ANALISIS PENGARUH DAERAH ASAL DAN JENIS SEKOLAH TERHADAP DAYA SAING BELAJAR MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL UIN SUSKA RIAU

Julina
Dosen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Suska Riau, julina22@ymail.com

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya saing belajar mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Suska Riau Pekanbaru ditinjau dari daerah asal dan jenis sekolah sebelumnya. Daerah asal dibagi menjadi Pekanbaru yang mewakili daerah perkotaan dan kabupaten/kota dalam Provinsi Riau yang mewakili pedesaan. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa indeks prestasi sebagai ukuran prestasi belajar dan data-data lain yang menunjang. Data  dalam penelitian dianalisis menggunakan analysis of variance dengan satu variabel dependen yaitu indeks prestasi siswa dan dua variabel independen daerah asal dan jenis sekolah sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari dua variabel bebas yang diuji, hanya satu variabel yang memiliki pengaruh langsung dan signifikan terhadap prestasi belajar, yaitu daerah asal dan tidak ditemukan pengaruh langsung untuk variabel jenis sekolah. Selain menguji pengaruh utama, penelitian ini menguji pula pengaruh interaksi antara daerah asal dan jenis sekolah terhadap prestasi belajar, namun tidak ditemukan pengaruh yang signifikan untuk interaksi antar daerah asal dan jenis sekolah terhadap prestasi belajar. Selain itu ditemukan pula bahwa tamatan SMA dari Pekanbaru dan luar Provinsi Riau indeks prestasinya lebih tinggi dari MA dan SMK. Namun hal sebaliknya terjadi untuk tamatan SMA yang dari kabupaten/kota di luar Pekanbaru, rata-rata indeks prestasi mereka justru paling rendah dibandingkan dengan MA dan SMK. Oleh karena itu disarankan kepada pemerintah, khususnya melalui dinas pendidikan untuk memberikan perhatian kepada SMA yang berada pada kabupaten dan kota di Provinsi Riau agar dapat meningkatkan daya saing lulusannya.
Kata kunci: daerah asal, jenis sekolah, prestasi belajar
Abstract: This research objective is to find out students achievement based on their original area and type of school at Economic and Social Sciences Faculty of UIN Suska Riau. Area of origin is divided into Pekanbaru as an urban and regencies out of Pekanbaru as a rural area. The data used are secondary data in the form of achievement index as a measure of learning achievement and other supporting data that. The data was analyzed using analysis of variance with one dependent variable (student’s achievement) and two independent variables (original area and type of school). The result showed that from two independent variables tested only one variable has significant direct effect to the achievement index, that is original area and it does not found significant direct effect for type of school. Besides tested the main effect, this study also tested interaction effect between original area and type of school toward student achievement, yet it does not found significant interaction effect on it.  Moreover, it was found that students of senior high school (SMA) from Pekanbaru and out of Riau Province had the highest score compare to Islamic senior high school (MA) and vocational high school (SMK). Contrary to students of senior high school from regencies in Riau Province, their achievement score was the lowest compare to MA and SMK. So, it is suggested to the government, especially education department, to give high commitment to the senior high school in the regencies and cities in Riau Province to increase the competency of the students.
Keywords: original area, type of school, student achievement.
A.    PENDAHULUAN
Pendidikan secara umum ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa untuk menjadi bekal hidupnya kelak. Di Indonesia pemerintah telah menetapkan wajib belajar 9 tahun bagi anak usia didik. Untuk menjamin tercapainya tujuan ini, pemerintah meluncurkan program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi pendidikan dasar yaitu SD dan SMP. Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pendidikan, banyak orang tua yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan pada anak-anaknya bukan sekedar memenuhi kewajiban akan pendidikan dasar 9 tahun tersebut. Terdapat beberapa alternatif sekolah lanjutan bagi anak usia didik yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan sekolah menengah atas yang menambahkan porsi pelajaran agama Islam yang lebih banyak dibanding SMA yang disebut dengan Madrasah Aliyah (MA). Apapun jenis sekolah menengah yang ada, kualitasnya tidak hanya ditentukan apakah kurikulumnya lebih banyak ke teori atau praktek. Namun juga sangat ditentukan oleh berbagai faktor seperti kelengkapan sarana dan pra sarana, pelaksanaan proses belajar mengajar, kualitas guru dan siswanya, juga faktor kelengkapan administrasi yang dapat menunjang kemajuan suatu sekolah. Tidak dipungkiri bahwa luasnya wilayah Indonesia yang terdiri ribuan pulau membuat lokasi sekolah juga tersebar kemana-mana. Sulitnya transportasi untuk menjangkau semua daerah akan sangat mempengaruhi pra sarana dan juga guru yang ingin mengajar kesana. Pada gilirannya hal ini akan mempengaruhi kualitas sebuah institusi pendidikan dan tentu saja lulusannya.
Awal tahun 2010 yang lalu, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menyelenggarakan Rembuk Nasional Pendidikan (Rembuknasdik) yang diharapkan akan melahirkan pola-pola baru dalam pendidikan di Indonesia yang bisa disepakati bersama lalu diimplementasikan di sekolah-sekolah. Terdapat beberapa hal yang dibahas dalam Rembuknasdik tersebut, diantaranya akselerasi pemerataan pembangunan pendidikan dan strategi operasional Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Selain itu dibahas pula mengenai revitalisasi peran kepala sekolah dan pengawas serta strategi pengadaan dan distribusi guru berkompeten. Dalam konteks ini mengemuka masalah disparitas mutu guru antar berbagai daerah, sistem rekrutmen yang belum sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan, kurangnya anggaran untuk meningkatkan mutu tenaga pendidik dan kependidikan. Hal penting lain yang dibahas adalah penyelarasan pendidikan untuk membangun manusia yang berdaya saing  dan penguatan peran pendidikan dalam upaya peningkatan akhlak mulia dan pembangunan karakter bangsa (Warta Balitbang, 2010).
Permasalahan-permasalahan yang terungkap dalam Rembuknasdik diatas, kemungkinan besar juga terjadi di Provinsi Riau. Provinsi Riau terdiri dari dua kota dan beberapa kabupaten yaitu Kota Pekanbaru, Kota Dumai, Kabupaten Rokan Hilir, Rokan Hulu, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Pelelawan, Siak, Bengkalis, Kuantan Singingi, dan Kampar. Sebagaimana kita ketahui sistem desentralisasi dalam mengelola guru memungkinkan terjadinya masalah-masalah seperti tersebut diatas. Begitu pula kurangnya anggaran pendidikan dalam menyelenggarakan proses kependidikan akan mempengaruhi mutu sekolah dan juga berimbas pada daya saing lulusannya. Berdasarkan pembahasan tersebut terlihat bahwa masih terdapat beberapa kendala yang perlu diselesaikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita. Salah satu yang ingin dibahas dalam penelitian ini adalah mengenai daya saing siswa, khususnya daya saing belajar yang diukur dengan indeks prestasi yang mereka peroleh. Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi indeks prestasi belajar mahasiswa. Penelitian ini mencoba melihat apakah terdapat perbedaan prestasi berdasarkan asal daerah dan jenis sekolah. Asumsi yang mendasari adalah sekolah-sekolah di kabupaten atau kota diluar kota Pekanbaru memiliki sarana dan prasarana yang secara umum lebih minim dibandingkan dengan Kota Pekanbaru. Mahasiswa yang masuk ke UIN Suska Riau berasal dari berbagai daerah baik di dalam Provinsi Riau sendiri maupun dari Luar Provinsi Riau. Hal ini dimungkinkan dengan jalur masuk ke UIN yang bisa melalui SNMPTN yang bisa diikuti dari kota lain. Penelitian ini mengelompokkan daerah asal mahasiwa yang masuk ke UIN menjadi tiga kriteria yaitu dari Kota Pekanbaru, Kabupaten/Kota diluar Kota Pekanbaru, dan dari luar Provinsi Riau. Dari sisi jenis sekolah, penelitian ini juga mencoba untuk melihat apakah mahasiswa dengan dasar jenis sekolah menengah atas yang berbeda mempunyai prestasi yang berbeda pula. Oleh karena itu penelitian ini juga ingin mengungkapkan apakah perbedaan jenis sekolah tadi juga mempengaruhi daya saing belajar di UIN Suska Riau Pekanbaru.

