Pada masa sekarang, bahagia itu bukan
lagi sekadar perasaan. Bahagia telah berubah menjadi postingan di Medsos, yang
harus difoto, diedit, diberi kemasan hangat, lalu diunggah dengan caption yang
terdengar bijak, semacam: “bersyukur atas hal-hal kecil.” Setelah itu, kita
menunggu respon: siapa saja yang menekan tombol suka, siapa yang meninggalkan
komentar, dan siapa yang—diam-diam—mengintip story kita tanpa memberi reaksi.
Di media sosial, kebahagiaan punya standar kasat mata. Ia harus kelihatan
rapi, cerah, dan tentu saja instagramable. Mereka yang minum kopi di rumah bisa
terlihat seperti sedang menjalani hidup yang damai. Mereka yang duduk sendirian
di pantai bisa terlihat seperti sedang menemukan makna hidup. Padahal bisa saja
setelah foto itu diambil, mereka kembali menatap layar ponsel dengan wajah
lelah, memikirkan tagihan listrik yang belum dibayar.
Persoalannya, media sosial tidak pernah meminta kita jujur. Ia hanya menuntut
kita tampil.
Ujungnya, banyak orang belajar satu hal penting: bagaimana terlihat
bahagia.
Bukan bagaimana benar-benar bahagia.
Perhatikan saja linimasa kita. Hampir semua orang tampak baik-baik saja.
Foto liburan, foto makan enak, foto bersama pasangan, foto bersama teman, foto
bersama keluarga. Hidup terlihat penuh tawa, penuh perjalanan, penuh
keberhasilan.
Padahal di balik foto itu, mungkin ada malam-malam yang sepi,
pertengkaran yang tidak pernah diposting, dan kecemasan yang tidak pernah
dijadikan story.
Media sosial bagaikan panggung teater raksasa. Semua orang memainkan
perannya masing-masing. Ada yang berperan sebagai pasangan paling romantis. Ada
yang berperan sebagai pekerja paling produktif. Ada yang berperan sebagai
manusia paling santai yang hidupnya selalu damai.
Anehnya, kita semua tahu itu kadang cuma peran. Tapi kita tetap
menontonnya dengan serius.
Lalu tanpa sadar, kita membandingkan hidup kita yang berantakan dengan
hidup orang lain yang sudah diedit.
Di titik ini, media sosial berhasil mengubah definisi bahagia menjadi
sesuatu yang performatif. Bahagia bukan lagi tentang perasaan yang tenang,
tetapi tentang bagaimana perasaan itu terlihat di layar orang lain.
Kita mulai bertanya pada diri sendiri: “Kenapa hidupku tidak
semenarik itu?”
Padahal mungkin hidup kita baik-baik saja. Hanya saja kita tidak
memotretnya dari sudut yang tepat.
Sebaliknya, semakin ramai orang yang terlihat bahagia di media sosial,
semakin banyak juga orang yang merasa hidupnya kurang bahagia. Bukan karena
hidup mereka tidak baik, tetapi karena mereka terus-menerus menonton penampilan
kehidupan orang lain.
Ini seperti menonton trailer film orang lain, lalu menganggap hidup kita
tidak berhasil karena tidak semenarik film itu.
Padahal trailer memang dibuat untuk terlihat menarik.
Tidak ada yang memposting foto saat mereka menangis sendirian di kamar.
Tidak ada yang membuat cerita ketika mereka merasa gagal dalam hidup. Tidak ada
yang menulis caption panjang tentang rasa khawatir yang mereka pendam
diam-diam.
Hal-hal itu tidak cukup estetik untuk linimasa.
Akhirnya kita semua menjadi sedikit aktor, sedikit penonton, dan sedikit
korban dari panggung yang kita bangun sendiri.
Kita mengedit kebahagiaan agar terlihat rapi. Kita memilih foto terbaik
dari puluhan jepretan. Kita menghapus yang terlihat lelah, menyimpan yang
terlihat ceria.
Lalu kita menyebutnya: kehidupan.
Padahal mungkin kebahagiaan yang paling jujur justru terjadi ketika
ponsel kita tidak sedang merekam apa pun. Ketika kita tertawa tanpa memikirkan
sudut kamera. Ketika kita berbincang tanpa merasa perlu mengabadikannya.
Kebahagiaan yang tidak perlu diposting sering kali justru yang paling
nyata.
Sayangnya, media sosial tidak
memberi ruang besar untuk itu. Ia lebih menyukai kebahagiaan yang bisa dipamerkan.
Dan tanpa sadar, kita belajar satu pelajaran yang agak menyedihkan: di dunia
digital ini, terlihat bahagia sering kali lebih penting daripada benar-benar
bahagia.








No comments:
Post a Comment