Untuk kesekian kalinya kita membaca berita
menyedihkan dari sekolah, seorang guru SMK di Tanjung Jabung Jambi di kroyok
Siswanya. Sebelumnya dari propinsi Banten Kepala sekolah diberhentikan(walaupun
kemudian di batalkan) karena menampar muridnya yang ketahuan merokok di
sekolah. Sebetulnya banyak berita-berita yang menyedihkan lainnya dari dunia
Pendidikan kita, sehingga menimbul kan pertanyaan ada apa dengan pendidikkan
kita.
Peristiwa
ini tentu bikin banyak orang terkejut. Tapi jujur saja, kita terkejut karena
pura-pura terkejut. Sebab, tanda-tandanya sudah lama bertebaran. Murid melawan
guru bukan lagi hal luar biasa. Yang beda kali ini cuma levelnya naik
kelas—dari adu argumen ke adu bogem.
Kita
hidup di zaman ketika rasa hormat dianggap sesuatu yang harus “dibuktikan”,
bukan diberikan. Guru tak lagi otomatis dihormati karena ilmunya, tapi diuji
kesabarannya, diukur mentalnya, bahkan diprovokasi emosinya. Sekali guru
meninggikan suara, langsung dicap galak. Sekali memberi hukuman, viral. Sekali
tegas, siap-siap berurusan dengan orang tua dan grup WhatsApp. Bahkan mungkin
dengan polisi.
Ironisnya,
di saat yang sama, murid diberi ruang sangat luas untuk mengekspresikan emosi,
tapi minim diajari cara mengendalikannya. Kita rajin mengajarkan hak, tapi
pelit membahas tanggung jawab. Anak-anak tahu betul hak mereka untuk tidak
dimarahi, tapi gagap ketika diminta menghormati orang lain.
Guru,
dalam posisi ini, jadi profesi serba salah. Terlalu lembut, dianggap lemah.
Terlalu tegas, dibilang kejam. Akhirnya banyak guru memilih mode aman: mengajar
sekadarnya, menegur seperlunya, berharap jam pulang datang lebih cepat. Bukan
karena malas, tapi karena lelah dan takut.
Kasus di
Tanjung Jabung ini seharusnya jadi alarm keras. Bukan cuma soal kekerasan
fisik, tapi soal hilangnya satu nilai paling mendasar dalam pendidikan: rasa
hormat. Tanpa itu, sekolah cuma gedung dengan papan tulis. Kurikulum secanggih
apa pun tak akan ada artinya kalau relasi guru dan murid sudah rusak dari
akarnya.
Yang
lebih menyedihkan, setelah kejadian seperti ini, sering kali guru justru
diminta “berdamai”. Demi nama baik sekolah. Demi masa depan murid. Demi
stabilitas. Guru dipukuli, lalu disuruh legawa. Seolah luka fisik dan mental
bisa disembuhkan dengan kata “maklum, mereka masih anak-anak”.
Padahal,
kalau terus begini, yang benar-benar terancam bukan cuma guru, tapi masa depan
pendidikan itu sendiri. Jika guru tak merasa aman di kelasnya sendiri,
bagaimana mungkin mereka bisa fokus mendidik? Jika murid tak pernah diajari
batas, bagaimana mereka belajar menjadi manusia dewasa?
Peristiwa ini bukan sekadar cerita kriminal. Ini cermin retak yang menunjukkan betapa kita telah terlalu lama menormalisasi ketidaksopanan, membiarkan agresi tumbuh, dan menuntut guru jadi pahlawan tanpa memberi mereka perlindungan yang layak. Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Kenapa murid bisa sebrutal itu?” dan mulai bertanya, “Sistem seperti apa yang memungkinkan ini terjadi?” Karena guru dipukuli bukan kejadian tiba-tiba. Ia hasil dari pembiaran yang terlalu lama, sampai akhirnya meledak di ruang kelas. Dan ketika itu terjadi, kita baru sadar: yang runtuh bukan cuma wibawa guru, tapi juga akal sehat kita bersama.
Catatan : Gambar dari google


