B.     KAJIAN PUSTAKA
1.      Perbandingan Lulusan SMA, MA, dan SMK
Di Indonesia terdapat beberapa alternatif bagi siswa lulusan SLTP untuk melanjutkan studinya yaitu ke SMA, MA, dan SMK. Pada umumnya SMA dan MA didisain untuk mempelajari teori dengan porsi yang lebih banyak dan diarahkan untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi seperti akademi, sekolah tinggi, institut, atau universitas. Sedangkan SMK didisain mempelajari keahlian lebih banyak sehingga lebih siap untuk terjun langsung ke dunia kerja. Namun demikian, tamatan SMK juga tetap bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi jika berminat. Saat ini pemerintah sangat menggalakkan siswa untuk melanjutkan ke SMK melalui layanan iklan di media elektronik. Seiring dengan usaha merubah paradigma berpikir masyarakat bahwa SMK adalah sekolah kelas dua, pemerintah juga mencanangkan untuk memperbanyak jumlah SMK ke depannya. Depdiknas sendiri pernah mencanangkan akan meningkatkan jumlah siswa SMK yang pada masa sekarang  3 siswa SMK berbanding 7 siswa SMA menjadi 6 siswa SMK dan 4 Siswa SMA.
Berdasarkan data SUSENAS 2006 penduduk usia produktif 20-54 tahun yang berpendidikan terakhir SMA sederjat (SMA/SMK/MA) sekitar 25.2% dimana di daerah perkotaan lebih banyak lulusan SMA sederajat dibandingkan pedesaan. Ditinjau dari kacamata dunia kerja, lulusan SMA sederajat ini sebagian besar bekerja sebagai buruh/karyawan. Secara keseluruhan, 17.9% penduduk usia 20-54 tahun merupakan lulusan SMA, 5.9% lulusan SMK dan 1.3% lulusan MA. Cukup masuk akal karena jenis sekolah pendidikan SMU lebih banyak dibandingkan kedua jenis sekolah atas lainnya. Namun begitu, lulusan SMK ternyata lebih mudah mendapatkan pekerjaan (70.1%) dibandingkan SMA (60.2%) atau MA (60.5%), dan yang menarik lulusan SMA dan MA mempunyai kesempatan bekerja yang sama. Sebagian besar lulusan SMA sederajat bekerja sebagai buruh/karyawan, dimana lulusan SMK (44.3%) lebih besar dibandingkan SMA (32.6%) dan yang paling rendah adalah MA (23.3%). Kurikulum pendidikan SMK yang memang ditujukan untuk mengasah kemampuan ketrampilan dunia kerja ternyata berpengaruh dalam kemudahan mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Baik di Perkotaan maupun Pedesaan kondisinya tidak berbeda banyak. Diagram 1 menggambarkan persentase penduduk 20-54 tahun bekerja menurut lulusan dan kota/desa (http://andi.stk31.com).

