun etos kerja melalui simulasi situasi bekerja di industri agar siswa mengalami bermacam-macam proses kerja untuk menguji reaksi mereka. Tujuanya adalah untuk membangun etos kerja yang ditunjukkan oleh indikator bekerja ikhlas, tuntas, semangat, serius, optimis, dan unggul.

c. Tahap pemaknaan cara kerja yaitu menerima dan memaknai nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu yang bertujuan untuk membangun apresiasi kerja. Apresiasi kerja ditunjukkan oleh indikator; memahami, menghayati, menyenangi, dan menghargai bidang pekerjaan.

d. Pembiasaan merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara terus menerus, sehingga menjadi suatu rutinitas atau perilaku yang membudaya dan menjadi karakter yang baik dalam perilaku kerja. Budaya kerja, ditunjukkan oleh indikator sikap kerja 5R, berorientasi pada kualitas, budaya just in-time, budaya bekerja jujur, dan bekerjasama.

e. Refleksi merupakan tahap yang menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup yang memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah diperoleh dan dilakukan serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri.

Bentuk pembinaan karakter kerja di SMK dengan penerapan kaizen, QC, dan JIT akan semakin luas dibutuhkan penggunaannya karena semua aspek produksi pada saat ini tidak hanya didasarkan pada kualitas dan kuantitas, melainkan juga standar waktu yang dapat memenuhi kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Dunia industri selalu berlomba-lomba untuk menekan lead time dengan menggunakan berbagai metode. Metode yang bisa diimplementasikan pada konsep lead time adalah:

(a) Poka yoke atau error proofing, yaitu mencegah sebuah kesalahan sebelum kesalahan itu terjadi. Dalam hal ini diperlukan soft skills seperti teliti, disiplin, percaya diri, kejujuran, dan tanggung jawab.

(b) Line balancing, yaitu menyeimbangkan aliran produksi komponen produk pada setiap stasiun kerja berdasarkan waktu proses dan kebutuhan. Untuk itu, diperlukan soft skills mental kerja yang stabil dan tangguh, karena proses produksi berdasarkan target waktu, kuantitas, dan kualitas yang dijaga ketat terus berjalan secara berkelanjutan.

(c) Ergonomi dan K3, yaitu mengupayakan supaya tercipta suasana kerja yang ENASE (Efektif, Nyaman, Aman, Sehat serta Efisien). Dalam hal ini diperlukan soft skills komunikasi, kerjasama, kompetisi yang sehat, dan kepemimpinan.

(d) Sikap kerja 5S (Seiri/Sort, Seiton/Set in order, Seiso/Shine, Seiketsu/ Standardize, Shitsuke/Sustain) di dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai 5R (Resik, Rapi, Ringkas, Rawat, dan Rajin). Maka diperlukan soft skills disiplin, tanggung jawab, dan patuh pada aturan.

(e) Just in Time (JIT), yaitu upaya untuk memproduksi produk sesuai dengan jumlah dan waktu yang dibutuhkan. Maka diperlukan soft skills percaya akan kemampuan diri, disiplin, tanggung jawab, keuletan, dan ketahanan mental.

Gerakan 5S merupakan semboyan kerja masyarakat jepang yang diambil dari huruf awal, yaitu: Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke. Istilah ini di Indonesia sering juga disebut dengan 5 R (ringkas, resik, rapih, rawat, dan rajin) atau 5P (pemilihan, penataan, pembersihan, pemantapan dan pembiasaan (http://garment-techno.blogspot.com/2010/02/6-s.html)

Pembentukan budaya kerja bukanlah sesuatu yang instan, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi budaya. Manfaat menerapkan sikap kerja 5S dalam kehidupan bekerja, yaitu terjaminnya keamanan, keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan dalam melakukan pekerjaan, efisiensi kerja, dan peningkatan kualitas produk. Sehingga banyak perusahaan-perusahaan yang mengadopsi dan menggunakan prinsip kaizen dengan 5S.

Meskipun konsep kerja kaizen lebih banyak diterapkan pada area kerja di industri, namun untuk membekali kesiapan kerja siswa maka kebiasaan dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran dengan menerapkan konsep kaizen dapat diimplementasikan dalam pembelajaran praktik. Hal ini dimaksudkan agar siswa memiliki mental kerja yang terlatih dengan selalu berorientasi pada kualitas, waktu, dan layanan.

3. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research & Development). Metode penelitian pengembangan memuat 3 komponen utama yaitu : (1) Model pengembangan, (2) Prosedur pengembangan, dan (3) Uji coba produk (Depdiknas-Puslitjaknov, 2008: 8). Model pengembangan menggunakan mix dari Fred dan Borg & Gall dimodifikasi menjadi metode FBG (Fred, Borg, and Gall) dapat dilihat pada gambar 3 berikut:

Oval: Prototipe I



Oval: gap

Desain Model

Evaluasi & Revisi

Ujicoba diperluas

Validasi

Supply

lulusan SMK

Oval: Model final

Up Arrow Callout:   Fase 3Up Arrow Callout:   Fase 2Up Arrow Callout:   Fase 1

Text Box: Tahap Formulasi Text Box:  Tahap Implementasi & Evaluasi


Keterangan

= menunjukkan arah kegiatan

= menunjukkan hasil dari kegiatan

= menunjukkan proses kegiatan

Gambar 3. Metode FBG Untuk Model Karjain

Model pengembangan dari Fred (2001) memiliki beberapa kelebihan, antara lain; (1) dikembangkan berdasarkan strategis manajemen yang mengacu pada peningkatan kualitas input, proses, dan output pendidikan dan relevansinya dengan kebutuhan dunia kerja; (2) data perencanaan dan operasional dalam menetapkan formula diperoleh melalui tiga tahap penelitian, sehingga informasi sangat akurat. Peneliti melakukan penyesuaian beberapa tahapan dalam metode Fred (2001) dengan Borg and Gall (1983) yang disesuaikan dengan penelitian ini.

1) Tahap pra-pengembangan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap pra-pengembangan antara lain: (a) survei ke industri garmen yang ada di kawasan industri Sukoharjo-Solo dan Bawen Semarang untuk mengidentifikasi karakter kerja yang perlu dikembangkan. Selanjutnya merancang pengembangan karakter kerja untuk meningkatkan kualitas lulusan SMK agar sesuai dengan kualifikasi kerja yang dibutuhkan industri. Kemudian disusun suatu strategi untuk merealisasikan rancangan yang telah dibuat pada fase desain, meliputi: (1) menyusun prosedur yakni urutan atau tahapan pelaksanaan model; (2) menentukan strategi penyampaian seperti peran dan tugas guru yang harus dilakukan dalam pembelajaran praktik; (3) memberikan gambaran kepada guru bagaimana mengintegrasikannya dalam pembelajaran praktik; (4) menentukan sistem pendukung, yakni syarat/kondisi yang diperlukan agar model yang dirancang dapat terlaksana.

2) Tahap Pengembangan

Ujicoba model yang menjadi rangkaian pengembangan ditempuh melalui 3 tahapan kegiatan, yakni: (1) ujicoba perorangan dan review ahli, (2) ujicoba kelompok terbatas; dan (3) ujicoba diperluas untuk validasi/ujicoba lapangan. Tahapan ujicoba diadaptasi dari Tessmer (1993). Hasil dari langkah uji perorangan dan review ahli berupa bahan informasi untuk revisi prototipe pengembangan, kemudian dilakukan revisi. Prototipe yang telah direvisi, diuji lebih lanjut kepada kalangan terbatas atau sekelompok kecil pengguna dalam situasi nyata dan fase ini disebut dengan uji kelompok kecil.

Subyek penelitian adalah siswa SMK program keahlian tata busana tingkat 1 dan 2, sedangkan pelaksana intervensi adalah guru pengampu pembelajaran praktik. Instrumen penelitian yang dipersiapkan dan dikembangkan sebagai pengumpul data dalam penelitian terbagi dalam dua kelompok, yakni: (a) Perangkat pengembangan karakter kerja, dan (b) Instrumen Penelitian. Validitas instrumen yang berbentuk format validasi, lembar observasi, dan angket hanya dinilai validitas teoritisnya melalui penilaian ahli/pakar yang dipandang layak untuk memberikan penilaian terhadap aspek-aspek yang tercantum dalam instrumen tersebut. Aspek-aspek yang dinilai pada umumnya terdiri atas petunjuk, isi, bahasa, dan format. Selanjutnya untuk mengukur tingkat kesepakatan antar penilai (inter-rater reliability) terhadap instrument penelitian, dianalis dengan percentages of agreements (Grinnell, 1988: 160).

