LESSON STUDY “SOLUSI MENGATASI MASALAH PRAKTIK PEMBELAJARAN DI KELAS”


Oleh: Duwi Tri Lestari, S.Si, M.Pd

ABSTRAK
Proses pembelajaran di dalam kelas memegang peranan penting dalam mengembangkan potensi belajar siswa. Proses pembelajaran yang dimaksud adalah bagaimana siswa belajar (student-centered). Hal ini tidak mudah dilakukan, mengingat kebiasan guru yang terbiasa menjadikan siswa sebagai objek belajar. Untuk mengatasi hal ini, salah satu alternatif yang dapat dilakukan yaitu dengan melaksanakan lesson study. Lesson Study merupakan suatu  bentuk utama peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan keprofesionalan guru yang dipilih oleh guru-guru Jepang. Di Indonesia sendiri sudah dikembangkan sejak Tahun 2006 dan sudah dilaksanakan di beberapa kota. Hasilnya menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa meningkat.
Kata Kunci: Lesson Study, Student Centered, proses pembelajaran

A.    Pendahuluan
http://esd112tah.files.wordpress.com/2008/11/lesson-study-cycle1.jpg?w=500Selama pendidikan masih ada, selama itu pula masalah-masalah tentang pendidikan akan selalu muncul dan selalu menjadi bahan pembicaraan. Sebagian besar yang selalu menjadi topik pembicaraan adalah tentang bagaimana upaya untuk mencapai pendidikan yang bermutu dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang handal yang nantinya dapat bersaing baik dalam bidang akademis maupun dalam dunia kerja. 
Salah satu masalah atau topik pendidikan yang belakangan ini menarik untuk diperbincangkan yaitu tentang lesson Study yang muncul sebagai salah satu alternatif guna mengatasi masalah praktik pembelajaran yang selama ini dipandang kurang efektif. Seperti dimaklumi, bahwa sudah sejak lama praktik pembelajaran di Indonesia pada umumnya cenderung dilakukan secara konvensional yaitu melalui metode ceramah. Praktik pembelajaran konvesional semacam ini lebih cenderung menekankan pada bagaimana guru mengajar (teacher-centered) dari pada bagaimana siswa belajar (student-centered), dan secara keseluruhan hasilnya dapat kita maklumi yang ternyata tidak banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa. Untuk merubah kebiasaan praktik pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang berpusat kepada siswa memang tidak mudah, Dalam hal ini, lesson Study tampaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mendorong terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran di Indonesia menuju ke arah yang jauh lebih efektif.
Menurut Styler dan Hiebert dalam Susilo (2009), lesson Study adalah suatu proses kolaboratif pada sekelompok guru ketika mengidentifikasi masalah pembelajaran, merancang suatu skenario pembelajaran, membelajarkan peserta didik sesuai skenario, mengevaluasi dan merevisi skenario pembelajaran, membelajarkan lagi skenario pembelajaran yang telah direvisi, mengevaluasi lagi pembelajaran dan membagikan hasilnya dengan guru-guru lain (mendiseminasikannya).

B.     Konsep Lesson Study

Lesson Study merupakan suatu bentuk utama peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan keprofesionalan guru yang dipilih oleh guru-guru Jepang. Sementara itu lesson study di Indonesia dilaksanakan sejak tahun 2006 melalui Program SISTTEMS (Strengthening In-Service Teacher Training of Mathematics and Science Education at Secondary Level) yang didukung Direktorat PMPTK, DIKTI, dan JICA. Pelaksanaannya di tiga kota, yaitu Sumedang, berkolaborasi dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI); Bantul, berkolaborasi dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY); dan Pasuruan, berkolaborasi dengan Universitas Negeri Malang (UM) (Susilo, dkk: 2009).
Mulyana (2007) menyebutkan bahwa ada dua bentuk lesson study yang dapat dilaksanakan di Indonesia, yaitu:
a.       Lesson study berbasis Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), yakni lesson study yang dilaksanakan pada setiap hari pertemuan MGMP yang telah ditetapkan. Kegiatan yang dilakukan meliputi plan pada minggu pertama, do pada minggu kedua, dan see pada minggu ketiga.
b.      Lesson study berbasis sekolah (LSBS), yakni lesson study yang dilakukan di suatu sekolah dengan kegiatan utama berupa open lesson atau open class oleh setiap guru secara bergiliran pada hari tertentu.
Bentuk lesson study manapun yang menjadi pilihan bagi seorang guru tidak menjadi masalah asalkan dilakukan sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah ditentukan. 