Diagram 1. Persentase Penduduk 20-54 tahun Bekerja Menurut Lulusan
Lulusan SMA yang termasuk bukan angkatan kerja (sekolah atau urus rumah tangga) banyak terdapat di perkotaan (30.4%) dibadingkan dengan pedesaan (22.6%), begitu juga dengan lulusan MA. Sedangkan untuk lulusan SMK tidak ada perbedaan antar kota-desa, tetapi lulusan SMK yang bukan angkatan kerja ternyata lebih rendah (17.4%) dibandingkan SMA (28.1%) atau MA (27%).

2.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Peningkatan prestasi belajar siswa telah menjadi tujuan utama dari pendidikan. Selama sepuluh tahun terakhir ini, banyak penelitian yang dilakukan untuk menentukan faktor apa yang mempengaruhi prestasi belajar siswa baik faktor yang berpengaruh positif maupun negatif. Syakira (2009) menyatakan bahwa keberhasilan mahasiswa dipengaruhi oleh (1) Kondisi Fisiologis, dapat bersifat  umum (segar jasmaninya serta kondisi kesehatan terawat dengan baik) dan khusus (memfungsikan panca indera saat proses belajar berlangsung, terutama penglihatan dan pendengaran). (2) Kondisi Psikologis. Saifuddin Azwar (2002) membedakan kondisi psikologis ini dalam 2 kategori, yaitu variabel non kognitif dan kemampuan kognitif. Variabel non kognitif terdiri dari minat, motivasi, dan variabel-variabel kepribadian lainnya. Sedangkan variabel kognitif terdiri atas kemampuan khusus (bakat) dan kemampuan umum (intelegensia). (3) Kemampuan Pembawaan, setiap orang mempunyai potensi kemampuan sendiri-sendiri. Misalnya kemampuan pembawaan berupa kecerdasan. Kecerdasan sangat menentukan kecepatan atau penerimaan pelajaran. (4) Kemauan Belajar (Minat dan Motivasi). (5) Sikap terhadap Guru dan Mata Kuliah, (6) Bimbingan, dan (7) Ulangan.
Berdasarkan studi empiris para peneliti belum mencapai konsensus mengenai penyebab terjadinya perbedaan kemampuan atau prestasi belajar ini. Lareau menyatakan bahwa siswa yang berasal dari keluarga golongan menengah ke bawah dan orang tuanya tidak terlalu terlibat dalam proses pembelajaran memiliki prestasi belajar yang lebih rendah dibandingkan dengan siswa yang berasal dari golongan menengah ke atas dan orang tuanya ikut terlibat. Peneliti lain menyatakan bahwa pencapaian akademik sangat terkait dengan ras dan status sosial ekonomi dan mencoba meneliti mengapa terjadi demikian. Untuk keluarga dengan status ekonomi rendah perlengkapan belajar biasanya lebih sedikit dengan asupan gizi yang juga sedikit serta akses terbatas untuk perawatan kesehatan. Semua ini berkontribusi terhadap kinerja akademis yang lebih rendah. Para peneliti yang menitikberatkan gap prestasi antar gender menyatakan bahwa perbedaan perkembangan dan struktur otak sebagai alasan yang mungkin mengapa salah satu jenis kelamin melampaui jenis kelamin lainnya untuk subjek tertentu. Misalnya penelitian yang dilakukan di Virginia Tech pada tahun 2000 menguji otak 508 anak-anak dan menemukan bahwa area otak yang berbeda berkembang dengan urutan yang berbeda antara anak lelaki dan perempuan. Perbedaan kecepatan kedewasaan otak antara anak lelaki dan perempuan mempengaruhi bagaimana setiap jenis kelamin memproses informasi dan dapat berimplikasi pada bagaimana prestasi mereka di sekolah. Hernsten dan Murray menyatakan bahwa variasi genetic pada tingkat rata-rata IQ adalah akar dari perbedaan ras dalam prestasi belajar, sementara peneliti lain menyatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam kemampuan koginitif antara ras yang berbeda yang dapat membantu menjelaskan perbedaan prestasi, dan lingkunganlah yang merupakan akar dari isu-isu perbedaan prestasi (Wikipedia).
Mondoh (2001) seperti dikutip dalam Bosire, Mondoh, dan Barmao (2008) menyatakan bahwa anak lelaki cenderung memiliki cara berpikir dan belajar yang spontan, pendekatan yang menyeluruh, memiliki atribut yang memusat, sementara anak perempuan cenderung mendalam, per bagian, dan berhati-hati. Perbedaan-perbedaan atribut kognitif ini mempengaruhi anak lelaki dan perempuan secara berbeda khususnya pada tingkat percaya diri, sikap, kemampuan mengambil risiko, interaksi dan kemampuan intelektual.
Faktor lain yang juga dianggap mempengaruhi hasil belajar adalah lokasi dimana siswa menuntut ilmu. Pada umumnya siswa yang berasal dari desa memiliki prestasi belajar yang lebih rendah daripada siswa yang berasal dari kota. Hal ini diduga antara lain karena biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan merupakan hal yang penting dan biasanya sekolah di pedesaan memperoleh anggaran biaya yang lebih sedikit. Selain itu juga terdapat perbedaan sikap individu, orang tua dan juga teman sebaya yang berbeda untuk wilayah pedesaan dan perkotaan yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dari daerah yang berbeda.
Selain guru, kondisi fisik kelas juga terbukti mempengaruhi prestasi belajar siswa. Penelitian tentang pencapaian akademis siswa dan kondisi bangunan kelas menyimpulkan bahwa kualitas lingkungan fisik signifikan mempengaruhi prestasi siswa (Earthman, 2004). Selain dari sisi kualitas lingkungan fisik, jumlah siswa dalam kelas memiliki potensi mempengaruhi seberapa banyak materi yang dapat dipelajari. Misalnya mempengaruhi bagaimana siswa berinteraksi satu sama lain. Hal ini juga mempengaruhi perilaku yaitu menimbulkan sedikit banyaknya keributan yang selanjutnya mempengaruhi aktivitas guru. Tingkat keributan ini dapat mempengaruhi seberapa lama guru dapat memfokuskan pada siswa secara individu dan kebutuhan spesialnya dibandingkan kelompok secara keseluruhan. Lebih mudah untuk fokus pada kelompok kecil dibandingkan kelompok besar. Ukuran kelas juga mempengaruhi alokasi waktu guru dan keefektifan mengajar seperti seberapa banyak materi dapat disampaikan (Ehrenberg, et al. 2001).
Selain dari faktor-faktor yang sudah dijelaskan diatas, penelitian yang dilakukan di Pakistan menemukan bahwa ibu yang berpendidikan berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa. Begitu pula hubungan antara sikap siswa terhadap tingkat kehadiran dikelas menunjukkan berhubungan positif dengan prestasi belajar siswa. Namun ditemukan hubungan negatif antara usia ibu, alokasi waktu belajar di rumah, dan pendapatan keluarga terhadap prestasi belajar. Ini membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi hubungan negatif ini (Hijazi dan Naqvi, 2006).

