Orang Indonesia punya kemampuan adaptasi yang luar
biasa. Bahkan mungkin terlalu luar biasa. Harga kebutuhan naik? Ya sudah,
pengeluaran dipangkas. Cari kerja makin sulit? Ya sudah, kirim CV lagi, ditolak
lagi, lalu mengulang hal yang sama esok hari. Kita selalu menemukan cara untuk
bertahan.
Masalahnya,
kemampuan beradaptasi sering disalahartikan sebagai tanda bahwa semuanya
baik-baik saja.
Padahal, beradaptasi
tidak sama dengan hidup nyaman. Ada yang mengurangi porsi belanja bukan karena
ingin hidup sederhana, melainkan karena memang tidak ada pilihan lain. Ada yang
menunda membeli kebutuhan, bahkan mimpi, demi memastikan tagihan bulan ini
tetap terbayar.
Belakangan ini kita
seperti hidup dalam dua Indonesia. Indonesia versi presentasi penuh angka
optimistis dan target besar. Sementara Indonesia versi warung kopi diisi
keluhan dagangan sepi, biaya hidup naik, dan sulitnya mencari pekerjaan.
Lucunya, orang
Indonesia juga jago menertawakan keadaan. Harga naik jadi meme, lowongan kerja
dengan syarat berlebihan dijadikan bahan candaan. Humor memang membantu
meredakan penat, tetapi tidak pernah menyelesaikan persoalan.
Yang lebih
mengkhawatirkan adalah standar harapan kita yang pelan-pelan mengecil. Dulu
orang berharap gaji naik atau bisa membeli rumah. Sekarang banyak yang hanya
berharap tidak terkena PHK, kontrakan tidak naik, atau tidak ada pengeluaran
mendadak.
Kita begitu terbiasa
menyesuaikan diri hingga lupa bahwa kondisi yang sedang kita hadapi sebenarnya
tidak ideal.
Padahal, sebuah
negara tidak cukup hanya memiliki rakyat yang tangguh bertahan. Negara juga
membutuhkan rakyat yang percaya bahwa kerja keras masih bisa membawa kehidupan
yang lebih baik. Optimisme lahir ketika usaha terasa masuk akal, ketika
pendidikan membuka peluang, pekerjaan bisa diakses, dan aturan memberi
kepastian.
Kalau yang terus
diminta dari masyarakat hanyalah beradaptasi, lama-kelamaan yang hilang bukan
sekadar daya beli, melainkan keyakinan bahwa masa depan masih layak
diperjuangkan.
Bangsa ini memang hebat dalam bertahan. Namun bertahan seharusnya bukan tujuan akhir.
Rakyat tidak hanya butuh kemampuan untuk menghadapi hari ini, tetapi juga alasan untuk percaya bahwa hari esok akan lebih baik daripada hari ini. Tanpa optimisme itu, kita hanya akan menjadi bangsa yang terus berjalan, tetapi lupa bagaimana rasanya melangkah dengan harapan.


No comments:
Post a Comment