Baper Tapi Gengsi: Mengapa Generasi Z Sulit Jujur Soal Perasaan

 


Generasi Z sering dicap sebagai generasi yang paling ekspresif. Aktif di media sosial, berani bersuara, dan terlihat terbuka soal banyak hal. Tapi anehnya, ketika urusan cinta dan perasaan, justru banyak dari mereka yang memilih diam. Baper iya, tapi gengsi juga iya. Akhirnya, perasaan dipendam, hubungan jadi serba abu-abu, dan ujung-ujungnya salah paham.



Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ada banyak faktor yang membuat Gen Z kesulitan untuk jujur soal perasaan mereka, meskipun sebenarnya hati sudah ke mana-mana.


Takut Ditolak dan Terlihat Lemah




Salah satu penyebab utama adalah rasa takut ditolak. Buat Gen Z, penolakan bukan cuma soal sakit hati, tapi juga soal harga diri. Di era media sosial, segalanya terasa seperti panggung. Sekali ditolak, rasanya seperti gagal total, apalagi kalau sampai diketahui teman-teman.

Mengungkapkan perasaan juga sering dianggap sebagai tanda kelemahan. Banyak anak muda berpikir, “Kalau aku yang duluan bilang, nanti aku kelihatan butuh.” Akhirnya, mereka memilih bersikap cuek, padahal dalam hati berharap lebih.


Terbiasa Berkomunikasi Tidak Langsung




Gen Z tumbuh di era chat, DM, dan story. Komunikasi tatap muka bukan lagi kebiasaan utama. Sayangnya, mengungkapkan perasaan lewat teks sering menimbulkan kebingungan. Mau jujur tapi takut terlalu frontal, mau bercanda tapi malah dianggap serius.

Karena terbiasa pakai kode, emoji, atau sindiran halus, banyak perasaan yang tidak pernah benar-benar tersampaikan. Hasilnya? Dua orang sama-sama baper, tapi sama-sama gengsi untuk jujur.


Trauma Hubungan Sebelumnya


Tidak sedikit Gen Z yang sudah mengalami patah hati di usia muda. Ghosting, ditinggal tanpa penjelasan, atau dikhianati lewat chat rahasia adalah cerita yang cukup umum. Pengalaman-pengalaman ini membuat mereka lebih waspada.

Daripada jujur dan berharap terlalu tinggi, mereka memilih menahan diri. Prinsipnya sederhana: lebih baik pura-pura santai daripada kelihatan berharap lalu kecewa lagi.


Budaya “Santai Tapi Peduli”




Ada juga budaya tidak tertulis di kalangan Gen Z: terlihat santai adalah segalanya. Terlalu serius dianggap berlebihan, terlalu peduli dianggap tidak keren. Maka muncullah sikap tarik-ulur. Chat cepat tapi jawabannya singkat. Perhatian ada, tapi tidak pernah jelas arahnya.

Budaya ini membuat kejujuran terasa seperti risiko besar. Padahal, hubungan tanpa kejelasan justru sering lebih melelahkan secara emosional.


Ingin Jujur, Tapi Tidak Tahu Caranya




Menariknya, banyak Gen Z sebenarnya ingin jujur. Mereka hanya tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya tanpa merasa canggung. Pendidikan soal komunikasi emosional masih minim. Perasaan dianggap urusan pribadi yang harus diselesaikan sendiri.

Akibatnya, perasaan hanya dibicarakan ke teman, ditulis di notes, atau dijadikan caption galau, bukan disampaikan langsung ke orang yang bersangkutan.


Saatnya Belajar Lebih Terbuka




Jujur soal perasaan memang tidak mudah, apalagi di tengah tekanan sosial dan gengsi. Tapi kejujuran bukan berarti lemah. Justru dibutuhkan keberanian besar untuk mengatakan apa yang dirasakan, tanpa tahu bagaimana responsnya nanti.

Buat Generasi Z, mungkin sudah saatnya mulai belajar bahwa menyampaikan perasaan dengan jujur tidak membuat nilai diri berkurang. Ditolak memang menyakitkan, tapi terjebak dalam hubungan yang tidak jelas sering kali jauh lebih menyiksa.




Baper itu manusiawi. Gengsi juga wajar. Tapi ketika keduanya saling mengalahkan, yang tersisa hanya hubungan tanpa arah. Dan di situlah banyak cerita cinta Gen Z berakhir—bukan karena tidak ada rasa, tapi karena terlalu lama disimpan.

No comments:

Post a Comment