C.    METODE
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Suska Riau Pekanbaru yang berlokasi di Jl. H.R Soebrantas KM 15 Simpang Baru Panam Pekanbaru. Data yang digunakan adalah data indeks prestasi mahasiswa reguler yang merupakan nilai rata-rata dari sembilan mata kuliah pada semester I. Keputusan untuk pengambilan nilai di semester I satu dikarenakan jumlah mata kuliah yang diambil sama banyaknya untuk setiap mahasiswa. Semester II dan selanjutnya terdapat kemungkinan mahasiswa mengambil mata kuliah dengan jumlah yang berbeda tergantung dari indeks prestasi belajar mereka di semester I. Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa regular tingkat I Tahun Akademik 2010/2011. Teknik pengambilan sampelnya adalah total sampling dimana semua populasi dijadikan sampel. Populasi dalam penelitian ini lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.
          Tabel 1. Jumlah Mahasiswa Tingkat I Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Suska Riau

No
Jurusan
Jumlah (Orang)
1
Akuntansi
144
2
Manajemen
193
3
Administrasi Negara
161
4
D3 Akuntansi
  65
5
D3 Administrasi Perpajakan
  38
6
D3 Manajemen Perusahaan
  44

Selanjutnya data dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah indeks prestasi belajar mahasiswa, sedangkan variabel independennya adalah daerah asal dan jenis sekolah. ANOVA merupakan metode untuk menguji hubungan antara satu variabel dependen (skala metrik) dengan satu atau lebih variabel independen (skala non metrik atau kategorikal dengan kategori lebih dari dua). ANOVA digunakan untuk mengetahui pengaruh utama (main effect) dan pengaruh interaksi (interaction effect) dari variabel independen kategorikal terhadap variabel dependen metric. Pengaruh utama adalah pengaruh langsung variabel independen terhadap variabel dependen. Sedangkan pengaruh interaksi adalah pengaruh bersama atau joint effect dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen (Ghozali, 2009).
Untuk melengkapi pembahasan, mahasiswa juga diminta untuk memberikan pendapat mereka secara bebas dan anonym untuk menjamin kebebasan mereka mengungkapkan pendapat mengenai faktor apa yang mempengaruhi prestasi belajar mereka. Kali ini tidak semua populasi dijadikan sampel. Teknik penarikan sampelnya adalah accidental sampling dimana hanya sebagian dari mahasiswa yang kebetulan ditemui yang dimintai pendapatnya.

