Fenomena Rojali & Rohana: Gaya Hidup Mewah atau Sekadar Ilusi Media Sosial?



Media sosial akhir-akhir ini ramai membicarakan fenomena Rojali dan Rohana. Istilah ini menggambarkan sosok-sosok yang selalu tampil modis, berlibur ke luar negeri, dan nongkrong di tempat bergengsi sambil memegang secangkir kopi yang harganya setara makan siang seminggu. Feed mereka penuh dengan foto-foto menawan: outfit branded dari kepala hingga kaki, senyum sempurna, dan latar yang memancarkan kemewahan.




Sekilas, kehidupan Rojali dan Rohana terlihat seperti mimpi banyak orang. Tapi pertanyaannya, apakah semua itu benar-benar cerminan kehidupan nyata, atau sekadar ilusi yang dibentuk media sosial?


Siapa Sebenarnya Rojali dan Rohana?



Meski bukan tokoh nyata, istilah Rojali (Rombongan Jalan-Jalan) dan Rohana (Rombongan Makan Enak) kini digunakan untuk menyebut tren gaya hidup hedon generasi muda. Mereka mengedepankan penampilan, pengalaman mewah, dan citra “hidup sempurna” yang ditampilkan di media sosial.

Fenomena ini lahir seiring mudahnya akses untuk memamerkan gaya hidup. Kamera ponsel semakin canggih, filter foto makin memikat, dan media sosial memberikan panggung tanpa batas untuk menampilkan versi terbaik diri kita.


Daya Tarik Gaya Hidup Rojali & Rohana



Bagi banyak orang, melihat postingan glamor bisa memicu rasa kagum sekaligus iri. Foto liburan di pantai eksotis, makan malam di restoran bintang lima, atau outfit dari brand internasional, semua memberikan kesan sukses dan bahagia.

Alasan mengapa gaya hidup ini begitu menarik antara lain:

1.      Visual yang Memukau – Foto yang estetik memberi sensasi “ingin ikut mencoba”.

2.      Asosiasi dengan Kesuksesan – Mewah sering diasosiasikan dengan berhasil.

3.      Pengaruh Lingkungan – Saat teman-teman juga mengunggah gaya hidup glamor, muncul dorongan untuk tidak mau kalah.


Benarkah Semuanya Nyata?



Inilah bagian yang sering terlewat. Apa yang kita lihat di media sosial biasanya adalah cuplikan terbaik, bukan keseluruhan cerita. Banyak hal yang tidak ditampilkan:

·         Liburan yang dibiayai cicilan atau pinjaman.

·         Foto diambil di satu hari, lalu diunggah bertahap seolah-olah perjalanan berlangsung lama.

·         Outfit mahal yang sebenarnya hasil pinjam atau sewa.

Fenomena ini menciptakan highlight reel—potongan momen indah—yang tidak selalu merepresentasikan realitas. Kita melihat senyum di kamera, tapi tidak tahu apakah di baliknya ada stres, utang, atau rasa kesepian.


Dampak Psikologis pada Generasi Muda



Tren Rojali dan Rohana bukan sekadar hiburan visual; ia juga memiliki dampak psikologis. Penelitian menunjukkan bahwa terlalu sering terpapar konten glamor dapat memicu:

·         Insecure dan rendah diri, merasa hidup sendiri tidak cukup menarik.

·         Tekanan sosial, ingin mengikuti tren meski kemampuan finansial tidak memadai.

·         Perilaku konsumtif, membeli barang bukan karena butuh, tapi demi citra.


Bijak Menyikapi Fenomena Ini



Bukan berarti kita harus menghindari konten Rojali dan Rohana sama sekali. Yang terpenting adalah menyikapinya dengan kesadaran bahwa media sosial bukan cermin utuh kehidupan seseorang. Beberapa hal yang bisa dilakukan:

1.      Batasi Perbandingan Diri – Ingat, setiap orang punya perjalanan hidup berbeda.

2.      Fokus pada Kehidupan Nyata – Nikmati momen bersama keluarga dan teman tanpa harus selalu dipublikasikan.

3.      Kelola Finansial dengan Bijak – Gaya hidup mewah tidak akan berarti jika mengorbankan kestabilan ekonomi.




Fenomena Rojali dan Rohana mencerminkan dua sisi mata uang media sosial: hiburan visual yang memikat, tapi juga potensi jebakan ilusi. Di satu sisi, mereka bisa menjadi inspirasi untuk meningkatkan kualitas hidup. Di sisi lain, jika tidak disikapi dengan bijak, kita bisa terjebak dalam lingkaran perbandingan yang melelahkan.