C.       Siklus Kegiatan Lesson Study
Fernandez dan Yoshida (2004) memaparkan 6 langkah dalam proses melaksanakan suatu lesson Study, yaitu :
a.       merencanakan pembelajaran secara kolaboratif (bersama-sama).
b.      melaksanaan pembelajaran. Seorang guru ditunjuk sebagai pengajar sementara yang lain menjadi pengamat.
c.       melakukan diskusi refleksi tentang pembelajaran.
d.      merevisi rencana pembelajaran.
e.       melaksanakan pembelajaran di masing-masing kelas.
f.       melakukan sharing tentang hasil pembelajaran masing-masing.
Jika 6 langkah Lesson Study tersebut disingkat menjadi perencanaan (plan), pelaksanaan (do), dan refleksi (see) maka Lesson Study merupakan siklus dari kegiatan plan-do-see.
Pada tahap perencanaan, mula-mula peserta memilih salah seorang peserta menjadi moderator yang nantinya akan menjadi pemimpin sidang perencanaan. Di dalam proses perencanaan ini para guru hendaknya mengkaji :
a.       kurikulum , termasuk di dalamnya mencermati Kompetensi Dasar.
b.      menentukan materi pembelajaran yang akan disajikan. Biasanya materi yang dipilih adalah materi yang sulit bagi siswa, sulit bagi guru, materi baru dalam kurikulum dan materi yang memerlukan metode pembelajaran yang efektif.
c.       menyusun indikator dan pengalaman belajar siswa.
d.      menentukan metode yang sesuai.
e.       menentukan urutan proses pembelajaran.
f.       menyusun LKS (jika diperlukan).
g.      menyusun evaluasi.
            Adapun hasil yang diharapkan dari kegiatan perencanaan adalah :
a.       Rencana Proses Pembelajaran (RPP), ini digunakan sebagai skenario proses pembelajaran.
b.      Media pembelajaran yang diperlukan.
c.       LKS (jika diperlukan).
Setelah dihasilkan produk pada tahap perencanaan, maka selanjutnya dimulai tahap pelaksanaan. Tahap pelaksanaan dimulai dengan memilih salah seorang peserta sebagai guru pengajar. Selanjutnya nanti, guru dapat ditunjuk secara bergantian agar semua pernah melaksanakan proses pembelajaran dengan diamati oleh guru yang lain. Guru yang ditunjuk sebagai pengajar hendaknya patuh pada skenario yang telah disusun. Akan tetapi jika pada saat proses pembelajaran berlangsung terjadi situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, guru pengajar tersebut dapat memodifikasi atau mengubah skenario sesuai dengan keadaan. Di sini dituntut kepekaan dan kreativitas guru dalam menghadapi masalah.
Pada waktu guru terpilih melakukan pengajaran, guru yang lainnya bertindak sebagai pengamat yang mengamati bagaimana siswa belajar, bukan bagaimana guru mengajar. Hal-hal yang diamati pada siswa antara lain adalah bagaimana tingkah laku, bahasa tubuh, hubungan siswa dengan siswa, hubungan siswa dengan guru, dan hubungan siswa dengan lingkungan. Agar pengamat dapat melakukan tugasnya dengan mudah, maka pengamat perlu membuat lembar observasi. Hasil pengamatan hendaknya ditulis secara akurat, objektif, dan bukan berdasarkan pada apa yang seharusnya sesuai dengan keinginan pengamat, melainkan berdasarkan fakta yang terjadi.
Refleksi dilakukan pada hari itu juga setelah selesai proses pembelajaran. Hal ini dilakukan mengingat suasana proses pembelajaran yang masih segar dalam ingatan dan masih mudah diingat. Namun demikian, jika tidak dapat dilakukan segera, refleksi dapat dilakukan pada hari yang lain asalkan tersedia hasil rekaman video proses pembelajaran yang nantinya akan diputar terlebih dahulu sebelum dilakukannya proses refleksi.
Pada saat refleksi, kegiatan pertama yang dilakukan adalah mempersilahkan guru pengajar melakukan refleksi terlebih dahulu seperti bagaimana perasaan sebelum dan sesudah pembelajaran, mengapa mengajar tidak sesuai dengan skenario, apakah guru tersebut merasa tujuan pembelajaran tercapai, serta bagaimana tingkat kepuasan guru dalam melaksanakan pembelajaran, Setelah itu barulah didengarkan hasil refleksi satu persatu dari pengamat.
Hasil refleksi tersebut nantinya akan digunakan untuk perencanaan proses pembelajaran selanjutnya. Jika terdapat kelebihan-kelebihan selama proses pembelajaran, maka hal itu dipertahankan. Sebaliknya jika terdapat kekurangan, maka dilakukan revisi terhadap skenario pembelajaran yang telah dibuat.