D.    HASIL DAN PEMBAHASAN
Populasi dan Sampel dalam penelitian ini berjumlah 645 mahasiswa dari enam jurusan dan program studi yaitu Akuntansi, Manajemen, Administrasi Negara, D3 Manajemen Perusahaan, D3 Akuntansi, dan D3 Administrasi Perpajakan. Selain menganalisis data menggunakan metode kuantitatif, penelitian ini juga memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengungkapkan secara anonim apa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar mereka. Selanjutnya analisis deskriptif untuk variabel independen (daerah asal dan jenis sekolah) dapat dilihat pada Diagram 2 dan 3. Berdasarkan Diagram 2 terlihat bahwa 457 mahasiswa (71%) berasal dari luar kota sedangkan 131 mahasiswa (20%) berasal dari Kota Pekanbaru, dan sisanya 57 mahasiswa (9%) dari luar Provinsi Riau. Hal ini menunjukkan bahwa untuk UIN Suska Riau, dan khususnya Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, sebagian besar mahasiswa merupakan pendatang dari berbagai kabupaten dan kota di dalam Provinsi Riau.
                                        Diagram 2. Data Mahasiswa Berdasarkan Daerah Asal


Diagram 3. Data Mahasiswa Berdasarkan Jenis Sekolah


Dalam memilih sekolah terkadang lebih banyak merupakan oleh pilihan orang tua dari pada pilihan anak. Kenyataan yang terlihat dimana-mana adalah anak-anak mereka ramai-ramai masuk ke SMA tanpa tahu mengapa harus masuk SMA. Sangat sedikit jumlahnya yang melanjutkan studi ke Sekolah Kejuruan (SMK). Perbandingannya cukup fantastis. Secara nasional, menurut data di Depdiknas, prosentase peminat SMK kecil dari 5%. Hanya ada di empat provinsi (DKI, Jawa Barat, Jateng, Jatim) peminat lulusan SLTP melanjutkan ke SMK di atas 10%. Selebihnya sangat mengharukan, karena di sebagian besar daerah, peminat masuk SMK di bawah 2% (http://enewsletterdisdik.wordpress.com).
Diagram selanjutnya menggambarkan jenis kelamin mahasiswa. Jumlah mahasiswa laki-laki dan perempuan tidak terlalu berbeda jauh. Lengkapnya dapat dilihat pada Diagram 4. Suatu survey di Amerika menemukan bahwa dari tahun 1995 sampai dengan 2005, jumlah pria yang mendaftar di akademi meningkat 18%, sementara jumlah wanita meningkat 27%. Pria yang mendaftar di akademi lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, tapi kurang dari dua pertiganya yang berhasil mendapatkan gelar sarjana muda. Jumlah pria dan wanita yang berhasil mendapatkan gelar sarjana muda meningkat dengan tajam, namun peningkatan lulusan akademi wanita lebih melampaui lulusan akademi yang pria (http://en.wikipedia.org).

Diagram 4. Data Mahasiswa Berdasarkan Jenis Kelamin


Selanjutnya Diagram 5 menggambarkan data mahasiswa berdasarkan status sekolah sebelumnya. Sebagaimana kita ketahui, status sekolah hanya ada dua yaitu sekolah negeri atau swasta. Mayoritas mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Suska Riau berasal dari sekolah negeri (70%), sementara hanya sekitar 30% yang berasal dari sekolah swasta. Di berbagai belahan dunia terjadi perdebatan mengenai mana yang lebih berkualitas yaitu apakah sekolah swasta atau sekolah negeri. Di beberapa negara seperti Kolombia dan Tanzania, Republik Dominika, Philipina dan Uganda ditemukan bahwa sekolah swasta lebih baik dari pada sekolah negeri, namun sebaliknya untuk negara-negara seperti Tanzania, Rwanda, dan Indonesia ditemukan sekolah negeri yang lebih baik dari sekolah swasta. Penelitian lain menemukan hasil yang bervariasi dimana hasilnya berbeda tergantung dari jenis sekolah dalam konteks tertentu (Martha, 2011). Untuk sampel dalam penelitian ini tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar mahasiswa yang berasal dari sekolah negeri dan swasta. Hasil Uji T-test sebesar 0.333 dan tidak signifikan pada 0.05.

Diagram 5. Data Berdasarkan Status Sekolah

Selanjutnya untuk menganalisis data menggunakan ANOVA terdapat beberapa asumsi yang harus dipenuhi. Levene’s test of homogeinity of variance dihitung menggunakan SPSS untuk menguji asumsi ANOVA bahwa setiap group (kategori) variabel independen memiliki variance sama. Jika Levene statistic signifikan pada 0.05 maka kita dapat menolak hipotesis nol yang menyatakan group memiliki variance sama. Tabel 2 menggambarkan output hasil uji Levene test.

Tabel 2. Hasil Uji Levene Test

F
df1
df2
Sig.
1.048
8
636
.398

Hasil uji Levene test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan variance oleh karena nilai F hitung sebesar 1.048 secara statistik tidak signifikan pada 0.05 yang berarti hipotesis nol diterima. Hal ini  berarti asumsi ANOVA terpenuhi bahwa variance sama dan tidak terdapat penyimpangan terhadap asumsi ANOVA. Pada prakteknya walaupun asumsi variance sama ini tidak terpenuhi, Box (1954) seperti dikutip dalam Ghozali (2009) menyatakan bahwa ANOVA masih dapat digunakan oleh karena ANOVA robust untuk penyimpangan yang kecil dan moderat dari homogeneity of variance. Selanjutnya test between-subject effect dapat dilihat pada Tabel 3.