Validitas konstruk instrument penelitian diuji dengan menggunakan Confirmatory factor analysis (CFA) dengan 0,3 (cohen, 2005: 216). Reliabilitas instrument ditunjukkan dengan Cronbach’s Alpha, dan dianggap reliable jika 0,7 (Yafee, 2003: 14, Garson, 2008: 3). Uji model dilakukan dengan menggunakan CFA dengan bantuan software LISREL. CFA digunakan untuk mengkonfirmasi fakktor yang membentuk konstruk soft skills. Konstruk yang dibentuk perlu dinyatakan apakah telah sesuai dengan data dengan bantuan teknik CFA. Model dianggap fit jika p-value dan RMSEA (Mueller, 1996: 163).

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan

a. Tahap Pra-Pengembangan

Identifikasi karakter kerja dianalisis dari hasil survei industri garmen yang ada di kawasan Sukoharjo-Solo, Bawen dan Ungaran Semarang Propinsi Jawa Tengah.. Survei dilakukan dengan wawancara, observasi, dan cheklist pada manajer Human Resources Development (HRD) dan beberapa orang supervisor pada bagian produksi. Berikut disajikan hasil survei terhadap kebutuhan karakter kerja untuk pekerja di bagian produksi industri garmen.

Gambar 4. Score Rata-rata Harapan dan Tanggapan Industri Garmen Terhadap karakter kerja Lulusan SMK Program Keahlian Tata Busana

Gambar 5 di atas menunjukan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan karakter kerja lulusan SMK, di mana nilai kesenjangan tertinggi berturut-turut pada atribut percaya diri, semangat, kepemimpinan, dan daya saing maka diasumsikan bahwa siswa SMK masih perlu ditingkatkan untuk bisa bekerjasama, beradaptasi, lebih patuh pada instruksi dan aturan kerja. Maka karakter kerja untuk level operator yang harus dikembangkan di SMK merujuk pada kebutuhan pekerjaan sesuai bidang dan levelnya.

b. Tahap Pengembangan

Validasi model yang digunakan adalah Focus Group Discussion (FGD) dan teknik Delphi yang dilakukan dengan beberapa pakar pendidikan kejuruan dan pakar pendidikan tata busana. Hasil yang diperoleh dari tahap FGD meliputi: (1) disepakati pengembangan karakter kerja berbasis industri yang terintegrasi dalam pembelajaran praktik; (2) disepakati perangkat pengembangan karjain; (3) disepakati karakter kerja yang paling penting dikembangkan; dan (4) terkumpul indikator dari setiap atribut. Banyaknya atribut yang dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek kajian teoritis dan kemampuan guru dalam melaksanakannya, serta kemampuan diri peneliti.

Expert judgment dengan teknik Delphi ini dilakukan dengan beberapa pakar pendidikan kejuruan dan pakar pendidikan tata busana. Keefektifan model karjain dianalisis dari dimensi pembentuk karakter kerja, yaitu: komitmen kerja, etos kerja, budaya bekerja, apresiasi kerja, motivasi kerja, dan kesiapan kerja. Aspek efektivitas yang dikaji adalah: (1) intensitas, model dibuat sesuai dengan kemampuan siswa, lingkup kompetensi, dan menekankan pada keterampilan proses dengan indikator tertentu; (2) objektif, model dapat membangun karakter kerja siswa; (3) praktis, yaitu mudah digunakan untuk mengembangkan karakter kerja siswa sesuai dengan jam pembelajaran praktik; (4) sistematis, yaitu dapat digunakan secara terus menerus dalam pembelajaran praktik; dan (5) efisien, yaitu mudah digunakan dan tidak membutuhkan dana yang besar. Berikut gambaran hasil teknik Delphi ke 2 yang diperoleh tingkat efektivitas sebagai berikut:

Gambar 5. Tingkat efektivitas Tahapan Model Karjain Hasil Delphi

Kegiatan validasi konseptual (review) terhadap prototipe awal model karjain dan instrumen-instrumen penelitian melibatkan 4 orang ahli yang dibekali dengan Buku Panduan Pengembangan dan instrumen beserta lembar penilaiannya.

c. Tahap Penerapan Model

Model yang telah dihasilkan selanjutnya dilakukan serangkaian uji coba, untuk menguji bahwa hasil validasi para ahli dan praktisi pendidikan terhadap model yang dikembangkan didukung oleh data empiris di lapangan hingga diperoleh model-karjain yang memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif.


