Showing posts with label Artikel Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Artikel Pendidikan. Show all posts

7 Sikap Penting Guru Menghadapi Siswa dan Orang Tua di Era Baru

 


Beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan Indonesia menghadapi perubahan yang tidak ringan. Guru tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan akademik dan kedisiplinan siswa, tetapi juga dengan meningkatnya sensitivitas orang tua, tekanan media sosial, bahkan ancaman hukum. Kasus guru dilaporkan ke polisi karena teguran sepele, atau mengalami kekerasan fisik dari siswa, bukan lagi cerita langka.



Situasi ini memunculkan satu pertanyaan besar: bagaimana seharusnya guru bersikap agar tetap mendidik tanpa mengorbankan keselamatan dan martabatnya? Berikut tujuh sikap penting yang perlu dimiliki guru dalam menghadapi siswa dan orang tua di era baru.

1. Mengedepankan Profesionalisme, Bukan Emosi



Guru masa kini tidak bisa lagi mengandalkan otoritas semata. Bentakan, kata-kata kasar, atau hukuman emosional justru bisa menjadi bumerang. Teguran harus disampaikan dengan bahasa yang tenang, objektif, dan berbasis aturan sekolah.

Profesionalisme berarti bersikap konsisten, adil, dan tidak reaktif. Ketika guru mampu mengendalikan emosi, posisi moralnya justru menjadi lebih kuat dan sulit diserang.

2. Menyadari Kerentanan Hukum Sejak Awal



Ini realitas yang pahit, tetapi perlu diakui. Guru kini berada dalam ruang yang rentan secara hukum. Niat baik tidak selalu cukup untuk melindungi diri.

Karena itu, guru perlu menghindari:

  • Teguran di ruang tertutup tanpa saksi
  • Kontak fisik apa pun, meski bertujuan menenangkan
  • Ucapan spontan yang berpotensi ditafsirkan negatif

Kesadaran hukum bukan berarti takut, tetapi waspada dan bijak.

3. Membiasakan Dokumentasi Setiap Masalah



Di era sekarang, ingatan kalah kuat dibanding catatan. Setiap kejadian penting sebaiknya didokumentasikan secara tertulis.

Catatan pelanggaran siswa, laporan kronologis, dan arsip komunikasi dengan orang tua bisa menjadi tameng ketika terjadi kesalahpahaman. Tanpa dokumentasi, guru sering berada pada posisi lemah, meski berada di pihak yang benar.

4. Berkomunikasi dengan Orang Tua Secara Netral dan Faktual



Konflik dengan orang tua sering membesar bukan karena masalah utama, tetapi karena cara penyampaiannya. Guru sebaiknya menghindari label negatif dan bahasa emosional.

Gunakan pendekatan berbasis fakta, misalnya: “berdasarkan kejadian di kelas pada hari Senin…” bukan “anak Bapak/Ibu bermasalah”. Sikap ini membantu meredam emosi dan menggeser fokus pada solusi, bukan pembelaan diri.

5. Tidak Menyelesaikan Masalah Sendirian



Salah satu kesalahan paling umum adalah guru merasa harus menjadi pahlawan yang menuntaskan semuanya sendiri. Padahal, masalah berat adalah tanggung jawab institusi, bukan individu.

Libatkan wali kelas, guru BK, kepala sekolah, atau komite sejak dini. Selain meringankan beban psikologis, langkah ini menunjukkan bahwa guru bekerja dalam sistem, bukan bertindak sepihak.

6. Menyadari Batas Peran Guru



Pendidikan karakter sering dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Padahal, siswa datang dari latar keluarga dan lingkungan yang beragam. Tidak semua perilaku buruk siswa mencerminkan kegagalan guru.

Sikap realistis ini penting agar guru tidak merasa bersalah berlebihan atau terbakar secara emosional. Guru berperan mendidik dan membimbing, bukan menggantikan fungsi keluarga sepenuhnya.

7. Mengutamakan Keselamatan dan Kesehatan Mental



Dalam kondisi tertentu, mundur selangkah adalah pilihan paling bijak. Jika muncul ancaman fisik atau intimidasi, keselamatan diri harus menjadi prioritas.

Tidak ada kehormatan dalam menjadi korban kekerasan. Guru yang menjaga dirinya justru menunjukkan tanggung jawab terhadap profesinya, keluarganya, dan murid-murid lain.