  Tabel 3. Test of Between-Subject Effects

Source
Type III Sum of Squares
Df
Mean Square
F
Sig.
Corrected Model
2.820a
8
.352
3.724
.000
Intercept
1957.241
1
1957.241
20682.068
.000
ASAL
.660
2
.330
3.486
.031
JS
.315
2
.157
1.663
.190
ASAL * JS
.876
4
.219
2.315
.056
Error
60.188
636
.095


Total
6594.921
645



Corrected Total
63.007
644



a. R Squared = .045 (Adjusted R Squared = .033)

Hasil uji Anova menunjukkan bahwa terdapat pengaruh langsung antara variabel independen asal terhadap indeks prestasi. Nilai F sebesar 3.486 signifikan pada 0.05. Hal ini berarti ada perbedaan indeks prestasi antar asal daerah (Pekanbaru, luar Pekanbaru, luar Provinsi Riau).  Sementara untuk jenis sekolah hasil Anova menunjukkan nilai F sebesar 1.663 dan tidak signifkan pada 0.05. hal ini berarti tidak terdapat perbedaan indeks prestasi antar jenis sekolah (SMA, MA, dan SMK). Hasil interaksi antara asal daerah dan jenis sekolah memberikan nilai F sebesar 2.315 dan tidak signifikan pada 0.05. Hal ini berarti tidak terdapat pengaruh bersama atau joint effect antara asal daerah dan jenis sekolah terhadap indeks prestasi. Adjusted R Squared sebesar 0.033 yang berarti variabilitas indeks prestasi yang dapat dijelaskan oleh variabel asal daerah dan jenis sekolah sebesar 3.3%.
Selanjutnya, penelitian ini juga mencoba untuk melihat hasil interaksi antara asal daerah dan jenis sekolah. Berdasarkan analisis menggunakan Anova, hasil interaksinya digambarkan pada Diagram 6. Hubungan interaksi antar asal daerah dan jenis sekolah adalah untuk mahasiswa tamatan SMA dari Pekanbaru dan luar Provinsi Riau indeks prestasinya lebih tinggi dari MA dan SMK. Namun hal sebaliknya terjadi untuk tamatan SMA yang dari kabupaten/kota diluar Pekanbaru. Siswa tamatan SMK dari Pekanbaru dan luar Provinsi Riau memiliki indeks prestasi yang paling rendah dibandingkan sekolah lainnya, namun siswa SMK yang berasal dari luar kota Pekanbaru menenpati posisi kedua setelah siswa dari MA.

