Facebook Kini Isinya Bukan Teman Lama, tapi Orang Pura-Pura Jadi Artis yang Mau Transfer Rp50 Juta



Dulu orang membuka Facebook untuk satu tujuan sederhana: kepo.

Kepo mantan, kepo teman sekolah yang dulu duduk paling belakang tapi sekarang fotonya pakai jas sambil berdiri di depan mobil, atau kepo tetangga yang baru pulang umrah dan mengunggah 137 foto dalam satu album berjudul “Bersama Tamu Allah.”

Facebook adalah tempat berkumpulnya kenangan dan rasa ingin tahu.

Sekarang?



Facebook berubah menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang tiba-tiba sangat ingin membagi-bagikan uang.

Setiap kali membuka beranda, saya hampir tidak pernah lagi melihat unggahan teman lama. Yang muncul justru akun-akun dengan foto artis terkenal, Seperti Listy Kejora, Raffi Ahmad, Soima, bahkan pengarara terkenal sekelas Hotman Paris Hutapea.  Mereka mengadakan kuis dadakan.

“Siapa cepat dia dapat!”

“Tebak nama kota ini!”

“Jawab benar dapat Rp50 juta! Dan ada juga 100 juta“Selamat, Anda terpilih menerima hadiah dari saya!”



Dan yang lebih menarik, artis-artis Indonesia tampaknya mendadak mengalami fase hidup yang sama: ingin memberikan uang kepada orang asing secara cuma-cuma.

Ada yang mengaku sebagai komedian terkenal. Ada yang mengaku sebagai pengacara kondang. Ada yang mengaku sebagai penyanyi, presenter, pengusaha, bahkan tokoh publik yang sudah bertahun-tahun kita kenal.

Mereka semua, entah kenapa, punya hobi baru: transfer uang kepada netizen yang bisa menebak nama buah, nama kota, atau jumlah kaki ayam dalam gambar.




Kalau dipikir-pikir, dunia ini memang luar biasa.

Di kehidupan nyata, mau pinjam Rp50 ribu ke teman saja kadang harus menjelaskan kondisi ekonomi keluarga sampai tiga generasi. Tapi di Facebook, ada orang yang baru mengenal kita tiga detik lalu dan siap memberikan Rp50 juta sampai 100 juta hanya karena kita berhasil menebak gambar mangga.

Logika sedang cuti panjang.

Yang lebih mengagumkan lagi adalah jumlah orang yang masih percaya.

Kolom komentar di bawah postingan seperti itu sering kali lebih ramai daripada diskusi soal masa depan bangsa.



“Sudah saya jawab, Kak.”

“Semoga saya yang beruntung.”

“Saya sangat membutuhkan uang untuk biaya sekolah anak.”

“Cek inbox ya, Kak.”

Membacanya kadang membuat hati sedih sekaligus bingung.

Sedih karena masih banyak orang yang benar-benar berharap.

Bingung karena modus ini sebenarnya sudah ada sejak zaman internet masih lemot dan suara modem terdengar seperti robot sedang bertengkar.

Kita sudah melewati era SMS berhadiah. Sudah melewati era “Mama minta pulsa”. Sudah melewati era email pangeran Nigeria yang ingin membagi warisan miliaran rupiah.

Tapi ternyata formula dasarnya tidak pernah berubah.

Manusia tetap suka mendengar dua kalimat ajaib:

“Selamat, Anda beruntung.”

Dan:



“Transfer dulu sejumlah uang.”

Dua kalimat yang kalau digabungkan selalu berhasil membuat sebagian orang kehilangan kemampuan berpikir kritis.

Awalnya memang selalu manis.

Korban diberi kabar bahwa mereka menang hadiah puluhan juta rupiah. Lalu diminta menghubungi nomor tertentu. Setelah itu muncul berbagai alasan administratif yang terdengar resmi.

Harus bayar biaya pencairan.

Harus bayar pajak.

Harus bayar biaya registrasi.

Harus bayar biaya keamanan.



Harus bayar biaya entah apa lagi yang bahkan mungkin tidak pernah ada dalam sistem perpajakan negara mana pun.