Jadi, sebelum iri pada kehidupan glamor di layar ponsel, ingatlah bahwa realita tak selalu seindah feed Instagram. Kebahagiaan sejati seringkali hadir dari hal-hal sederhana yang mungkin tak pernah masuk kamera.

 

 Catatan :

1. Naskah dibuat dengan bantuan CHAT GPT

2. Gambar dari pinterest

Di Balik Dingin Kutub, Hangatnya Tradisi “Berbagi Istri” ala Suku Eskimo


Di tengah hamparan salju abadi dan suhu yang menusuk tulang, kehidupan suku Eskimo—atau yang kini lebih dikenal sebagai Inuit—penuh dengan adaptasi unik untuk bertahan hidup. Mereka tinggal di kawasan kutub utara, wilayah dengan malam panjang, sumber daya terbatas, dan medan yang keras. Namun, di balik keseharian yang tampak sederhana, terdapat tradisi yang bagi sebagian orang terdengar aneh, bahkan kontroversial: tradisi “berbagi istri”.

Asal-usul Tradisi



Tradisi ini bukanlah sekadar kebiasaan tanpa alasan. Dalam masyarakat Eskimo, “berbagi istri” dulunya dianggap sebagai bentuk keramahan sekaligus strategi bertahan hidup. Ketika seorang pria pergi berburu jauh dari rumah selama berhari-hari atau berminggu-minggu, ia bisa menawarkan istrinya untuk “menemani” tamu, kerabat, atau sahabat dekat.



Bagi mereka, tindakan ini bukan semata-mata berkaitan dengan hubungan fisik. Lebih dari itu, ini adalah cara untuk menguatkan ikatan persaudaraan dan membangun jaringan sosial yang solid di tengah lingkungan yang ekstrem. Semakin banyak ikatan, semakin besar peluang untuk saling membantu di saat darurat.

Pandangan Budaya dan Nilai Sosial


Dalam perspektif budaya Eskimo, tubuh dan hubungan intim tidak selalu dipandang dengan nilai kepemilikan seperti dalam banyak budaya modern. Mereka memandang berbagi pasangan sebagai simbol kepercayaan dan persahabatan mendalam.

Tradisi ini juga bisa dilihat sebagai cara “menyebarkan” garis keturunan dan memastikan keberlangsungan komunitas. Di wilayah dengan populasi kecil dan risiko kematian tinggi akibat cuaca ekstrem, peluang memiliki keturunan dianggap penting.



Menariknya, praktik ini sering dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak. Istri bukan objek pasif—ia memiliki hak untuk menolak jika tidak setuju. Dalam banyak cerita lisan, para perempuan Eskimo justru memiliki suara kuat dalam menentukan siapa yang boleh menjadi “tamu istimewa”.

Perspektif Modern: Perubahan dan Tantangan

Seiring masuknya agama, pendidikan, dan pengaruh budaya luar, banyak komunitas Inuit mulai meninggalkan tradisi ini. Nilai moral baru yang dibawa oleh misionaris Kristen atau pemerintahan modern sering kali menganggap praktik ini sebagai tindakan yang tidak pantas atau bertentangan dengan norma keluarga.



Generasi muda yang tumbuh dengan media dan pendidikan global cenderung memandang tradisi ini sebagai bagian dari masa lalu. Meski demikian, sebagian orang tua masih melihatnya sebagai warisan budaya yang tak semestinya dihapus begitu saja.

Antara Kontroversi dan Pemahaman Budaya



Bagi masyarakat luar, tradisi “berbagi istri” sering kali disalahpahami. Tanpa memahami konteks sejarah, geografis, dan sosialnya, mudah bagi orang untuk langsung memberi label negatif. Padahal, dalam banyak kasus, kebiasaan ini lahir dari kebutuhan mendasar untuk bertahan hidup di lingkungan yang mematikan.