          Diagram 6. Interaksi antara Jenis Sekolah dan Daerah Asal
Apa yang digambarkan pada Diagram 6 sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Siswa SMA dan MA yang memang dipersiapkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi menunjukkan prestasi belajar yang lebih tinggi pula dibandingkan SMK. Namun hal tidak diduga adalah siswa SMA yang berasal dari Kabupaten dan Kota di wilayah Provinsi Riau justru menunjukkan prestasi belajar yang paling rendah, bahkan jika dibandingkan dengan siswa yang berasal dari SMK.
Ditemukannya hasil penelitian yang menunjukkan bahwa siswa yang berasal dari SMA di Pekanbaru lebih berprestasi dibandingkan dari daerah lain yang dikategorikan daerah pedesaan sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Umo (2006) menemukan bahwa siswa dari daerah perkotaan memiliki prestasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan siswa yang berasal dari pedesaan. Dalam penelitiannya, Umo mendisain penelitian menggunakan kelas kontrol (menggunakan metode konvensional) dan kelas eksperimen (menggunakan metode permainan). Hasilnya menunjukkan bahwa siswa perkotaan yang diajar menggunakan metode konvensional memiliki prestasi belajar lebih tinggi dibandingkan metode permainan, sementara untuk daerah pedesaan siswa yang diajar menggunakan metode permainan memiliki prestasi yang lebih tinggi dibandingkan metode konvensional.
Penelitian Umo diperkuat pula oleh penelitian yang dilakukan oleh Jabbar, Aziz, and Zeb (2011) di Pakistan yang menemukan bahwa siswa yang berasal dari kota lebih tinggi prestasi belajarnya dibandingkan siswa yang berasal dari desa baik untuk siswa pria maupun wanita. Hasil uji t-value untuk siswa pria menunjukkan angka 3.694 dan signifikan pada level 0.05. Sedangkan t-value untuk siswa wanita menunjukkan angka 5.681 yang juga signifikan pada 0.05. Salah satu rekomendasi dari penelitian ini adalah perlunya menyediakan guru yang kompeten di daerah pedesaan karena prestasi siswa di daerah perkotaan secara langsung berhubungan dengan kinerja guru yang efisien.
Guru merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Guru yang berpengalaman biasanya memiliki wawasan yang luas, strategi pembelajaran yang lebih matang, dan penguasaan kelas yang lebih baik. Bajah dalam Yara (2009) menyatakan bahwa kesuksesan suatu kelas sangat bergantung pada guru yang mengajar. Dapat dinyatakan bahwa pada tingkatan tertentu karakteristik guru, pengalamannya, dan perilakunya di kelas memberikan kontribusi pada proses pembelajaran yang pada gilirannya akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Hipotesis umum yang berkaitan erat dengan hubungan antara pengalaman guru dan prestasi belajar siswa adalah siswa yang diajar oleh guru yang lebih berpengalaman memiliki prestasi belajar yang lebih tinggi karena gurunya telah menguasai materi dan keahlian mengelola kelas yang beragam. Keefektifan seorang guru adalah keahlian manajerial yang penting untuk meningkatkan pengawasan dan kedisiplinan kelas. Ini menyangkut kemampuan, kompetensi, kecerdikan, dan banyak akal untuk memanfaatkan dengan efisien ketepatan bahasa, metodologi, dan materi instruksional yang tersedia untuk menghasilkan yang terbaik dari siswa dalam hal pencapaian prestasi akademiknya. Seorang guru dikatakan efektif ketika pembelajaran mereka dapat mengarahkan kepada pembelajaran siswa. Tak ada sesuatupun yang diajarkan kecuali sudah dipelajari, dan ini terjadi ketika guru berhasil menyebabkan perubahan perilaku siswa. Oleh karena itu penting bahwa guru harus memandang mengajar sebagai upayanya untuk mentransfer apa yang telah dia pelajara kepada siswa. Penelitian tentang keefektifan guru di kelas menggunakan system penilaian nilai tambah Tenessee (Tennessee Value-Added Assessment System) dan basis data yang mirip di Dallas, Texas, menemukan bahwa perbedaan keefektifan guru adalah faktor yang sangat kuat mempengaruhi perbedaan dalam pembelajaran siswa. Penelitian ini lebih lanjut mengatakan bahwa siswa yang diajar oleh sekelompok guru yang tidak efektif secara signifikan memiliki prestasi yang lebih rendah  dibandingkan siswa yang diajar oleh guru yang efektif.
Penelitian lain dilakukan oleh Akinsola (2007) yang menemukan bahwa siswa yang diajar oleh gurunya menggunakan model pembelajaran simulasi menunjukkan prestasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Untuk menyajikan materi menggunakan model simulasi, guru memang harus melakukan kerja ekstra mendisain, mengaplikasikan, melakukan pemantapan materi kembali setelah simulasi agar siswa dapat memahami apa tujuan yang disimulasikan tadi.
Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, terdapat banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Berbagai penelitian dilakukan untuk mengungkapkannya secara empiris baik pengaruhnya yang bersifat positif maupun negatif. Tabel 4 menyajikan hasil rangkuman dari berbagai penelitian mengenai faktor apa yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Terlihat bahwa terdapat sekitar empat faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dimana keempat faktor ini dapat diuraikan dengan lebih terperinci menjadi berbagai faktor. Dari sisi eksternal, jenis kelamin, ras, pendapatan, ekspektasi guru dan orang tua, pendidikan orang tua, lingkungan yang kondusif, ukuran sekolah, lamanya waktu yang digunakan untuk menonton televisi, dan kelas yang non inklusif yang menggabungkan antara siswa normal dengan siswa yang berkebutuhan khusus ternyata dapat mempengaruhi terjadi perbedaan prestasi belajar di sekolah. Dari sisi internal terdapat motivasi dan refleksi diri yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Selanjutnya dari sisi sosial berupa kemampuan berinteraksi dengan guru dan rekan sebaya juga ditemukan berpengaruh terhadap prestasi belajar. Terakhir adalah faktor kurikulum yang meliputi kesesuaian materi dengan metode, materi yang diajarkan, pilihan kurikulum siswa, pembelajaran kooperatif, partisipasi dalam kelompok diskusi, dan sumber daya.

        Tabel 4. Rangkuman Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Faktor
Keterangan
Eksternal
Jenis Kelamin
Ras
Pendapatan
Ekspektasi guru dan orang tua
Pendidikan orang tua
Lingkungan yang sehat/aman
Ukuran sekolah
Jam menonton TV
Kelas yang bercampur (non inklusif)
Internal
Motivasi
Refleksi diri
Sosial
Kemampuan berinteraksi dengan guru dan teman
Kurikulum
Kesesuaian materi dengan metode
Materi yang diajarkan
Pilihan kurikulum siswa
Pembelajaran kooperatif
Partisipasi dalam kelompok diskusi
Sumber daya
Sebagaimana faktor-faktor yang telah diungkapkan, penelitian ini juga mencoba mengetahui lebih lanjut faktor yang mempengaruhi prestasi belajar mereka melalui kuesioner terbuka. Kuesioner hanya berisi pertanyaan faktor internal dan eksternal apa yang menurut pendapat mahasiswa mempengaruhi prestasi belajar mereka secara individu. Hal ini dilakukan untuk melengkapi penelitian ini selain menggunakan data sekunder juga menggunakan data primer yang langsung dikumpulkan dari siswa yang bersangkutan. Berdasarkan masukan dari mahasiswa beberapa faktor disinyalir turut mempengaruhi prestasi belajar mereka. Dari sisi internal sebagian mahasiswa menyatakan bahwa mereka tidak memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar, tidak mampu menguasai suatu materi dengan baik, tidak sesuainya jurusan mereka di SMA dengan apa yang dipelajari sekarang. Dari sisi eksternal beberapa hal yang diungkapkan adalah pembagian waktu kuliah yang kurang sesuai, kelengkapan kelas yang kurang, suasana ribut, lingkungan yang tidak mendukung untuk meningkatkan prestasi.