 


Era baru pendidikan menuntut guru untuk bukan hanya cerdas secara pedagogis, tetapi juga matang secara emosional dan sadar secara hukum. Hormat tidak lagi bisa dipaksakan, namun dapat dibangun melalui sikap profesional, komunikasi sehat, dan sistem yang melindungi guru.Menjadi guru hari ini berarti mengajar dengan hati, tetapi juga bertindak dengan kepala dingin. Dengan tujuh sikap ini, guru dapat tetap berdiri tegak sebagai pendidik—tanpa kehilangan rasa aman dan martabat.

Catatan :

1. Naskah dibuat dengan bantuan Chat GPT

2. Gambar dari google

Ketika Guru Tak Lagi Ditakuti, tapi Dipukuli: Catatan Pahit dari Tanjung Jabung Jambi

 


Untuk kesekian kalinya kita membaca berita menyedihkan dari sekolah, seorang guru SMK di Tanjung Jabung Jambi di kroyok Siswanya. Sebelumnya dari propinsi Banten Kepala sekolah diberhentikan(walaupun kemudian di batalkan) karena menampar muridnya yang ketahuan merokok di sekolah. Sebetulnya banyak berita-berita yang menyedihkan lainnya dari dunia Pendidikan kita, sehingga menimbul kan pertanyaan ada apa dengan pendidikkan kita.


Normalnya, guru itu sosok yang cukup dengan clearing tenggorokan saja sudah bisa bikin satu kelas mendadak hening. Tapi   apa yang terjadi  sekarang? Di Tanjung Jabung, Jambi, seorang guru justru harus merasakan versi paling ekstrem dari “kehilangan wibawa”: dikeroyok muridnya sendiri. Bukan dibantah, bukan dicueki, tapi dipukuli. Sekolah berubah fungsi, dari tempat belajar menjadi arena adu fisik.

Peristiwa ini tentu bikin banyak orang terkejut. Tapi jujur saja, kita terkejut karena pura-pura terkejut. Sebab, tanda-tandanya sudah lama bertebaran. Murid melawan guru bukan lagi hal luar biasa. Yang beda kali ini cuma levelnya naik kelas—dari adu argumen ke adu bogem.

Biasanya, setiap ada kejadian seperti ini, kita akan buru-buru mencari kambing hitam. Murid disebut kurang ajar. Orang tua dibilang gagal mendidik. Guru dipertanyakan cara mengajarnya. Sekolah disalahkan karena tak tegas. Semua kena cipratan, tapi jarang ada yang mau berhenti dan bertanya: sebenarnya apa yang sedang kita rawat selama ini di dunia pendidikan?

Kita hidup di zaman ketika rasa hormat dianggap sesuatu yang harus “dibuktikan”, bukan diberikan. Guru tak lagi otomatis dihormati karena ilmunya, tapi diuji kesabarannya, diukur mentalnya, bahkan diprovokasi emosinya. Sekali guru meninggikan suara, langsung dicap galak. Sekali memberi hukuman, viral. Sekali tegas, siap-siap berurusan dengan orang tua dan grup WhatsApp. Bahkan mungkin dengan polisi.



Ironisnya, di saat yang sama, murid diberi ruang sangat luas untuk mengekspresikan emosi, tapi minim diajari cara mengendalikannya. Kita rajin mengajarkan hak, tapi pelit membahas tanggung jawab. Anak-anak tahu betul hak mereka untuk tidak dimarahi, tapi gagap ketika diminta menghormati orang lain.

Guru, dalam posisi ini, jadi profesi serba salah. Terlalu lembut, dianggap lemah. Terlalu tegas, dibilang kejam. Akhirnya banyak guru memilih mode aman: mengajar sekadarnya, menegur seperlunya, berharap jam pulang datang lebih cepat. Bukan karena malas, tapi karena lelah dan takut.



Kasus di Tanjung Jabung ini seharusnya jadi alarm keras. Bukan cuma soal kekerasan fisik, tapi soal hilangnya satu nilai paling mendasar dalam pendidikan: rasa hormat. Tanpa itu, sekolah cuma gedung dengan papan tulis. Kurikulum secanggih apa pun tak akan ada artinya kalau relasi guru dan murid sudah rusak dari akarnya.