Singkatnya, untuk menerima uang gratis, korban harus mengeluarkan uang terlebih dahulu.

Ini seperti seseorang menawarkan kita sepeda motor gratis dengan syarat membeli sepeda motor terlebih dahulu.

Aneh.

Tapi tetap ada yang terjebak.

Sebab penipu modern sebenarnya tidak menjual hadiah.

Mereka menjual harapan.

Dan harapan adalah barang yang selalu laku.

Terutama ketika hidup sedang sulit.

Ketika harga kebutuhan naik.

Ketika cicilan datang lebih rajin daripada kabar dari gebetan.

Ketika saldo rekening sedang menjalani hidup minimalis.

Di kondisi seperti itu, tawaran hadiah Rp50 juta  sampai 100 juta terdengar jauh lebih masuk akal daripada kenyataan bahwa besok kita tetap harus bekerja seperti biasa.

Para penipu memahami hal ini dengan sangat baik.




Karena itu mereka tidak perlu membuat cerita yang canggih.

Mereka hanya perlu membuat cerita yang ingin dipercaya orang.

Lucunya, Facebook seolah menjadi habitat paling ideal bagi fenomena ini.

Mungkin karena banyak penggunanya berasal dari generasi yang masih menganggap foto profil dan identitas akun sebagai sesuatu yang sakral.

Kalau fotonya artis terkenal, ya dianggap benar artis.

Kalau nama akunnya mirip tokoh publik, ya dianggap asli.

Padahal di internet, mencuri foto orang lain itu lebih mudah daripada mencari alasan untuk menolak undangan kondangan.

Satu klik, selesai.

Maka lahirlah ribuan akun palsu yang wajahnya artis, bahasanya admin penipu, dan misinya mencari korban baru.

Ironisnya, Facebook yang dulu dibuat untuk mempertemukan teman lama sekarang justru lebih sering mempertemukan orang dengan penipuan lama.

Kita masuk untuk mencari kabar teman SMP.

Yang ditemukan malah Raffi Ahmad palsu.

Kita ingin melihat foto reuni.



Yang muncul malah pengacara terkenal palsu sedang bagi-bagi hadiah.

Kita ingin membaca status teman.

Yang lewat justru postingan kuis berhadiah yang komentarnya mencapai ribuan.

Facebook kini terasa seperti pasar malam digital yang isinya bukan wahana permainan, melainkan orang-orang yang terus berteriak, “Selamat! Anda menang!”

Padahal belum ikut apa-apa.

Pada titik tertentu, fenomena ini bukan lagi soal teknologi.

Ini soal literasi.

Karena secanggih apa pun sistem keamanan platform, penipuan akan selalu menemukan jalan masuk selama masih ada orang yang percaya bahwa uang puluhan juta bisa datang hanya karena berhasil menebak nama kota dari gambar kelapa.



Mungkin itu sebabnya modus ini tidak pernah benar-benar mati.

Akun lama ditutup, muncul akun baru.

Nama artis yang satu dipakai, lalu berganti artis lain.

Formatnya berubah sedikit, tetapi intinya tetap sama: membuat orang berharap, lalu mengambil uang mereka.

Dan selama masih ada harapan instan yang ingin dibeli, akan selalu ada penjual mimpi yang siap membuka lapak.

Jadi kalau hari ini Anda membuka Facebook dan menemukan seorang artis yang tiba-tiba ingin mentransfer Rp50 juta hanya karena Anda bisa menjawab teka-teki sederhana, cobalah tenang sejenak.

Tarik napas.

Gunakan logika.



Lalu tanyakan satu hal yang paling penting.

Kalau memang dia begitu dermawan, kenapa tidak mentransfer uang itu langsung saja?

Biasanya, begitu pertanyaan itu muncul, seluruh pertunjukan sulapnya langsung kehilangan sihir.

Dan kita kembali ingat satu kenyataan sederhana:

Di internet, yang paling murah bukan kuota.

Yang paling murah adalah janji hadiah besar dari orang yang bahkan tidak kita kenal.

 


No comments:

Post a Comment