1. Uji Coba Model

a) Ujicoba Perorangan (One-to-one)

Melalui ujicoba ini diharapkan dapat diidentifikasi permasalahan yang dapat menghambat keterlaksanaan model-karjain, seperti keterbacaan, penggunaan bahasa, serta waktu yang diperlukan oleh guru dan siswa dalam menggunakan perangkatnya. Berdasarkan hasil dari uji coba perorangan maka diperoleh masukan sebagai berikut: instruksi kerja cukup jelas dan membantu pengerjaan tugas; dapat mendisiplinkan diri dalam mengerjakan tugas; target kerja membantu semangat dan motivasi kerja; kolom isian waktu terlalu mendetail. Hasil ujicoba perorangan diperlukan revisi pada format worksheet disederhanakan dan bahasa instruksinya lebih diperjelas.

b) Ujicoba Terbatas

Proses ujicoba melalui pembelajaran praktik di SMK 2 Godean Sleman melaksanakan skenario yang telah dirancang. Hasil pengamatan keterlaksanaan dimensi karjain menunjukkan semua tahap dapat memenuhi dimensi pengembangan karakter kerja dengan terlaksana dan sangat terlaksana. Hasil penilaian secara umum terhadap tahapan penerapan model perlu revisi kecil.

Gambar 6. Efektivitas Tahapan Model-karjain Pada Ujicoba Terbatas

Indikator keefektifan dilihat dari aspek: intensitas, yaitu mencakup kompetensi, dan menekankan pada pembelajaran afektif; objektive, yaitu model dapat digunakan untuk mengembangkan karakter kerja siswa sesuai dengan tingkat kemampuan siswa; efisien, yaitu menggunakan waktu pembelajaran praktik, dan tidak memerlukan dana tambahan lain; sistematik, model dapat digunakan secara kontinu pada setiap pembelajaran praktik; dan praktis, model sekaligus dapat digunakan memantau atau merekam proses pembelajaran praktik terkait dengan aspek hard skills. Hasil pengamatan keefektifan model dinilai dari tahapan pelaksanaan model, digambarkan sebagai berikut.

Hasil ujicoba terbatas menunjukkan bahwa komponen model secara efektif terlaksana dengan baik dan efektif digunakan untuk mengembangkan karakter kerja siswa SMK program keahlian tata busana. Sedangkan Hasil pengamatan keefektifan model yang dinilai dari aspek: rencana pembelajaran (RPP) dan perangkat worksheet. Hasil ujicoba terbatas menunjukkan bahwa tingkat efektivitas komponen model efektif digunakan dalam pembelajaran praktik di SMK, sehingga efektif digunakan untuk mengembangkan karakter kerja siswa SMK program keahlian tata busana digambarkan sebagai berikut:

Gambar 7. Efektivitas Komponen Model karjain Pada Ujicoba Terbatas

c) Hasil Ujicoba Diperluas

Hasil pengamatan keterpenuhan dimensi karjain pada ujicoba diperluas, dijabarkan sebagai berikut:

Tabel 1

Pengamatan Keterpenuhan Dimensi karjain dalam Pembelajaran Praktik

No

Dimensi karakter kerja

Tingkat Keterlaksanaan

ST

%

T

%

KT

%

TT

%

1

Komitmen kerja

13

36,1

23

63,9

0

0

0

0

2

Etos Kerja

16

33,3

32

66,7

0

0

0

0

3

Apresiasi Kerja

12

28,6

30

71,4

0

0

0

0

4

Budaya Kerja

14

18,0

62

78,2

3

3,8

0

0

5

Kesiapan Kerja

10

23,8

31

73,8

1

2,4

0

0

Ket: ST=Sangat Terlaksana, T=Terlaksana, KT=Kurang terlaksana, TT=Tidak terlaksana