Yang lebih menyedihkan, setelah kejadian seperti ini, sering kali guru justru diminta “berdamai”. Demi nama baik sekolah. Demi masa depan murid. Demi stabilitas. Guru dipukuli, lalu disuruh legawa. Seolah luka fisik dan mental bisa disembuhkan dengan kata “maklum, mereka masih anak-anak”.

Padahal, kalau terus begini, yang benar-benar terancam bukan cuma guru, tapi masa depan pendidikan itu sendiri. Jika guru tak merasa aman di kelasnya sendiri, bagaimana mungkin mereka bisa fokus mendidik? Jika murid tak pernah diajari batas, bagaimana mereka belajar menjadi manusia dewasa?

Peristiwa ini bukan sekadar cerita kriminal. Ini cermin retak yang menunjukkan betapa kita telah terlalu lama menormalisasi ketidaksopanan, membiarkan agresi tumbuh, dan menuntut guru jadi pahlawan tanpa memberi mereka perlindungan yang layak. Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Kenapa murid bisa sebrutal itu?” dan mulai bertanya, “Sistem seperti apa yang memungkinkan ini terjadi?” Karena guru dipukuli bukan kejadian tiba-tiba. Ia hasil dari pembiaran yang terlalu lama, sampai akhirnya meledak di ruang kelas. Dan ketika itu terjadi, kita baru sadar: yang runtuh bukan cuma wibawa guru, tapi juga akal sehat kita bersama.


Catatan : Gambar dari google

 

5 Tips Menjadi Guru Inspiratif


 

Menjadi seorang guru bukan sekadar menyampaikan pelajaran kepada siswa, tetapi juga membimbing, memotivasi, dan menginspirasi mereka untuk mencapai potensi terbaiknya. Guru yang inspiratif mampu meninggalkan kesan mendalam pada siswa, tidak hanya melalui ilmu yang diajarkan tetapi juga melalui sikap dan tindakan yang menunjukkan keteladanan. Berikut adalah lima tips untuk menjadi guru inspiratif:

1. Kenali dan Pahami Siswa Anda



Setiap siswa memiliki karakter, bakat, dan kebutuhan yang berbeda. Sebagai guru, penting untuk meluangkan waktu mengenal mereka secara individu. Dengarkan cerita mereka, pahami latar belakang mereka, dan identifikasi cara belajar yang paling efektif bagi masing-masing. Dengan memahami siswa, guru dapat menyesuaikan metode pengajaran yang relevan dan mendorong mereka untuk belajar dengan semangat.

Contohnya, jika ada siswa yang cenderung pemalu, berikan dukungan ekstra melalui pendekatan pribadi. Sebaliknya, siswa yang aktif dapat diarahkan untuk terlibat dalam kegiatan kelompok agar energi mereka tersalurkan dengan baik.


2. Ciptakan Lingkungan Belajar yang Positif



Lingkungan yang nyaman dan menyenangkan sangat penting untuk mendukung proses belajar. Guru inspiratif mampu menciptakan suasana kelas yang ramah, inklusif, dan bebas dari rasa takut atau tekanan. Mulailah setiap pelajaran dengan senyum, gunakan humor yang sehat, dan berikan apresiasi terhadap upaya siswa, sekecil apa pun itu.

Selain itu, pastikan aturan kelas diterapkan dengan adil. Siswa akan merasa lebih dihargai jika mereka diperlakukan secara setara, tanpa membedakan latar belakang atau kemampuan akademis mereka.


3. Jadilah Teladan yang Baik



Guru adalah figur panutan bagi siswa. Perilaku, sikap, dan cara berbicara guru secara tidak langsung akan ditiru oleh siswa. Oleh karena itu, penting bagi seorang guru untuk menunjukkan sikap yang positif, seperti kedisiplinan, kejujuran, dan semangat belajar yang tinggi.

Misalnya, jika guru ingin siswa datang tepat waktu, guru juga harus konsisten hadir tepat waktu. Tunjukkan bahwa Anda juga seorang pembelajar, misalnya dengan berbagi pengalaman tentang hal-hal baru yang Anda pelajari.


4. Gunakan Metode Pengajaran yang Kreatif



Pengajaran yang monoton dapat membuat siswa kehilangan minat. Guru inspiratif mampu menghadirkan metode pengajaran yang variatif dan menarik. Gunakan teknologi, permainan edukatif, cerita inspiratif, atau pendekatan berbasis proyek untuk membantu siswa memahami materi.

