Why can’t
we be like storybook children
Running
through the rain hand in hand across the meadow
Why can’t
we be like storybook children
In a
wonderland where nothing planned for tomorrow
(Sandra and Andreas)
Disaat kita masih kanak-kanak, kita sering membayangkan
menjadi dewasa itu menyenangkan. Bebas dan merdeka. Bisa bebas memilih, bebas pergi, bebas
menentukan hidup sendiri. Dewasa dibayangkan sebagai masa di mana semua masalah
bisa diselesaikan dengan logika dan uang. Tidak ada lagi drama sepele, tidak
ada lagi tangisan tanpa alasan. Pokoknya, hidup terasa rapi dan menyenangkan.
Namun
kenyataan rupanya jauh berbeda. Setelah
benar-benar dewasa, yang tersusun rapi dan jelas itu adalah kewajiban dan
tanggungjawab. Ditambah lagi desakan jadwal
kerja dan tagihan bulanan. Hidupnya sendiri sering berantakan, tapi tidak boleh
kelihatan. Kita belajar satu hal penting: orang dewasa jarang menangis
keras-keras. Mereka lebih sering diam sambil tersenyum tipis.
Dewasa
ternyata bukan tentang hidup yang semakin asyik dan lucu. Justru sebaliknya,
hidup makin sering terasa membingungkan, aneh dan konyol. Tiada hari tanpa
masalah, kadang tanpa jeda. Soal kerja, keluarga, hubungan, dan masa depan
bercampur jadi satu. Yang bikin letih bukan cuma bebannya, tapi tuntutan untuk
tetap terlihat baik-baik saja, tidak boleh mengeluh.
Di titik
ini, tertawa berubah fungsi. Bukan lagi karena bahagia, tapi karena ingin
bertahan. Kita tertawa di tengah obrolan kantor yang melelahkan. Tertawa saat
nongkrong meski dompet tipis. Tertawa saat ditanya, “Kapan nikah?” padahal isi
kepala penuh kebingungan. Tawa jadi semacam mekanisme pertahanan diri.
Lucunya,
masyarakat sering menganggap orang dewasa itu kuat karena jarang mengeluh. Sebebarnya,
bisa jadi mereka hanya sudah kehabisan tenaga untuk menjelaskan perasaannya.
Mengeluh dianggap kekanak-kanakan. Sedih dianggap kurang bersyukur. Akhirnya,
banyak orang dewasa memilih bercanda tentang hidupnya sendiri, seolah semua
baik-baik saja.
Menjadi
dewasa juga berarti belajar menerima bahwa tidak semua hal berjalan sesuai
rencana. Mimpi yang dulu terasa dekat, perlahan menjauh. Beberapa keinginan
harus ditunda, sebagian lain terpaksa dikubur. Kita belajar berkompromi, bukan
karena tidak punya mimpi, tapi karena realitas sering kali lebih keras dari
motivasi.
Yang
jarang diomongkan, kedewasaan juga soal kehilangan. Kehilangan waktu
luang, kehilangan spontanitas, bahkan kehilangan beberapa versi diri sendiri.
Teman-teman mulai sibuk dengan hidup masing-masing. Obrolan panjang diganti
chat singkat. Pertemuan harus dijadwalkan, bukan lagi dadakan. Dan kita belajar
menertawakan jarak itu, meski sebenarnya rindu.
Di tengah
semua itu, tertawa bukan tanda menyerah. Justru sebaliknya, itu tanda kita
masih berusaha hidup. Tertawa kecil di sela-sela kesulitan adalah bentuk
perlawanan paling sederhana. Kita mungkin tidak bisa mengubah keadaan, tapi
kita masih punya kendali atas cara meresponsnya.
Menjadi
dewasa bukan tentang selalu kuat, tapi tentang tahu kapan harus santai. Tentang
menerima bahwa hidup tidak selalu adil, tapi tetap layak dijalani. Tentang
memahami bahwa bahagia bukan kondisi permanen, melainkan momen-momen kecil yang
sering datang tanpa permisi.
Maka,
jika hari ini hidup terasa nggak lucu, tidak apa-apa. Tidak perlu pura-pura
baik-baik saja sepanjang waktu. Tertawalah kalau memang mampu, diamlah kalau
memang lelah. Dewasa bukan soal selalu tegar, tapi tentang jujur pada diri
sendiri. Karena pada akhirnya, menjadi dewasa itu bukan belajar menghilangkan
masalah. Melainkan belajar tertawa—pelan-pelan—di tengah hidup yang sering kali
lupa caranya bercanda.
Dan akhirnya kita menyadari kebenaran dari
lengkingan Sandra and Andress dalam lagunya Storybook children, bahwa yang
paling menyenangkan itu waktu kanak-kanak kita bebas dan meredeka. Bebas berlari-lari
di tengah hujan bahkan tanpa pakaian sekalipun. Dan tidak ada yang Namanya stress, karena kita tidak perlu punya
perencanaan untuk hari esok.











No comments:
Post a Comment