Seorang teman pernah menulis di status Facebooknya:
Tidak ada uang Stress,
Kemudian
kerja banting tulang dapat uang.
Karena punya uang pergi healing,
Pulangnya uang habis stress datang lagi
Akhir-akhir ini, kata healing sudah naik level. Ia tak lagi
sekadar proses pemulihan batin, tapi sudah menjadi acara liburan resmi.
Rasanya, setiap kali hidup mulai terasa berat—kerjaan numpuk, chat bos bikin
jantung deg-degan, atau saldo rekening tinggal kenangan—solusinya cuma satu:
healing.
Biasanya dimulai dengan postingan Instagram story. Foto koper di lantai,
caption-nya singkat tapi sarat makna: “Butuh healing.” Sebenarnya yang
dibutuhkan sering kali bukan pemulihan jiwa, tapi istirahat dari rutinitas yang
itu-itu saja. Namun ya sudahlah, healing terdengar lebih keren daripada “capek
dan pengin liburan”.
Masalahnya, healing versi kita sering kali cuma memindahkan stres dari
satu tempat ke tempat lain. Dari kantor ke bandara. Dari macet Jakarta ke macet
menuju tempat wisata. Dari tekanan deadline ke tekanan itinerary.
Di tempat kerja, stresnya soal kerjaan. Saat healing, stresnya soal
jadwal. Bangun pagi bukan lagi karena alarm kerja, tapi karena harus ngejar
sunrise. Makan bukan karena lapar, tapi karena restoran itu “wajib dicoba”
menurut TikTok. Pulang-pulang, bukannya tenang, malah capek plus bonus foto
yang belum diedit.
Ditambah lagi soal biaya. Healing katanya untuk kesehatan mental, tapi
setelah pulang malah stres mikirin tagihan kartu kredit. Jiwa belum tentu
sembuh, dompet sudah pasti luka dalam. Ironisnya, kita sering menyangkal itu
semua dengan kalimat sakti: “Nggak apa-apa, yang penting healing.”
Sebenarnya kalau jujur, yang kita cari sering kali bukan healing, tapi kabur
dan kesuntukan pikiran. Kita ingin terbebas sebentar dari masalah, berharap
masalahnya ikut ketinggalan. Sayangnya, masalah itu setia. Ia ikut masuk koper,
duduk manis di kursi pesawat, dan menyapa lagi saat kita buka HP.
Healing juga sering diartikan sebagai harus pergi jauh. Ke pantai,
gunung, atau minimal coffee shop yang namanya susah dieja. Seakan-akan
ketenangan batin hanya bisa dijumpai kalau sinyal susah dan harga kopi mahal.
Padahal, banyak orang lupa bahwa stres itu bukan cuma soal lokasi, tapi soal pikiran.
Kamu bisa saja duduk di tepi danau paling indah sedunia, tapi kalau
sepanjang waktu mikirin kerjaan, mantan, atau cicilan, ya tetap saja stres.
Pemandangannya indah, tapi pikiranmu tetap penuh.
Yang lebih lucu, healing sekarang juga jadi ajang pembuktian sosial.
Kalau healing tapi nggak diposting, rasanya seperti belum sah. Maka timbullah
kewajiban baru: harus terlihat bahagia. Senyum di foto, walau sebenarnya capek.
Menulis caption bijak, walau isi kepala masih ruwet.
Akhirnya, healing malah jadi persoalan baru. Harus bahagia. Harus
estetik. Harus kelihatan damai. Padahal damai itu justru hilang karena terlalu
sibuk membuktikan bahwa kita sedang damai.
Mungkin yang kita butuhkan sebenarnya bukan healing ala travel agent,
tapi jeda yang jujur. Berani mengaku capek tanpa harus ke mana-mana. Tidur
cukup tanpa rasa bersalah. Menolak ajakan nongkrong karena ingin sendiri, bukan
karena sok sibuk.
Healing juga bisa sesederhana mematikan notifikasi, bukan memesan tiket.
Bisa berupa ngobrol tanpa topik produktif, atau diam tanpa harus merasa tidak
berguna. Bisa juga dengan menerima bahwa hidup memang kadang melelahkan, dan
itu normal.
Tidak berarti liburan itu salah. Liburan tetap membahagiakan dan perlu.
Tapi kalau setiap stres harus diselesaikan dengan pindah lokasi, mungkin
masalahnya bukan pada tempat, melainkan pada cara kita menyesuaikan diri dengan
hidup.
Oleh karena itu, lain kali waktu
merasa butuh healing, coba tanya diri sendiri: aku ingin benar-benar pulih,
atau cuma ingin lari sebentar? Kalau jawabannya yang kedua, tak apa. Kita
manusia. Tapi jangan kaget kalau pulang-pulang, stresnya masih ada—hanya saja
sudah pernah ikut foto di pantai.





No comments:
Post a Comment