Ada satu keahlian manusia modern yang boleh jadi akan bikin nenek moyang kita berdecak kagum di alam sana: keahlian membuat hal biasa jadi tampak luar biasa—cukup dengan kamera, filter, dan sedikit sentuhan “niat konten”.
Ambil contoh paling sederhana: ngopi.
Dulu, ngopi itu ya ngopi. Duduk, pesan kopi hitam, minum, pulang. Selesai. Sekarang? Ngopi adalah proyek kreatif. Sebuah event. Sebuah momen yang harus didokumentasikan dengan komposisi visual yang matang, angle 45 derajat, dan caption yang seolah-olah baru saja tercerahkan setelah membaca buku filsafat tiga jilid.
Kenyataannya kopinya tetap sama: 20 ribu.
Namun begitu di posting di Instagram, nilai estetikanya melonjak jadi 2 juta. Setidaknya.
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Medsos hari ini bukan cuma tempat berbagi, tapi juga panggung. Dan di panggung itu, semua orang punya peran: sebagai versi terbaik dari dirinya sendiri—atau paling kurang, versi yang paling layak dipajang.
Masalahnya, versi terbaik ini kadangkala bukan yang paling jujur.
Kita jadi terbiasa melihat hidup orang lain dalam format highlight: meja kopi dengan cahaya matahari sore yang dramatis, buku yang dibuka di halaman entah berapa (yang penting kelihatan “lagi mikir”), dan secangkir latte dengan foam berbentuk hati yang tampaknya lebih sering difoto daripada diminum.
Yang tidak tampak? Mungkin sejam sebelumnya dia bingung milih outfit. Atau 15 menit terakhir dihabiskan buat motret dari berbagai sudut sambil nahan lapar karena kopinya belum disentuh.
Namun ya memang begitu seni berakrobat di medsos: yang ditonjolkan bukan kenyataan, tapi impresi.
Dan kita semua, suka tidak suka, ikut dalam permainan itu.
Lucunya, kita tahu itu “bungkus”. Tapi tetap saja tergoda. Kita melihat foto orang lain dan berpikir, “Wah, hidup dia keren ya.” Sebenarnya, bisa jadi dia juga lagi mikir hal yang sama saat melihat postingan orang lain.
Lingkaran setan yang estetik.
Di titik ini, ngopi 20 ribu tidak lagi soal kopi. Tapi soal narasi. Tentang bagaimana kita ingin dilihat: santai tapi berkelas, sederhana tapi berisi, biasa tapi punya “vibe”.
Kata “vibe” ini penting. Karena di era sekarang, yang mahal bukan barangnya, tapi kondisiya. Dan kondisi itu bisa diciptakan—bahkan dari hal yang sangat sederhana.
Sebuah kursi kayu di sudut kafe bisa terlihat seperti tempat merenung yang syahdu, asal pencahayaannya pas. Jalanan biasa bisa tampak seperti film indie, asal diedit dengan tone warna yang agak sendu.
Realitas dipoles, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya kita sendiri lupa mana yang asli, mana yang sudah dikurasi.
Tapi ya tidak sepenuhnya buruk juga.
Ada sisi kreatif yang patut dihargai. Tidak semua orang bisa melihat keindahan dalam hal-hal kecil. Tidak semua orang punya kepekaan untuk menciptakan momen sederhana jadi sesuatu yang “bercerita”.
Masalahnya muncul di saat kita mulai percaya bahwa hidup harus selalu terlihat seperti itu.
Bahwa ngopi tanpa foto adalah sia-sia. Bahwa jalan-jalan tanpa upload story itu kurang afdol. Bahwa kalau hidup kita tidak tampak estetik, berarti ada yang salah.
Padahal, ya enggak juga.
Hidup itu ya kadang flat. Kadang ngopi cuma buat ngusir kantuk, bukan buat konten. Kadang nongkrong cuma buat ketawa, bukan buat bikin feed rapi.
Dan itu sah-sah saja.
Karena pada akhirnya, yang kita jalani adalah hidup, bukan galeri.
Ngopi 20 ribu boleh saja dibungkus jadi estetik 2 juta. Tapi jangan sampai kita lupa menikmati rasanya—yang, kalau jujur saja, ya tetap pahit.

























