Sebagai contoh, saat mengajarkan sejarah, guru bisa menggunakan video dokumenter, simulasi peran, atau mengajak siswa untuk membuat presentasi kreatif tentang tokoh sejarah. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga memupuk rasa percaya diri siswa.


5. Motivasi Siswa untuk Bermimpi Besar



Guru inspiratif tidak hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga memotivasi siswa untuk bermimpi dan berani mengejar cita-cita mereka. Berikan dorongan kepada siswa untuk mengenali potensi mereka, dan bantu mereka mengatasi rasa takut atau keraguan diri.

Sampaikan cerita tentang tokoh-tokoh yang berhasil meraih kesuksesan meskipun menghadapi banyak rintangan. Atau, bagikan pengalaman pribadi Anda dalam menghadapi tantangan. Kata-kata motivasi sederhana seperti “Kamu pasti bisa!” atau “Aku percaya kamu akan sukses” bisa sangat berarti bagi siswa.

 

Menjadi guru inspiratif adalah sebuah perjalanan yang memerlukan dedikasi dan ketulusan. Dengan mengenal siswa, menciptakan lingkungan belajar yang positif, menjadi teladan, menggunakan metode kreatif, dan memotivasi siswa untuk bermimpi besar, Anda tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk masa depan mereka. Jadilah guru yang meninggalkan jejak kebaikan dalam hidup siswa Anda.

 

Catatan :

1. Naskah dibuat dengan bantuan Chat GPT

2. Gambar diambil dari google


Ingin santai tiduran atau duduk bersandar dalam rumah maupun dibawah pohon rindang? Tempat tidur lipatlah jawabannya

KUCA Tempat Tidur Lipat Terintegrasi Kursi Malas Ranjang Lipat Kursi Santai Kasur Lipat Folding Bed. Harga terjangkau. Lihat juga videonya.


https://shope.ee/9UeA2Zku92

Tenda Camping 2 pintu untuk 4-6 Orang

Camping adalah kegiatan liburan yang menyenangkan dengan keluarga atau teman-teman, Untuk nyamannya kegiatan dibutuhkan Tenda Camping 4-6 Orang Portable Waterproof Camping Tent / kebutuhan semalam yang liar Aksesoris Tenda. Ayo segera pesan jangan sampai ketinggalan


https://shope.ee/3pyrTQrAwshttps://shope.ee/3pyrTQrAws


CELANA TAKTICAL BLAKHOK CARGO PRIA PANJANG TERMURAH

Celana Panjang pria Taktical Blackhawk termurah, nyaman dan bergensi dipakai saat bersantai pada kegiatan indoor maupun outdoor. Harga sangat terjangkau.



https://shope.ee/9pFjEaNEod

 


4 Hal yang Bisa Dilakukan Guru dalam Memberikan Pujian dan Pengakuan Positif agar Siswa Berperilaku Baik


Mengajarkan perilaku baik kepada siswa tidak hanya tentang menetapkan aturan atau menegur saat mereka melakukan kesalahan. Salah satu cara yang efektif adalah memberikan pujian dan pengakuan positif. Ketika siswa merasa dihargai, mereka lebih termotivasi untuk mempertahankan perilaku positif dan terlibat aktif dalam kegiatan belajar. Namun, memberikan pujian pun memerlukan teknik yang tepat agar benar-benar berdampak positif pada perkembangan siswa. Berikut empat hal yang bisa dilakukan guru dalam memberikan pujian dan pengakuan positif agar siswa berperilaku baik.


1. Memberikan Pujian yang Spesifik



Pujian yang bersifat umum, seperti “Bagus!” atau “Hebat!” memang memberikan kesan positif, tetapi pujian yang spesifik memiliki dampak yang lebih besar. Dengan menyebutkan secara jelas apa yang membuat perilaku siswa layak dipuji, siswa akan memahami dengan lebih baik aspek positif yang diharapkan. Misalnya, saat seorang siswa membantu temannya yang kesulitan dalam mengerjakan tugas, guru dapat memberikan pujian seperti, “Saya suka bagaimana kamu membantu temanmu tadi. Itu menunjukkan sikap peduli yang luar biasa.” Pujian semacam ini mengarahkan siswa untuk lebih memahami perilaku positif tertentu yang diharapkan dari mereka.


