Pernahkah Anda membaca Al-Qur’an lalu tiba-tiba
berhenti pada satu ayat yang terasa seperti sedang “mengetuk” pikiran? Itulah
yang saya rasakan ketika membaca Surah Ar-Rahman. Bukan karena bahasanya
indah—meski memang demikian—melainkan karena satu pertanyaan sederhana yang
terus mengganggu kepala: mengapa Allah mengulang ayat “Fa biayyi ālā’i
rabbikumā tukadzdzibān” (“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu
dustakan?”) sebanyak 31 kali?
Angka itu
terasa terlalu sering untuk disebut kebetulan. Seolah ada sesuatu yang ingin
ditegaskan, sesuatu yang bukan hanya untuk dibaca, tetapi direnungkan.
Surah
Ar-Rahman sendiri sering disebut sebagai surah tentang kasih sayang, nikmat,
dan keseimbangan ciptaan. Di dalamnya, Allah berbicara tentang langit, bumi,
laut yang tidak bercampur, peredaran benda-benda langit, hingga penciptaan
manusia. Yang menarik, semua itu dibingkai dengan pola pengulangan yang
konsisten.
Lalu
muncul pertanyaan lain: mungkinkah ini berkaitan dengan cara alam semesta bekerja?
Di
sinilah sebagian orang mulai menghubungkannya dengan fisika kuantum. Dalam
dunia fisika modern, terutama mekanika kuantum, alam semesta ternyata tidak
berjalan secara kacau. Bahkan pada tingkat partikel terkecil, ada pola,
probabilitas, dan keseimbangan yang sangat presisi. Elektron bergerak dalam
keteraturan matematis. Energi hadir dalam paket tertentu. Bahkan
ketidakteraturan pun ternyata memiliki aturan.
Dalam
Surah Ar-Rahman, Allah berulang kali menyinggung mīzān atau
keseimbangan. Langit ditegakkan dengan keseimbangan, manusia diminta tidak
merusaknya. Alam tidak berjalan asal jadi. Ada harmoni yang dijaga.
Fisika
modern pun menemukan hal serupa: semesta berdiri di atas keseimbangan yang
sangat rapuh sekaligus presisi. Jika konstanta gravitasi berubah sedikit saja,
bintang mungkin tak terbentuk. Jika gaya atom berbeda sedikit, kehidupan bisa
mustahil muncul. Seolah-olah alam memang “disetel” dengan sangat cermat.
Lantas,
mengapa ayat itu diulang 31 kali?
Mungkin
pengulangan itu bukan sekadar pengingat, melainkan cara Allah menghentikan
manusia yang terlalu sibuk berpikir bahwa semua ini biasa saja. Setiap selesai
menjelaskan satu nikmat, satu hukum alam, satu keajaiban penciptaan, pertanyaan
itu kembali datang:
“Nikmat
Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?”

















