Tabel 1 menunjukkan bahwa tahap pengembangan karakter kerja pada umumnya dapat memenuhi dimensi komitmen kerja, etos kerja, apresiasi kerja, budaya kerja, dan kesiapan kerja. Dua responden menyatakan perlu revisi kecil pada sub indikator setiap dimensi terlaksana. Sedangkan hasil pengamatan keefektifan model yang dilakukan 6 pengamat pada 3 kelas yang berbeda diperlihatkan pada tabel 4 berikut:

Tabel 2

Hasil Efektivitas Tahap Model-SSW pada ujicoba diperluas

No

Tahap karjain

Tingkat Efektivitas

Rerata

Intens

Objektif

Praktis

Sistematis

Efisien

1

Komitmen kerja

3,4

3,4

3,2

3,3

3,2

3,3

2

Simulasi kerja

3,5

3,4

3,2

3,4

3,2

3,34

3

Apresiasi kerja

3,4

3,4

3,4

3,3

3,4

3,38

4

Pembiasaan bekerja

3,6

3,4

3,4

3,1

3,4

3,38

5

Refleksi

3,2

3,2

3,2

3

3,2

3,16

Tahap Model-karjain efektif digunakan dalam pengembangan karakter kerja siswa dalam pembelajaran praktik di SMK dengan rerata tingkat efektivitas 3,3. Hasil analisis keefektifan komponen model karjain digambarkan pada grafik berikut.

Gambar 8. Efektivitas Komponen Model-Karjain Pada Ujicoba Diperluas

Hasil ujicoba diperluas menunjukkan bahwa tingkat efektivitas tahap model efektif dalam pembelajaran praktik di SMK. Demikian pula komponen model terlaksana secara efektif dalam pembelajaran praktik, dan efektif digunakan mengembangkan karakter kerja siswa SMK.

d) Hasil Pengujian Instrumen

1) Validitas Internal

Evaluasi terhadap kemampuan manifes dalam merefleksikan laten diuji dengan confirmatory factor analysis (CFA). Manifes laten percaya diri memiliki nilai lambda sebesar 0.68 dan t-hitung 5.39 kuadrat lambda 0.68²=46.24% menjelaskan kontribusi dalam mencerminkan kepercayaan diri. Sedangkan perolehan t-hitung>1.96 menandakan signifikan (Imam Ghozali, 2005: 318). Sehingga manifes pertama dinyatakan valid dengan sumbangan 46.24%. Manifes dalam laten lainnya juga dinyatakan valid yang ditandakan oleh t-hitung >1.96. Berarti semua manifes yang digunakan untuk merefleksikan laten terbukti dapat berfungsi dengan baik, sehingga tidak dilakukan penghilangan atau penggantian manifes dalam kuesioner.

2) Reliabilitas Konstruk

Hasil perhitungan koefesien reliabilitas variabel kepercayaan diri diperoleh nilai sebesar 0.744, perolehan ≥0.7 menandakan bersifat unidimensi atau memiliki reliabelitas konstruk yang dapat diterima. Manifes variabel laten lainnya juga memiliki koefesien reliabilitas konstruk ≥0.7, menandakan bersifat unidimensi sehingga dinyatakan reliabel.

3) Variabel Eksogen

Hasil pengukuran pada eksogen lain juga mendapatkan sekor rerata >3 pada semua variabel, mengindikasikan responden sudah memiliki komitmen, etos, apresiasi, dan budaya kerja yang tinggi. Secara relatif etos kerja memiliki skor paling rendah, disusul kemudian budaya, komitmen, apresiasi, terbaik motivasi kerja. Maka aspek: keikhlasan, ketuntasan, semangat, keseriusan, semangat unggul dan optimisme dalam bekerja sebagai aspek etos kerja prioritas untuk ditingkatkan. Prioritas kedua adalah aspek budaya kerja ; kerjasama, just-in-time, quality control, jujur dan sikap kerja 5R.