2. Memberikan Pengakuan Secara Konsisten



Konsistensi dalam memberikan pengakuan terhadap perilaku baik adalah kunci agar siswa tetap termotivasi untuk mempertahankan perilaku tersebut. Jika pujian hanya diberikan sekali-sekali, siswa mungkin merasa bingung atau tidak yakin apakah perilaku baik mereka benar-benar dihargai. Penting bagi guru untuk secara konsisten memberikan pujian ketika melihat siswa berperilaku baik, misalnya setiap kali siswa menunjukkan kerja sama dalam kelompok atau ketekunan dalam mengerjakan tugas. Dengan konsistensi ini, siswa akan merasa bahwa perilaku baik mereka diperhatikan dan dihargai setiap saat.


3. Menggunakan Pujian untuk Membangun Percaya Diri



Beberapa siswa mungkin merasa kurang percaya diri dalam kemampuan mereka atau ragu untuk mencoba hal-hal baru. Dalam kasus seperti ini, pujian yang diberikan oleh guru dapat menjadi dorongan yang sangat dibutuhkan. Misalnya, jika seorang siswa merasa takut untuk berbicara di depan kelas, guru dapat memberi dukungan dengan pujian seperti, “Saya melihat kamu sudah berusaha keras dan berani untuk mencoba berbicara di depan kelas. Teruskan usaha kamu!” Pujian semacam ini tidak hanya meningkatkan rasa percaya diri siswa, tetapi juga mendorong mereka untuk terus mencoba dan mengembangkan diri.

4. Mengajarkan Siswa untuk Menghargai Diri Sendiri


Selain memberikan pujian dari guru, penting juga bagi siswa untuk belajar memberikan pengakuan pada diri mereka sendiri atas upaya yang telah mereka lakukan. Guru dapat mengajarkan cara ini dengan mengajak siswa merefleksikan hal positif yang telah mereka capai, misalnya dengan membuat jurnal pencapaian mingguan atau berdiskusi di kelas tentang kemajuan yang mereka rasakan. Dengan cara ini, siswa tidak hanya bergantung pada pujian eksternal tetapi juga belajar untuk mengapresiasi diri sendiri. Hal ini akan membantu mereka membangun motivasi internal dan ketahanan diri, yang sangat penting untuk perkembangan jangka panjang.

 

Pujian dan pengakuan positif bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi sebuah alat pendidikan yang efektif untuk membentuk perilaku baik siswa. Dengan memberikan pujian yang spesifik, konsisten, dan bertujuan membangun kepercayaan diri serta mengajarkan siswa untuk menghargai diri mereka sendiri, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan memotivasi. Saat siswa merasa dihargai atas perilaku baik mereka, motivasi untuk terus berperilaku positif akan muncul secara alami. Metode ini tidak hanya membantu menciptakan suasana kelas yang kondusif, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk karakter siswa yang baik dan percaya diri. 


Catatan :

1. Naskah dibuat dengan bantuan CHAT GPT

2. Gambar diambil dari Google

5 Kiat Bagi Guru Menjalin Komunikasi yang Terbuka dengan Siswanya


Komunikasi yang baik antara guru dan siswa merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif dan efektif. Dengan membangun hubungan yang terbuka, guru tidak hanya dapat memahami kebutuhan dan kekhawatiran siswa, tetapi juga menciptakan rasa nyaman yang mendorong partisipasi aktif dalam proses belajar mengajar. Berikut adalah lima kiat bagi guru untuk menjalin komunikasi yang lebih terbuka dengan siswanya.


1. Ciptakan Lingkungan yang Aman dan Terbuka



Langkah pertama dalam membangun komunikasi yang baik dengan siswa adalah menciptakan suasana kelas yang aman, di mana siswa merasa nyaman untuk berpendapat tanpa takut dihakimi atau diberi sanksi. Guru dapat mulai dengan memperkenalkan aturan komunikasi yang positif, seperti mendengarkan tanpa interupsi, menghargai pendapat orang lain, dan menghindari komentar yang merendahkan. Selain itu, penting juga bagi guru untuk menunjukkan sikap ramah dan menyambut siswa dengan senyuman. Sikap ini akan membangun kepercayaan siswa dan membuat mereka merasa lebih terbuka untuk berbicara.


