Kita sering menyalahkan
cinta ketika hubungan kandas. “Ah, cinta cuma bikin sakit.” “Cinta itu buta.”
Bahkan, tak jarang kita mengutuk perasaan sendiri seolah-olah dialah biang
keladi dari semua luka. Padahal kalau mau jujur sebentar saja, yang sering
keliru bukan cintanya—melainkan pilihan kita saat menjalaninya.
Cinta itu netral. Ia seperti api. Bisa menghangatkan, bisa juga
membakar. Tapi api tidak pernah berniat mencelakai siapa pun. Cara kita
mengelolanya lah yang menentukan hasil akhirnya. Begitu juga cinta. Ia datang
sebagai energi yang mendorong kita untuk peduli, memberi, dan bertumbuh. Namun
ketika kita salah memilih pasangan, mengabaikan tanda-tanda bahaya, atau
memaksakan hubungan yang jelas tak sehat, luka pun jadi konsekuensi.
Masalahnya, kita sering jatuh cinta bukan karena mengenal, tapi karena
merasa. Kita terpesona pada perhatian kecil, pada kata-kata manis, pada janji
yang terdengar meyakinkan. Kita merasa “klik”, lalu menganggap itu cukup
sebagai fondasi. Padahal rasa hanyalah pintu masuk. Setelahnya, ada nilai, karakter,
kebiasaan, dan visi hidup yang harus sejalan.
Sering kali kita tahu ada yang tak beres. Red flag berkibar jelas di
depan mata. Tapi kita memilih menutupinya dengan kalimat, “Nanti juga berubah,”
atau “Aku bisa memperbaikinya.” Kita jatuh cinta bukan hanya pada orangnya,
tapi pada versi ideal yang kita ciptakan di kepala. Saat realitas tak sesuai
ekspektasi, kita menyalahkan cinta. Padahal yang kita cintai mungkin hanya
bayangan.
Ada juga yang bertahan karena takut sendiri. Takut kehilangan. Takut
memulai lagi dari nol. Kita tahu hubungan itu melelahkan, penuh drama, bahkan
kadang menyakitkan. Tapi kita tetap tinggal karena merasa sudah terlanjur jauh.
Ironisnya, semakin lama bertahan dalam pilihan yang salah, semakin dalam luka
yang tertinggal.
Cinta tidak pernah meminta kita untuk mengorbankan harga diri. Ia tidak
menuntut kita menghapus mimpi sendiri. Jika sebuah hubungan membuat kita
terus-menerus merasa kurang, tidak dihargai, atau harus menjadi orang lain agar
diterima, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan perasaan cintanya—melainkan
keputusan kita untuk tetap di sana.
Memilih pasangan bukan sekadar soal siapa yang membuat jantung berdebar.
Itu juga soal siapa yang bisa diajak tumbuh bersama. Siapa yang mau berdialog
saat berbeda pendapat. Siapa yang tetap hadir saat situasi tidak romantis.
Cinta yang sehat bukan yang bebas konflik, melainkan yang mampu menyelesaikan
konflik tanpa saling menghancurkan.
Tentu saja, tak ada pilihan yang 100 persen aman. Kita bukan peramal
yang bisa melihat akhir cerita sejak awal. Tapi kita bisa belajar lebih sadar.
Lebih berani berkata tidak pada hal-hal yang jelas merugikan. Lebih jujur pada
diri sendiri tentang apa yang kita butuhkan, bukan sekadar apa yang kita
inginkan.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti memusuhi cinta. Luka bukan bukti
bahwa cinta itu salah. Luka adalah tanda bahwa ada keputusan yang perlu
dievaluasi. Dan kabar baiknya, pilihan selalu ada di tangan kita.
Cinta akan tetap menjadi
kekuatan yang indah. Ia tak pernah salah. Yang perlu kita perbaiki adalah cara
kita memilih, cara kita bertahan, dan cara kita melepaskan. Karena pada
akhirnya, cinta bukan tentang menemukan orang yang sempurna, melainkan tentang
membuat pilihan yang lebih bijak—agar perasaan yang tulus tidak lagi berujung
pada penyesalan.










No comments:
Post a Comment