Dengan melakukan perencanaan bersama, mengamati bersama dan melakukan refleksi bersama, para guru akan terasah pemahaman dan keterampilannya dalam merancang pembelajaran yang berpusat pada siswa belajar dan berorientasi pada aktivitas dan kreativitas siswa serta terlatih mengamati siswa belajar. Jika keprofesionalan guru meningkat maka hasil belajar siswa pun akan meningkat pula. Jadi secara tidak langsung lesson study meningkatkan mutu pendidikan.
Mengingat banyaknya jumlah guru yang ada di Indonesia, tidak memungkinkan bagi pemerintah untuk memberikan pendidikan dan pelatihan kepada semua guru. Lesson study ini diharapkan dapat menjadi salah satu model pembinaan guru agar guru lebih professional. Pembinaan ini dapat dilakukan sendiri oleh guru bersama guru lain sehingga terjadi proses belajar membelajarkan antar guru itu sendiri. Filsafat lesson study adalah guru belajar agar dapat mengajar dengan baik.
D.    Keunggulan dan Kelemahan Lesson Study
Terlihat jelas bahwa lesson study ini memiliki banyak manfaat bagi guru. Susilo (2009) menyebutkan beberapa manfaat yang dirasakan oleh guru ketika mengikuti lesson study, seperti:
a.       mengurangi keterasingan guru (dari komunitasnya) dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dan perbaikannya
b.      membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya
c.       memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan kurikulum
d.      membantu guru memfokuskan bantuannya pada seluruh aktivitas belajar peserta didik
e.       meningkatkan kolaborasi antar sesama guru dalam pembelajaran
f.       meningkatkan mutu guru dan mutu pembelajaran yang pada gilirannya berakibat pada peningkatan mutu lulusan
g.      memungkinkan guru memiliki banyak kesempatan untuk membuat bermakna ide-ide pendidikan dalam praktik pembelajarannya sehingga dapat mengubah perspektif tentang pembelajaran, dan belajar praktik pembelajaran dari perspektif peserta didik
h.      mempermudah guru berkonsultasi kepada pakar dalam hal pembelajaran atau kesulitan materi pelajaran
i.        memperbaiki praktik pembelajaran di kelas
j.        meningkatkan keterampilan menulis karya tulis ilmiah atau buku ajar
Meskipun banyak manfaat yang didapatkan oleh guru ketika mengikuti lesson study, namun dalam pelaksanaannya kegiatan ini juga sering mengalami hambatan. Menurut Susilo (2009), hambatan terbesar dalam pelaksanaan lesson study ini yaitu kurangnya pemahaman dan komitmen guru mengenai apa, mengapa, dan bagaimana melaksanakannya. Selain itu juga faktor budaya dan biaya. Hambatan budaya dan konteks merupakan salah satu hal yang harus diatasi dalam pelaksanaannya. Hambatan budaya yang berupa kecendrungan guru yang kurang memiliki komitmen dan kesungguhan hati untuk melakukan yang terbaik, kurang memiliki sikap “mau belajar sepanjang hayat”, dan lebih tertarik melakukan sesuatu bila ada “biaya”nya. Hambatan lain yaitu kurang terbiasa mengembangkan budaya saling belajar dan membelajarkan secara kolaboratif dan kurang biasa melakukan refleksi diri secara kritis.
E.        Penutup
 Pada akhirnya keberhasilan kegiatan lesson study sebagai suatu usaha untuk meningkatkan keprofesionalan guru sangatlah bergantung pada komitmen, keyakinan, dan kesadaran dari seluruh peserta. Mereka juga menyadari bahwa lesson study  ini merupakan suatu wadah untuk saling belajar, saling memperbaiki diri, sehingga kritikan maupun masukan dari rekan sejawat menjadi suatu hal yang penting, bukan menjadi suatu hal yang harus ditakuti dan dihindari.

Referensi:
Susilo, H.,  Chotimah. H., Joharmawan, R., Jumiati., Sari, Y.D., Sunarjo. 2009. Lesson Study Berbasis Sekolah. Bayumedia Publishing: Malang

Mulyana, S. 2007. Lesson Study (Makalah). Kuningan: LPMP-Jawa Barat

Yoshida, M., & Fernandez, C. 2004. Lesson Study: A Japanese Approach to Improving Mathematics Teaching and Learning. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.

No comments:

Post a Comment