Gambar 9. Histogram Komparasi Rerata Eksogen

Variabel komitmen kerja dan apresiasi kerja juga memiliki karakteristik sebaran dengan mayoritas kategori tinggi, pada komitmen sebanyak 65.57%, dan apresiasi kerja sebanyak 62.30%. Dengan demikian motivasi, komitmen dan apresiasi kerja, tidak saja direspon tinggi secara agregat, melainkan juga secara individupun siswa memberikan tanggapan yang tinggi. Sedangkan dalam variabel etos kerja dan budaya kerja mayoritas terkategorisasi cukup, sebanyak 67.21% dalam variabel etos kerja, dan 52.46% dalam budaya kerja.

d). Variabel Endogen

Ada dua belas aspek yang merefleksikan kesiapan kerja. Sekor tertinggi (> 3) terjadi dalam aspek percaya diri, disiplin, dan daya saing. Untuk aspek dengan skor lebih dari 3 mengindikasikan respon yang tinggi dari siswa, sedangkan aspek lain dengan sekor kurang dari 3 mengindikasikan respon diatas moderat. Semua aspek tersebut sebagai kesatuan kesiapan kerja memiliki skor sebesar 2.89, cukup kuat untuk diterima sebagai indikasi kesiapan kerja yang sudah cukup baik.

Gambar 10. Histogram Variabel Endogen

Secara individu dari 122 partisipan diketahui mayoritas memiliki kesiapan kerja terkategorisasi cukup dengan jumlah mencapai 68.03%, terbesar berikutnya terkategorisasi kurang sebanyak 16.39%, kemudian tinggi sebanyak 13.93% dan rendah 1.64%.

1) Hasil Validasi Data

1. Normalitas

Bentuk distribuasi data primer dievaluasi dengan uji kai kuadrat, untuk variabel motivasi kerja diperoleh koefesien sebesar 0.047 dengan probabilitas 0.98, perolehan p ≥ 0.05 menandakan data berdistribusi normal. Kenormalan ini penting karena berarti hasil ananlisis terhadapnya dapat digeneralisasikan kepada populasi, dan juga dapat digunakan statistik parametrik sebagai alatnya.

2. Multikolinieritas

Evaluasi untuk melihat kekuatan hubungan antar eksogen tersebut dilakukan dengan uji korelasi produk momen, besar korelasinya < 0.8. Kecilnya kofesien korelasi itu menunjukan hubungan antar eksogen tidak kuat, sehingga dinyatakan tidak terjadi multikolinieritas (Gujarati, 1995).

3. Outlieritas

Secara relatif selalu ditemukan adanya nilai data yang jauh dari reratanya atau oulier. Keberadaannya menyebabkan kualitas data menurun dan distribusinya tidak normal. Hasil normal dalam pengujian sebelumnya menandakan outlieritas yang ada masih dapat ditoleransi karena tidak menyebabkan data tidak normal.

4. Kesesuaian model

Hubungan antar variabel dalam model yang telah mengalami perbaikan diperlihatkan dalam gambar di bawah. Secara struktural tidak dilakukan perubahan terhadap variabel utama yang dihipotesakan, perubahan hanya pada variabel error dari manifes endogen. Nilai chi square setelah perbaikan model menjadi 117.16 dengan probabilitas (p) sebesar 0.161, perubahan probabilitas (p) menjadi lebih dari 0.05 menandakan tidak lagi terjadi perbedaan signifikan antara kovarian sampel dengan kovarian yang estmasi, berarti model yang diajukan mendapat dukungan kuat dari sampel untuk menjelaskan estimasi atau populasi (Barbara, 1996:748).

Gambar 12. Model Setelah Perubahan

Tabel 4. Hasil Goodness of Fit Index Model Setelah Perubahan

No

Index

Cut of Value

Hasil

Keterangan

1

Kai Kuadrat (p)

Kecil (p > 0.05)

117.16 (p=0.161)

Terpenuhi

2

CFI

≥ 0.90 (max 1)

0.990

Terpenuhi

3

GFI

≥ 0.95 (max 1)

0.897

Moderat

4

AGFI

≥ 0.95 (max 1)

0.847

Moderat

5

RMSEA

≤ 0.08 (Min 0)

0.034

Terpenuhi

Sumber : Hasil pengujian SEM

2) Hasil Uji Struktural

Fungsi pertama menjelaskan bahwa budaya kerja siswa dapat dijelaskan oleh eksogennya (motivasi, komitmen, etos dan apresiasi). Koefesien positif beta menunjukan bila variabel eksogen dapat dikelola dengan baik sehingga meningkat, maka dapat mendorong budaya kerja siswa menjadi lebih baik. Semua variabel eksogen memiliki t-value>1.96, menandakan signifikan dalam mempengaruhi budaya kerja.