Di sisi lain, pergeseran nilai membuat sebagian orang dalam komunitas itu sendiri mulai mempertanyakan relevansi tradisi ini di era modern. Apakah praktik tersebut masih diperlukan ketika komunikasi, transportasi, dan sumber daya sudah jauh lebih baik?

Pelajaran dari Kutub Utara



Tradisi “berbagi istri” mengajarkan kita bahwa nilai dan norma tidak selalu universal. Apa yang dianggap tabu di satu budaya bisa jadi merupakan bentuk kasih sayang atau strategi bertahan hidup di budaya lain.

Lebih dari sekadar kontroversi, kisah ini menggambarkan betapa fleksibelnya manusia dalam beradaptasi. Suku Eskimo tidak hanya berjuang melawan dinginnya alam, tetapi juga menemukan cara untuk menjaga “kehangatan” di tengah kehidupan yang keras.




Menyelami budaya suku Eskimo membuka mata kita pada realitas bahwa setiap tradisi memiliki akar sejarah dan alasan keberadaannya. “Berbagi istri” mungkin terdengar asing atau bahkan tidak masuk akal bagi sebagian orang, namun di baliknya terdapat cerita tentang persaudaraan, kepercayaan, dan kelangsungan hidup.Di balik dingin yang membekukan Kutub Utara, ternyata ada kehangatan yang lahir dari tradisi, meski kini sebagian darinya mulai memudar di bawah arus zaman.

Catatan :

1. Text dibuat dengan bantuan Chat Gpt

2. Gambar fari google dan pinterest yang di edit oleh Chat gpt

 


Unconditional Love: Cinta Sejati atau Sekadar Mitos?"

 


Cinta adalah emosi paling kuat yang bisa dirasakan manusia. Tapi di antara berbagai jenis cinta, ada satu bentuk cinta yang sering dianggap paling murni dan tulus—unconditional love, atau cinta tanpa syarat. Cinta sejati.  Konsep ini seringkali terdengar idealis, bahkan sulit dicapai. Namun sebenarnya, unconditional love adalah bentuk cinta yang justru paling dibutuhkan dalam setiap hubungan, entah itu antara pasangan, orangtua dan anak, atau bahkan persahabatan sejati.


Apa Itu Unconditional Love?



Secara harfiah, unconditional love berarti mencintai tanpa syarat. Artinya, cinta ini tidak tergantung pada keadaan, perilaku, atau imbalan apa pun. Cinta ini tetap ada meskipun orang yang dicintai melakukan kesalahan, mengalami perubahan, atau tidak bisa memberikan timbal balik yang seimbang. Cinta semacam ini menerima seseorang apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.




Contoh paling nyata dari unconditional love sering terlihat dalam hubungan orangtua dan anak. Seorang ibu tetap mencintai anaknya meskipun sang anak membuat kesalahan, gagal dalam hidup, atau bahkan melukai hatinya. Cintanya tidak bergantung pada seberapa sukses atau “baik” anaknya, melainkan muncul dari keikhlasan dan naluri terdalam.


Unconditional Bukan Berarti Buta




Perlu diluruskan, unconditional love bukan berarti membiarkan diri disakiti terus-menerus. Mencintai tanpa syarat tidak berarti menoleransi perilaku buruk atau kekerasan dalam hubungan. Cinta semacam ini tetap bisa membatasi diri, tetap bisa berkata “tidak”, dan bahkan mengambil jarak jika diperlukan. Namun perasaan cinta itu sendiri tidak hilang—hanya cara mengekspresikannya yang berbeda.

Sebagai contoh, mencintai seseorang yang kecanduan atau terus-menerus menyakiti kita bukan berarti kita harus terus bertahan di situasi toksik. Kita bisa tetap mencintainya, sambil memilih menjauh demi menjaga kesehatan mental dan emosional kita sendiri.


Tanda-Tanda Unconditional Love



Bagaimana kita tahu apakah cinta yang kita rasakan (atau terima) adalah cinta tanpa syarat? Berikut beberapa ciri khasnya:

1.      Menerima sepenuh hati: Kita tidak mencoba mengubah seseorang menjadi versi yang kita inginkan. Kita mencintai mereka apa adanya, dengan semua kekurangan dan keunikan mereka.

