Dalam sebuah hubungan, tidak
semua masalah datang dari perselingkuhan, kebohongan besar, atau konflik
dramatis. Justru, banyak hubungan rusak perlahan karena hal-hal kecil yang
dianggap sepele. Tanpa disadari, kamu dan pasangan mungkin sedang melakukan
kebiasaan yang pelan-pelan meracuni hubungan itu sendiri. Awalnya terasa biasa
saja, namun jika dibiarkan, dampaknya bisa sangat serius.
Salah satu racun paling umum dalam hubungan adalah komunikasi yang
buruk. Bukan berarti tidak pernah berbicara, melainkan berbicara tanpa
benar-benar mendengarkan. Saat pasangan bercerita, kita sibuk membela diri,
memotong pembicaraan, atau malah menganggap keluhannya berlebihan.
Lama-kelamaan, pasangan akan merasa tidak didengar dan memilih diam. Di titik
ini, jarak emosional mulai terbentuk.
Racun berikutnya adalah kebiasaan memendam perasaan. Banyak orang
memilih diam demi menghindari konflik. Padahal, perasaan yang dipendam tidak
pernah benar-benar hilang. Ia menumpuk, berubah menjadi kesal, lalu meledak
dalam bentuk kemarahan yang tidak proporsional. Ironisnya, ledakan ini sering
terjadi bukan pada masalah utama, melainkan pada hal kecil yang tidak ada
hubungannya.
Saling menyalahkan juga menjadi pola toxic
yang sering tidak disadari. Setiap masalah selalu berujung pada kalimat, “Kamu
sih…” atau “Ini gara-gara kamu.” Hubungan pun berubah menjadi ajang mencari
siapa yang salah, bukan mencari solusi bersama. Jika terus terjadi, rasa aman
dalam hubungan akan hilang karena masing-masing merasa harus selalu bersiap
untuk diserang.
Selain itu, meremehkan perasaan pasangan adalah racun yang sangat
berbahaya. Kalimat seperti “Ah, kamu terlalu sensitif” atau “Masalah sepele
saja kok dipikirkan” mungkin terdengar ringan, tetapi dampaknya dalam. Pasangan
merasa emosinya tidak valid dan akhirnya ragu untuk jujur tentang apa yang ia
rasakan. Dari sinilah kejujuran emosional mulai terkikis.
Tak kalah merusak adalah kurangnya apresiasi. Ketika hubungan
sudah berjalan lama, ucapan terima kasih, pujian, dan perhatian kecil sering
dianggap tidak penting. Kita lupa bahwa pasangan juga butuh diakui usahanya.
Hubungan yang minim apresiasi akan terasa dingin, seperti kewajiban, bukan lagi
tempat pulang yang nyaman.
Yang paling berbahaya, semua racun ini sering dianggap “wajar”. Kita
berkata, “Namanya juga hubungan,” lalu membiarkan pola tidak sehat terus
berulang. Padahal, hubungan yang sehat bukan berarti tanpa masalah, melainkan
adanya kesadaran untuk memperbaiki diri dan bertumbuh bersama.








No comments:
Post a Comment