2. Jadilah Pendengar yang Aktif



Mendengarkan aktif adalah kunci dalam komunikasi yang efektif. Guru perlu memberikan perhatian penuh ketika siswa berbicara, baik di dalam maupun di luar kelas. Ketika siswa merasa bahwa guru benar-benar mendengarkan mereka, mereka akan lebih nyaman untuk berbagi masalah atau pendapatnya. Mendengarkan aktif dapat ditunjukkan dengan menganggukkan kepala, memberi tanggapan singkat seperti "ya," atau "saya mengerti," dan merespons pernyataan siswa dengan pertanyaan yang relevan. Hal ini menunjukkan bahwa guru menghargai pendapat siswa dan tertarik untuk memahami lebih dalam.


3. Berikan Pujian dan Kritik dengan Cara yang Konstruktif



Pujian dan kritik merupakan bagian penting dari proses belajar mengajar, tetapi cara menyampaikannya bisa sangat memengaruhi respons siswa. Berikan pujian ketika siswa menunjukkan usaha atau peningkatan, bukan hanya pada hasil akhirnya. Hal ini akan mendorong siswa untuk terus berusaha tanpa merasa tertekan oleh kesempurnaan. Jika perlu memberikan kritik, sampaikan dengan cara yang lembut dan fokus pada perilaku atau tindakan, bukan kepribadian siswa. Misalnya, daripada mengatakan "kamu malas," lebih baik sampaikan "saya melihat kamu belum mengerjakan tugas ini. Mari kita cari cara agar kamu bisa menyelesaikannya."


4. Gunakan Bahasa yang Mudah Dipahami dan Sesuai dengan Usia Siswa



Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh siswa sangat penting dalam menyampaikan pesan. Guru perlu menyesuaikan gaya komunikasi mereka sesuai dengan tingkat pemahaman siswa. Menghindari istilah teknis yang rumit dan menggunakan contoh-contoh nyata dari kehidupan sehari-hari dapat membantu siswa untuk lebih mudah memahami pesan yang ingin disampaikan. Dengan demikian, siswa akan merasa lebih terlibat dalam proses belajar dan tidak ragu untuk bertanya jika ada hal yang kurang dipahami.


5. Ajak Siswa untuk Terlibat dalam Diskusi dan Keputusan Kelas



Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dalam diskusi atau mengambil keputusan dalam kegiatan kelas dapat membuat mereka merasa lebih dihargai. Misalnya, guru bisa memberikan opsi kepada siswa dalam memilih topik diskusi atau metode pembelajaran yang mereka sukai. Dengan mengajak siswa untuk terlibat, mereka akan merasa memiliki andil dalam proses belajar dan lebih nyaman untuk berbicara dan berbagi pendapat. Guru juga dapat mengadakan sesi diskusi kelompok kecil agar siswa yang lebih pendiam pun dapat berpartisipasi secara aktif.

 

Membangun komunikasi yang terbuka dengan siswa memerlukan waktu dan kesabaran. Namun, dengan langkah-langkah yang tepat seperti menciptakan lingkungan aman, mendengarkan aktif, memberi kritik yang konstruktif, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dan melibatkan siswa dalam diskusi, guru dapat menciptakan hubungan yang lebih baik dan mendorong siswa untuk berkomunikasi secara jujur. Dengan komunikasi yang baik, proses pembelajaran akan berjalan lebih efektif dan menyenangkan bagi semua pihak.


Catatan :

1. Naskah dibuat dengan bantuan CHAT GPT

2. Gambar dari google

 

5 Saran Bagi Guru Membangun Hubungan Baik Dengan Siswa Agar Siswa Tidak Bandel



Membangun hubungan baik dengan siswa adalah salah satu kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran di kelas. Hubungan yang baik tidak hanya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan tetapi juga dapat mengurangi perilaku negatif atau sikap “bandel” dari siswa. Siswa yang merasa dihargai dan diperhatikan oleh guru akan cenderung lebih kooperatif, mendengarkan instruksi, dan mengikuti aturan kelas dengan lebih baik. Berikut adalah lima saran bagi guru untuk membangun hubungan positif dengan siswa.