2.      Tidak bersyarat: Tidak ada "jika-kamu-melakukan-ini-aku-akan-mencintaimu". Cinta ini tidak datang dengan syarat atau tuntutan.

3.      Empati tinggi: Kita bisa merasakan penderitaan, kebahagiaan, atau ketakutan pasangan, dan tetap hadir untuk mereka, bahkan di saat sulit.

4.      Memberi tanpa mengharapkan balasan: Kita rela memberi waktu, perhatian, atau kasih sayang tanpa mengharapkan imbalan.

5.      Memaafkan dengan tulus: Kesalahan bukan akhir dari cinta. Unconditional love memungkinkan kita memaafkan, selama itu sehat bagi kedua pihak.


Mengapa Cinta Tanpa Syarat Itu Penting?



Cinta yang penuh syarat seringkali melelahkan. Ketika kita merasa harus selalu memenuhi ekspektasi agar tetap dicintai, hubungan bisa menjadi penuh tekanan dan tidak otentik. Sebaliknya, unconditional love memberi rasa aman, nyaman, dan kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Hubungan semacam ini cenderung lebih tahan lama, karena fondasinya bukanlah performa atau keuntungan, melainkan kasih sayang yang murni.



Selain itu, ketika seseorang merasakan cinta tanpa syarat, ia cenderung lebih percaya diri, stabil secara emosional, dan mampu mencintai orang lain dengan lebih sehat.


Apakah Semua Orang Bisa Mencintai Tanpa Syarat?



Jawabannya: bisa, tapi butuh proses. Unconditional love bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Ia tumbuh lewat kedewasaan emosional, pengalaman hidup, dan kemampuan untuk memahami diri sendiri. Mencintai orang lain tanpa syarat juga berarti kita harus terlebih dahulu belajar mencintai diri sendiri secara utuh.



Mengenal lebih dekat unconditional love berarti memahami bahwa cinta sejati tidak bersyarat, tidak egois, dan tidak menuntut. Ini adalah bentuk cinta yang mampu menyembuhkan, menguatkan, dan membuat hubungan bertahan dalam jangka panjang. Meski tidak selalu mudah, tapi cinta seperti inilah yang layak diperjuangkan—bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk diri kita sendiri.

 

Catatan :
1. Naskah dibuat dengan bantuan Chat Gpt
2. Gambar dari pinteres dan diedit oleh Chat Gpt

Overthinking Saat Pacaran? Begini Cara Biar Nggak Bikin Drama Sendiri

 


Dalam sebuah hubungan, rasa cinta sering kali datang bersamaan dengan rasa takut kehilangan. Dari sanalah overthinking sering bermula. Saat pasangan telat bales chat, mendadak jadi dingin, atau tiba-tiba sibuk, otak langsung berputar liar membayangkan hal-hal buruk: “Jangan-jangan dia udah bosan?”, “Apa dia lagi deket sama yang lain?”, atau “Aku salah ngomong, ya?”




Overthinking seperti ini bisa berbahaya. Niat awalnya mungkin hanya mencari kepastian, tapi kalau dibiarkan, kamu bisa mulai bikin drama sendiri yang justru merusak hubungan yang sehat. Yuk, kenali penyebabnya dan simak cara jitu biar kamu nggak jadi korban pikiran sendiri!


Kenapa Kita Suka Overthinking Saat Pacaran?



1.      Trauma Hubungan Sebelumnya
Kalau kamu pernah diselingkuhi atau ditinggal tanpa alasan yang jelas, rasa percaya bisa jadi sulit dibangun kembali. Setiap gerak-gerik pasangan terasa mencurigakan meskipun sebenarnya biasa saja.

2.      Kurang Komunikasi
Hubungan tanpa komunikasi yang terbuka bikin ruang kosong di kepala kita. Dan ruang kosong itu cepat diisi oleh asumsi-asumsi negatif yang belum tentu benar.