E.     KESIMPULAN DAN SARAN
Dari dua variabel independen yang diteliti, hanya satu variabel yang ditemukan memiliki pengaruh langsung terhadap prestasi belajar mahasiswa yaitu asal daerah sementara itu tidak ditemukan pengaruh langsung antara jenis sekolah dengan prestasi belajar mahasiswa. Selain itu ditemukan pula bahwa mahasiswa yang berasal dari SMA di Pekanbaru dan luar Provinsi Riau memiliki prestasi belajar tertinggi, sedangkan untuk asal daerah kabupaten dan kota di luar Kota Pekanbaru dan tetapi masih dalam Provinsi Riau prestasi belajar yang tertinggi adalah mahasiswa yang berasal dari MA. Hal yang sangat berlawanan adalah siswa lulusan SMA di kabupaten/kota di Propinsi Riau memiliki prestasi belajar yang paling rendah dibandingkan dengan SMK dan MA. Padahal umumnya siswa SMA memang dipersiapkan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa SMK yang dipersiapkan untuk terjun langsung ke dunia kerja.
Berdasarkan temuan diatas disarankan kepada para pendidik, dalam hal ini khususnya dosen agar tidak hanya menyampaikan materi tetapi juga mendorong motivasi siswa untuk meningkatkan prestasinya. Hal ini disebabkan oleh sebagian siswa menyatakan bahwa memang mereka sendiri yang kurang memiliki motivasi untuk belajar. Bagi dinas pendidikan, penelitian ini dapat menjadi masukan agar memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas SMA di kabupaten dan kota di luar Pekanbaru. Kenyataan bahwa siswa dari daerah perkotaan memiliki prestasi belajar yang lebih tinggi mengindikasikan bahwa harus lebih banyak peluang perbaikan dan peningkatan mutu untuk sekolah di daerah pedesaan. Kurangnya perhatian dari dinas terkait dan pihak lain yang berkepentingan dapat mengakibatkan kurangnya minat siswa di daerah pedesaan dan rendahnya prestasi belajar mereka. Untuk penelitan selanjutnya, penambahan variabel lain penting untuk dilakukan mengingat pada kenyataannya begitu banyak variabel yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Tingginya prestasi belajar siswa dapat menjadi acuan untuk penilaian proses pembelajaran di sebuah institusi yang pada akhirnya akan menetapkan citra maupun nilai akreditasi sebuah insititusi pendidikan.

F.     DAFTAR RUJUKAN

Akinsola, M.K., 2007. The Effect of Simulation-Games Environment on Students Achievement in and Attitudes to Mathematics in Secondary Schools, The Turkish Online Journal of Educational Technology, July, Vol. 6, Issue 3, 113-119.

Borland, M.V., and Howsen, R.M. 1999. A Note on Student Academic Performance: In Rural Versus Urban Areas, American Journal of Economics and Sociology, July.

Bosire, J., Mondoh, H., dan Barmao, A. 2008. Effect of Streaming by Gender on Student Achievement in Mathematics in Secondary Schools in Kenya, South African Journal of Education, Vol:28, 595-607

Earthman, G.I., 2004. ‘Prioritization of 31 Criteria for School Building Adequacy', American Civil Liberties Union Foundation of Maryland. (Online), (http://www.aclu-md.org, Diakses tanggal 17 Mei 2011)

Ehrenberg, R.G., Brewer, D.J., Gamoran, A., and Willms, J.D. 2001. Class Size and Students Achievement, Psichological Science in the Public Interest, Vol. 2, No. 1, May, 1-30.

Ghozali, I. 2009. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Hijazi, S.T., and Naqvi, S.M.M.R., 2006. Faktor Affecting Students’ Performance: A Case of Private Colleges, (Online), (http://www.scribd.com/doc/5486916/, diakses tanggal 17 Mei 2011).

Jabar, M., Aziz, M.A., and Zeb, S. 2011. A Study on Effect of Demographic Factors on the Achievement of Secondary School Students in the Punjab, Pakistan, International Journal of Academic Research and Social Sciences, July, Vol. 1 No. 1.

Noble, J.P., Roberts, W.L., and Sawyer, R.L. 2006. Student Achievement, Behavior, Perceptions, and Other Factors Affecting ACT Scores, (Online), (www.act.org, diakses tanggal 16 April 2011)

Syakira, G. 2009. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Mahasiswa, (Online, http://syakira-blog.blogspot.com), diakses tanggal 18 April 2011.

Umo, U.J., 2006. Combined Effects of Game Strategy and Location as Factors of Academic Achievement in Igbo Grammarse, The International Journal of Language, Society, and Culture, Issue 18,
Warta Balitbang, 1 Maret 2010. Pendidikan Karakter Warnai Rembuknasdik 2010.

Yara, P.A., 2009. Relationship Between Teachers’ Attitude and Students’ Academic Achievement in Mathematic in Some Selected Senior Secondary Schools in Southwestern Nigeria, European Journal of Social Sciences, Vol. 11, Number 3.





BIODATA PENULIS

  1. Nama Lengkap dengan Gelar : Julina, SE. M.Si
  2. Jenis Kelamin                          : Perempuan
  3. Alamat Pos Surat                    : Jl. Sukakarya Perumahan Kampung Dallam Lestari
  Blok EE No 11 Panam. Pekanbaru - Riau
  1. Nomor HP                               : 085271422728
  2. Alamat Email                          : julina22@ymail.com

1 comment:

  1. Selamat sore.. surprise sekali saya mendapati tulisan saya ada di blog Bapak. Terima kasih

    ReplyDelete