Tabel 5. Fungsi dalam model karjain

Fungsi

Endogen

Eksogen

β

β ²

t-val

Ket*

1

Budaya Kerja (z)

Motivasi kerja (x1)

0.3176

10.09

2.6946

Sig

Komitmen kerja (x1)

0.3528

12.45

2.7074

Sig

Etos kerja (x1)

0.7264

52.77

3.0143

Sig

Apresiasi kerja (x1)

0.2625

6.89

2.5550

Sig

2

Kesiapan Kerja (y)

Budaya Kerja (z)

0.9833

96.68

2.9589

Sig

* T-val ≥ 1.96 : Signifikan Sumber : Hasil pengujian SEM

Kontribusi paling besar dalam mempengaruhi adalah etos kerja disusul kemudian oleh variabel komitmen kerja, motivasi kerja dan terakhir apresiasi kerja. Model yang dikembangkan menempatkan variabel budaya kerja sebagai variabel perantara dari motivasi, komitmen, etos dan apresiasi kerja. Hasil pengujian ditampilkan dalam tabel 5 berikut. Analisis terhadap kemampuan budaya kerja sebagai interveaning dapat dilakukan melalui hasil signifikan eksogen terhadap budaya kerja, dan budaya kerja terhadap komitmen kerja. Semua hubungan antar variabel adalah signifikan, berarti budaya kerja terbukti mampu menjadi interveaning dalam model.

e) Sintaks Model-Karjain

Model pengembangan karakter kerja yang terintegrasi dalam pembelajaran praktik merupakan model pembelajaran yang mengadopsi sistem kerja yang digunakan di industri sebagai dasar dalam mempersiapkan siswa untuk memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. Sintaks model karjain merupakan penjabaran dari prinsip-prinsip dan strategi yang mendasari pengembangan karakter kerja. Sintaks dari model-karjain dijabarkan pada tabel 6 berikut:

Tabel 6

Sintaks Model-Karjain

No

Tahapan

Kegiatan

1

Komitmen kerja

· Guru memulai pembelajaran tepat waktu

· Guru menerapkan 5R (resik, rawat, rapih, ringkas, dan rajin)

· Guru menjelaskan tujuan pembelajaran

· Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai

· Guru menjelaskan sistem kerja dan aturan kerja

2

Simulasi kerja

· Guru bertindak sebagai supervisor yang mengawasi, membimbing, mengarahkan, dan mengendalikan proses kerja siswa

· Siswa mengerjakan tugas dengan menggunakan worksheet

· Guru memotivasi kerja siswa

3

Pemaknaan kerja

· Guru melakukan quality control pada hasil kerja siswa

· Siswa memperbaiki kesalahan kerja

· Guru memberi catatan dan komentar pada worksheet

· Siswa memperbaiki kesalahan kerja

4

Pembiasaan bekerja

· Siswa terbiasa melakukan 5R tanpa disuruh

· Siswa terbiasa mengontrol kualitas setiap elemen kerja

· Siswa terbiasa menyelesaikan tugas tepat waktu sesuai target kerja

5

Refleksi

· Guru menampilkan hasil kerja siswa pada setiap akhir pembelajaran

· Guru menampilkan profil perilaku dan cara kerja siswa pada setiap akhir pembelajaran

Dengan demikian seorang guru yang memiliki komitmen dan mindset tentang pentingnya karakter kerja bagi siswa SMK, akan memainkan peranannya sebagai supervisor, model, dan evaluator.

5. Kesimpulan

a. Teridentifikasi karakter kerja yang dibutuhkan industri melalui pendekatan demand driven. Karakter kerja yang harus dimiliki lulusan SMK meliputi; sikap kerja kaizen (5R: Resik, Rawat, Ringkas, Rapi, dan Rajin), just in time (JIT), dan quality control (QC).

b. Model karjain valid dan reliabel mengembangkan soft skills siswa SMK berdasarkan analisis data:

1) Hasil pengujian struktural menemukan hubungan signifikan antar variabel motivasi kerja, komitmen kerja, etos kerja dan apresiasi kerja yang mempengaruhi kesiapan kerja dengan budaya kerja sebagai interveaning. Hubungan antar variabel motivasi, komitmen, etos kerja dan apresiasi sebagai eksogen kesiapan kerja dengan interveaning budaya kerja.