3.      Rasa Tidak Pede
Saat kamu merasa kurang layak buat pasanganmu, kamu jadi mudah takut kehilangan. Setiap hal kecil bisa dianggap sebagai sinyal bahwa hubungan kalian di ujung tanduk.

4.      Kebiasaan Menganalisis Berlebihan
Beberapa orang punya kecenderungan untuk memikirkan segala kemungkinan, bahkan yang paling tidak masuk akal. Sayangnya, ini bisa memicu drama yang dibuat-buat sendiri.


Cara Biar Nggak Bikin Drama dari Pikiran Sendiri




1. Tahan Diri untuk Nggak Langsung Reaksi



Sebelum kamu baper karena chat nggak dibales, atau panik karena pasangan tampak cuek, coba tarik napas dulu. Jangan langsung menyimpulkan sesuatu tanpa bukti. Tahan jempolmu dari ngetik paragraf panjang yang sebenarnya cuma curahan ketakutanmu.


2. Fokus pada Fakta, Bukan Asumsi



Tanya ke diri sendiri, “Apa aku punya bukti kuat buat merasa kayak gini?” Kalau cuma berdasarkan perasaan atau asumsi, itu belum tentu valid. Fokuslah pada hal-hal nyata yang kamu lihat dan dengar langsung, bukan hanya tebakan.


3. Bangun Komunikasi yang Sehat



Daripada mendiamkan pasangan sambil berharap dia peka, lebih baik sampaikan perasaanmu dengan jujur dan tenang. Misalnya, “Aku kadang ngerasa cemas kalau kamu tiba-tiba berubah, tapi aku tahu itu mungkin cuma perasaanku aja.” Cara ini jauh lebih sehat daripada menyalahkan atau ngambek tanpa alasan jelas.

4. Jangan Takut Mengisi Waktu Sendiri



Overthinking sering datang saat kamu punya terlalu banyak waktu kosong. Maka penting untuk punya kesibukan dan kegiatan yang kamu nikmati sendiri, tanpa harus selalu menunggu perhatian dari pasangan.

5. Bangun Kepercayaan Diri



Semakin kamu merasa cukup dengan dirimu sendiri, semakin kecil kemungkinan kamu merasa cemas berlebihan dalam hubungan. Cintai dirimu, rawat harga dirimu, dan yakini bahwa kamu layak dicintai tanpa harus meragukan semuanya.


6. Kenali Pola Overthinking-mu



Apakah kamu sering memutar ulang percakapan? Apakah kamu terlalu banyak membaca pesan singkat dari pasangan? Sadari pola itu, dan latih dirimu untuk mengalihkan perhatian saat itu mulai muncul. Bisa dengan menulis jurnal, meditasi, atau ngobrol dengan teman.


7. Cari Bantuan Jika Perlu



Kalau overthinkingmu sudah sampai tahap mengganggu kesehatan mental, jangan ragu untuk cari bantuan profesional. Konselor atau psikolog bisa bantu kamu memahami akar kecemasanmu dan memberi strategi untuk mengatasinya.




Overthinking dalam pacaran adalah hal yang manusiawi. Tapi jika tidak dikelola, ia bisa menjadi racun yang merusak hubungan dan membuatmu tersiksa oleh pikiran sendiri. Kuncinya adalah belajar membedakan antara perasaan dan kenyataan, serta membangun komunikasi yang jujur dan terbuka. Ingat, hubungan yang sehat bukan yang bebas masalah, tapi yang bisa saling memahami dan tumbuh bersama—tanpa drama yang dibuat-buat oleh pikiran sendiri.


Catatan:

1. Naskah dibuat dengan bantuan CHAT GPT

2. Gambar dari pinterest dan diedit oleh CHAT GPT

Biar Awet Sampai Nikah: 7 Rahasia Hubungan Langgeng ala Pasangan Zaman Now

 


Menjalin hubungan cinta di zaman sekarang tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari godaan media sosial, kesibukan masing-masing, hingga perbedaan pola pikir. Tak heran jika banyak pasangan muda yang kandas di tengah jalan. Namun, tak sedikit juga yang berhasil menjaga hubungan tetap langgeng hingga ke pelaminan. Apa rahasia mereka?

Berikut ini 7 rahasia hubungan langgeng ala pasangan zaman now yang patut kamu coba:


1. Komunikasi Tanpa Drama



Komunikasi adalah fondasi utama dalam hubungan. Tapi bukan sekadar chatting setiap hari atau video call tiap malam. Pasangan yang langgeng tahu cara bicara to the point, jujur, dan tidak memendam perasaan. Kalau ada yang bikin kesal, langsung diomongin baik-baik. Hindari drama berlebihan, karena hubungan yang sehat butuh kedewasaan, bukan sinetron.


2. Saling Percaya, Bukan Saling Curiga



Rasa percaya adalah kunci. Hubungan yang terus-menerus dihantui rasa curiga akan cepat lelah. Pasangan zaman now yang langgeng belajar untuk memberikan ruang satu sama lain. Mereka tahu bahwa mencintai bukan berarti harus mengontrol. Mereka percaya bahwa kepercayaan yang dibangun dari awal akan menjadi tameng dari godaan luar.


3. Punya Visi yang Sama



Hubungan yang cuma didasari cinta tanpa arah akan mudah goyah. Pasangan yang awet biasanya punya visi jangka panjang—mau dibawa ke mana hubungan ini? Mereka bicara soal masa depan, karier, keuangan, bahkan pernikahan. Meski belum tentu semua bisa diwujudkan sekarang, setidaknya mereka punya tujuan yang selaras.


4. Saling Mendukung, Bukan Menuntut



Pasangan sehat adalah mereka yang tumbuh bersama. Saat si dia punya mimpi besar, pasangannya tidak malah iri atau menghalangi, tapi justru jadi penyemangat. Bukan saling menuntut sempurna, melainkan saling melengkapi kekurangan. Inilah alasan banyak pasangan sukses secara karier maupun emosional, karena mereka jadi tim yang solid.


5. Tetap Jadi Diri Sendiri



Dalam hubungan yang langgeng, masing-masing tetap bisa jadi dirinya sendiri. Mereka tidak perlu pura-pura suka bola, drama Korea, atau makanan pedas hanya demi menyenangkan pasangan. Justru kejujuran dan kenyamanan saat menjadi diri sendiri yang membuat hubungan itu terasa "rumah".


6. Tidak Mengumbar Masalah ke Publik



Pasangan zaman now sadar betul bahwa hubungan sehat tak harus diumbar ke media sosial. Apalagi soal pertengkaran. Mereka memilih menyelesaikan masalah secara privat, tanpa melibatkan pihak ketiga apalagi netizen. Hubungan yang awet dibangun bukan dari validasi orang lain, tapi dari kualitas komunikasi dan penyelesaian konflik internal.


7. Punya Waktu Berkualitas, Bukan Hanya Sekedar Ketemu



Bertemu setiap hari tapi cuma main HP masing-masing bukanlah quality time. Pasangan yang langgeng tahu cara menikmati kebersamaan. Entah itu dengan ngobrol dari hati ke hati, memasak bareng, atau sekadar nonton film tanpa gangguan. Waktu yang berkualitas memperkuat koneksi emosional yang tidak bisa digantikan oleh gift atau kata-kata manis saja.


 

Menjaga hubungan tetap awet sampai ke jenjang pernikahan memang bukan perkara mudah. Tapi dengan komunikasi yang sehat, saling percaya, dukungan tulus, dan komitmen bersama, semua tantangan bisa dilalui. Jadi, jika kamu sedang menjalin hubungan dan ingin bertahan lama, mulai terapkan 7 rahasia di atas. Ingat, cinta yang langgeng bukan tentang seberapa sering kalian update status berdua, tapi seberapa kuat kalian bisa bertahan ketika badai datang. Selamat mencoba!

 Catatan :

1. Naskah dibuat dengan bantuan CHAT GPT

2. Gambar dari Pinterest diedit oleh Chat Gpt

Rojali & Rohana: Hidup Mewah Penuh Utang, Konspirasi di Balik Gaya Hidup Palsu?

 


Fenomena Rojali dan Rohana kini ramai menghiasi media sosial. Mereka adalah simbol dari gaya hidup generasi muda masa kini—selalu tampil mewah, fashionable, dan terlihat bahagia. Feed mereka dipenuhi foto liburan ke luar negeri, secangkir kopi seharga ratusan ribu rupiah, hingga koleksi outfit branded yang tak kalah dari para selebritas. Tapi benarkah semua itu nyata?




Di balik potret glamor yang dipamerkan, tersimpan sisi gelap yang jarang terungkap ke publik. Banyak dari mereka yang sebenarnya terjebak dalam lingkaran utang digital. Mulai dari paylater, pinjaman online, hingga kartu kredit, digunakan untuk membiayai gaya hidup yang sebenarnya tak mereka sanggupi. Bukan karena kebutuhan, tapi karena tuntutan eksistensi dan tekanan sosial untuk selalu tampil “wah”.



Fenomena ini bukan hanya soal individu. Ini adalah gambaran nyata bagaimana budaya konsumtif telah menjebak generasi muda dalam perangkap gaya hidup palsu. Platform media sosial menjadi panggung utama. Algoritma bekerja dengan kejam, menampilkan konten-konten hedonis, membentuk persepsi bahwa kebahagiaan dan kesuksesan adalah tentang seberapa mewah penampilanmu.

Tekanan untuk mengikuti tren inilah yang akhirnya mendorong banyak orang melakukan hal-hal di luar kemampuan finansialnya. Tak sedikit yang berbohong demi konten. Meminjam barang branded hanya untuk foto, mengedit lokasi agar seolah sedang di luar negeri, atau bahkan ikut arisan bodong dan

 investasi tipu-tipu demi meraih “lifestyle instan”.




Namun, belakangan ini muncul teori konspirasi yang menyita perhatian. Beberapa warganet menduga bahwa fenomena Rojali dan Rohana bukanlah sekadar tren sosial biasa. Ada yang menyebut ini sebagai upaya sistematis untuk mengalihkan perhatian publik dari kondisi ekonomi yang sesungguhnya. Masyarakat digiring untuk sibuk mengejar gengsi, sementara angka inflasi merayap diam-diam.

Teori lain menyebut bahwa fenomena ini adalah bagian dari eksperimen sosial terselubung. Bahwa perilaku konsumtif dan kecanduan pengakuan di media sosial tengah diamati—bahkan mungkin dimanfaatkan—oleh entitas tertentu, baik korporasi maupun lembaga kekuasaan. Semakin banyak orang yang terjebak dalam utang konsumtif, semakin mudah mereka dikendalikan.




Meski terdengar seperti cerita fiksi, kenyataannya banyak anak muda yang kini mengalami krisis keuangan personal. Bukan karena penghasilan yang kecil, tapi karena gaya hidup yang besar. Ironisnya, krisis ini tersembunyi di balik senyum bahagia di Instagram dan TikTok.

Pertanyaannya: siapa sebenarnya Rojali dan Rohana? Apakah mereka benar-benar ada? Atau mereka hanyalah representasi dari kita semua—yang pernah, sedang, atau bahkan tanpa sadar ikut memainkan peran dalam drama konsumtif ini?



Mungkin, kita pernah membeli barang bukan karena butuh, tapi karena ingin diakui. Mungkin, kita pernah merasa malu tampil sederhana di depan kamera. Dan mungkin juga, kita sedang berjalan di jalan yang sama dengan mereka: membangun citra palsu, demi validasi yang semu.

Fenomena ini adalah cermin. Ia memaksa kita melihat lebih dalam: apakah kita masih hidup sesuai nilai, atau sudah dikendalikan oleh algoritma dan ilusi digital?




Kini saatnya untuk sadar. Bahwa kebahagiaan sejati tak bisa dibeli dengan cicilan. Bahwa eksistensi tak harus dibuktikan lewat barang mewah. Dan bahwa hidup bukanlah lomba pamer, tapi perjalanan mengenal diri sendiri. Rojali dan Rohana mungkin akan terus viral. Tapi kita punya pilihan: menjadi penonton, pengikut, atau justru memutus rantai palsu ini, dan mulai hidup dengan jujur pada diri sendiri.

 Catatan :

1. Tulisan dibuat dengan bantuan Chat GPT

2. Gambar dibuat oleh SORA AI, Bing.com