1. Mengenal Siswa Secara Pribadi



Salah satu langkah pertama yang penting adalah mengenal siswa secara pribadi. Guru sebaiknya meluangkan waktu untuk menghafal nama siswa, mengetahui minat dan bakat mereka, serta memahami latar belakang mereka. Dengan menunjukkan minat yang tulus pada kehidupan siswa, mereka akan merasa dihargai dan dipedulikan. Ini dapat membuat siswa merasa lebih nyaman di kelas, sehingga mereka cenderung mendengarkan dan menghormati guru.

Selain itu, mengenal siswa secara pribadi juga membantu guru dalam memahami penyebab di balik perilaku negatif mereka. Dengan memahami latar belakang siswa, guru bisa lebih empatik dalam menangani masalah dan tidak langsung memberikan sanksi atau teguran yang mungkin malah memperburuk situasi.


2. Memberikan Pujian dan Pengakuan Positif



Siswa, terutama pada usia anak-anak dan remaja, sangat membutuhkan pengakuan dari orang dewasa, termasuk guru. Memberikan pujian yang tulus ketika siswa berhasil menyelesaikan tugas atau menunjukkan perilaku yang baik dapat menjadi motivasi yang kuat bagi mereka. Hal ini membuat siswa merasa dihargai atas usaha mereka, sekecil apa pun.

Pujian juga membantu membangun rasa percaya diri siswa. Namun, pujian harus diberikan secara tulus dan sesuai dengan situasi, sehingga siswa merasakan bahwa usaha mereka diakui dengan jujur. Pengakuan positif yang konsisten dapat membantu membentuk pola pikir positif pada siswa dan membuat mereka lebih kooperatif.


3. Menjadi Contoh yang Baik



Guru adalah figur panutan bagi siswa. Sikap dan perilaku guru akan diamati dan diikuti oleh siswa, baik secara sadar maupun tidak. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menunjukkan sikap yang positif, seperti kesabaran, kedisiplinan, dan kepedulian. Dengan menjadi contoh yang baik, guru secara tidak langsung mengajarkan nilai-nilai positif kepada siswa dan menunjukkan bagaimana mereka seharusnya bersikap.

Misalnya, jika guru ingin siswa berperilaku sopan, maka guru juga harus menunjukkan kesopanan dalam bertindak dan berbicara. Dengan demikian, siswa akan memahami pentingnya sikap sopan tersebut dan cenderung menirunya.


4. Menjalin Komunikasi yang Terbuka



Komunikasi yang baik adalah dasar dari hubungan yang positif. Guru sebaiknya selalu membuka ruang bagi siswa untuk berbicara dan menyampaikan pendapat mereka. Guru perlu menciptakan suasana di mana siswa merasa aman untuk berbagi masalah atau kesulitan mereka, baik yang terkait dengan pelajaran maupun di luar itu.

Dengan adanya komunikasi yang terbuka, siswa akan merasa dihargai dan tidak takut untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Jika siswa merasa didengar, mereka akan cenderung memiliki hubungan yang lebih baik dengan guru dan tidak bersikap bandel karena mereka merasa ada ruang bagi mereka untuk berekspresi.


5. Menggunakan Pendekatan Disiplin yang Positif



Disiplin merupakan hal yang penting, namun pendekatan yang digunakan sangat menentukan hasilnya. Guru bisa menggunakan pendekatan disiplin yang positif, misalnya dengan memberikan konsekuensi yang konstruktif daripada hukuman yang keras. Pendekatan ini memungkinkan siswa belajar dari kesalahan mereka tanpa merasa tertekan atau dipermalukan.

Misalnya, daripada menghukum siswa yang terlambat dengan teguran keras, guru bisa mengajak siswa tersebut berdiskusi tentang pentingnya kedisiplinan dan dampak dari keterlambatan. Dengan cara ini, siswa merasa didengarkan dan lebih memahami alasan di balik aturan yang ada.



 

Hubungan yang baik antara guru dan siswa adalah fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Dengan mengenal siswa secara pribadi, memberikan pujian, menjadi contoh yang baik, menjalin komunikasi terbuka, dan menggunakan pendekatan disiplin yang positif, guru dapat mengurangi perilaku bandel siswa dan mendorong mereka untuk lebih berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Guru yang bisa memahami dan mendukung siswa dengan cara yang positif akan memiliki dampak besar dalam perkembangan pribadi dan akademik siswa.


Catatan :

1. Naskah dibuat dengan bantuan CHAT GPT

2. Gambar dari google