2) Variabel-variabel yang berpengaruh terhadap pengembangan soft skills siswa sebagai produk karjain adalah sebagai berikut:

a) Motivasi kerja memberi pengaruh signifikan terhadap budaya kerja siswa (β = 0.3176, t-val = 2.694)

b) Komitmen kerja memberi pengaruh signifikan terhadap budaya kerja siswa (β = 0.3528, t-val = 2.7074)

c) Etos kerja memberi pengaruh signifikan terhadap budaya kerja siswa (β = 0.7264, t-val = 3.0143)

d) Apresiasi kerja memberi pengaruh signifikan terhadap budaya kerja siswa (β = 0.2625, t-val = 2.5550)

e) Budaya kerja memberi pengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja siswa (β = 0.9833, t-val = 2.9589)

f) Budaya kerja merupakan intervening dari variabel motivasi, komitmen, etos dan apresiasi kerja siswa terhadap kesiapan kerja.

c. Model-Karjain cocok digunakan mengembangkan karakter kerja siswa SMK ketika diintegrasikan dalam pembelajaran praktik, dengan nilai p-value 0f 0.161 > α = 0.05 dan hasil goodness of fit index; RMSEA = 0.034 < 0.08, CFI = 0.990> 0.90, dan AGFI = 0.847 < 0.95, yang menunjukkan data empiris yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan teori yang telah dibangun berdasarkan structural equation modelling, berarti model fit digunakan mengembangkan karakter kerja siswa SMK program keahlian tata busana.

6. Rekomendasi dan Saran

a. Kepada pihak penentu kebijakan Kementrian Pendidikan Nasional yang terkait dengan pendidikan kejuruan dalam hal ini SMK yang bersangkutan senantiasa melakukan survei kebutuhan tenaga kerja secara instensif dan periodik untuk merealisasikan paradigma SMK melalui demand driven, sehingga dapat ditemukan key indicator yang tepat untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran di SMK karena pendidikan yang berbasis demand driven lentur terhadap perubahan dan perkembangan zaman.

b. Kepada pengelola pendidikan kejuruan, untuk mengatasi kesenjangan lulusan SMK dengan kebutuhan tenaga kerja di industri sehingga demand tenaga kerja dari industri dapat terpenuhi, maka perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: posisi tenaga kerja lulusan SMK di dunia kerja sesuai kualifikasi kerja nasional Indonesia (SKKNI), dan sistem kerja yang digunakan di industri sesuai bidang keahlian dan level kualifikasi kerjanya, karena masing-masing bidang keahlian dan level atau posisi pekerja di industri menuntut karakter kerja yang spesifik.

Daftar Pustaka Acuan:

Borg, W.R., & Gall M.D. (1983). Educational research. New York & London: Longman

Dedi Supriadi. (2002). Sejarah pendidikan teknologi dan kejuruan di Indonesia. Jakarta: Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.

Doni Koesoema, A. (2007). Tiga Matra Pendidikan Karakter. Dalam Majalah BASIS, Agustus-September 2007.

Gujarati, Damodar. (1995). Basic econometrics. New york: McGraw-Hill,Inc

Imam Ghozali & Fuad. (2008). Struktural equation modeling. Semarang: Badan Peneribit-UNDIP

Imai, Masaaki (1998). Gemba kaizen. Pendekatan akal sehat, berbiaya rendah pada manajemen. (terjemahan: kristianto Jahja). Jakarta: Putaka Binaman Pressindo

Natalie M. Ferry, et.al. (2002). Character at Work. Penn State Cooperative Extension in Berks County. (diambil pada tanggal 12 April 2010 dari http://extension.psu.edu/workforce/Materials/CharWorkActivities.pdf

Tessmer (1993) General Sequence of Formative Evaluations Types (diambil tgl. 22 Maret 2006 dari http://www.geocities.com/researchTriangle/ 8788/DR.html

Artikel Terkait:

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar