Pada usia tertentu, ada fase hidup Ketika muncul pertanyaan dari orang lain, bahkan mungkin
dari kita sendiri “passion kamu apa?” terdengar seperti tuduhan halus. Nada
suaranya sopan, tapi akibatnya bikin
kita langsung merasa tidak sukses sebagai manusia modern. Lebih-lebih lagi
kalau yang nanya sambil bercerita betapa ia sekarang sibuk “mengejar passion”,
resign dari kantor mapan, lalu hidupnya terlihat baik-baik saja di Instagram.
Sedangkan
kita? Bangun pagi sudah capek, padahal belum ngapa-ngapain.
Ujung-ujungnya
kita pun menyimpulkan sendiri dengan kejam: “Kayaknya aku memang nggak punya
passion.” Padahal sering kali persoalannya bukan itu. Kita tidak kehilangan passion, kita hanya
kelelahan—secara fisik, mental, dan emosional—untuk menggapainya.
Dari
kecil, kita diajari bahwa hidup ideal itu hidup yang dijalani dengan passion.
Kerja mestinya sesuai panggilan jiwa,
hobi harus yang menghasilkan, bahkan istirahat pun sekarang harus punya tujuan:
self-healing. Semua harus berarti. Semua harus maksimal.
Masalahnya,
hidup nggak selalu memberi energi yang cukup untuk itu semua.
Coba
jujur sedikit. Banyak dari kita sejujurnya tahu apa yang kita inginkan. Ada
yang dulu suka nulis, gambar, motret, masak, berpetualang atau sekadar baca
buku tanpa mikir manfaatnya apa. Tapi kesukaan itu perlahan menghilang bukan
karena kita berhenti mencintainya, tetapi karena kita terlalu sibuk bertahan hidup.
Kerja
delapan jam (kalau beruntung), ditambah macet, ditambah beban target, ditambah
drama kantor yang nggak ada hubungannya sama kerja kita. Pulang ke rumah, badan
minta rebahan, kepala minta diam. Di kondisi seperti itu, disuruh “kejar
passion” rasanya sama konyolnya seperti menyuruh orang lapar mikir investasi.
Capek
dulu, Mas. Mikir belakangan.
Budaya mengejar
target juga ikut memperparah suasana. Kita hidup di periode ketika capek
dianggap keren, begadang dianggap bukti dedikasi, dan kelelahan karena kerja
malah dijadikan lencana kehormatan. Kalau kamu bilang lelah, jawabannya bukan
istirahat, tapi: “Berarti kamu belum nemu passion kamu.”
Sesungguhnya
bisa jadi passion-nya ada, cuma terbenam rasa lelah yang numpuk bertahun-tahun.
Anehnya,
passion sekarang sering diperlakukan seperti proyek besar yang harus langsung
sukses. Kalau suka nulis, ditanya: sudah dimonetisasi belum? Kalau suka masak,
sudah buka bisnis belum? Kalau belum, berarti dianggap belum serius. Akhirnya
passion berubah jadi sumber stress baru. Bukan lagi sarana bermain, tapi sumber
tuntutan.
Wajar
kalau kita mundur perlahan.
Di kondisi
ini, penting untuk mengakui satu hal yang sering kita remehkan: lelah itu nyata.
Bukan semua kelelahan bisa disembuhkan dengan motivasi. Ada capek yang cuma
bisa ditangani dengan berhenti sebentar, tanpa merasa bersalah.
Mungkin
kita tidak butuh menemukan passion baru. Mungkin kita cuma perlu berhenti
menyalahkan diri sendiri karena belum sanggup mencapainya.
Santai
saja. Passion tidak selalu datang dalam bentuk ledakan semangat. Kadang ia
datang sebagai rasa penasaran kecil. Kadang cuma berupa keinginan iseng yang
belum sempat dituruti. Dan sering kali, ia baru berani muncul ketika kita sudah
cukup aman—secara mental dan ekonomi—untuk bernapas lebih panjang.
Jadi
kalau saat ini kamu merasa hambar, tidak antusias, dan mudah lelah, bukan berarti
kamu manusia tanpa passion. Bisa jadi kamu cuma manusia yang terlalu lama
memaksa diri kuat.
Dan itu
nggak apa-apa.
Nanti, ketika hidup sedikit lebih ramah, ketika
kepala nggak terlalu bising, ketika badan nggak terlalu diperas, bisa jadi kamu
akan menemukan lagi hal-hal kecil yang dulu bikin kamu betah hidup. Bukan untuk
dikejar mati-matian. Tapi untuk dinikmati, pelan-pelan, tanpa tuntutan. Karena
kadang, yang kita butuhkan bukan passion baru, tapi istirahat yang cukup lama.








No comments:
Post a Comment